Ayah Anakku Kakak Kekasihku

Ayah Anakku Kakak Kekasihku
Bab 38


__ADS_3

Benar saja, Prasetya tak mampu lagi memejamkan matanya, ia berharap hari akan segera cepat pagi, ia seakan tak sabar untuk bertemu dengan Sabrina.


Padahal baru malam kemarin ia mengejek dan menyakiti hati Sabrina lagi.


Pagi ini, Prasetya benar benar ingin merubah segalanya, ia kembali membuka kertas putih yang pernah diterimanya dari Arsen, ia membukanya untuk lebih meyakinkan dirinya bahwa Sabrina benar tidak bersalah.


"Ah, persetan dengan surat atau yang lainnya, aku tahu apa yang aku inginkan, aku begitu mencintai Sabrina, aku tak mempermasalahkan lagi apapun tentang dirinya, aku akan memperbaiki semua, aku ingin keluarga ku berkumpul kembali seperti dulu." Niat Prasetya dalam hati.


Prasetya masuk kekamar Papa nya, ia melihat papa nya masih terlelap, ia begitu menyayangi Papa nya itu, sehingga ia sangat sedih menyaksikannya tidak berdaya seperti itu.


Papanya yang selalu menyayangi keluarga, yang tak pernah berpikir untuk berumah tangga lagi semenjak Mama nya meninggal, ia adalah sosok Papa yang setia, makanya ia sangat marah melihat Prasetya mengusir Sabrina dari rumah mereka.


Memang benar, penyesalan itu datangnya dikemudian hari, Prasetya baru merasakan apa yang dikatakan oleh Papa nya.


Perihal Sabrina, Prasetya menyesal telah menyalahkan Sabrina, padahal ia tahu sejak dulu Sabrina adalah seorang gadis yang begitu setia.


" Mungkin aku terlalu bodoh, seharusnya aku tak melakukan semua itu padamu, padahal aku tahu kau orang yang tulus, padahal aku tahu seberapa besar cintamu padaku." Sesal Prasetya lagi.


Saat Papa nya membuka matanya, Prasetya tersenyum menatap wajah tua yang terlihat lelah itu, wajah yang selalu memberikan kesan perlindungannya pada anak anaknya.


"Pagi Pa ... apa Papa baik baik saja?" pak Abraham hanya bisa mengangguk.


Prasetya mengambil air hangat kuku untuk menghapus wajah ayahnya, itu selalu rutin dilakukan setiap pagi, agar Papa nya tampak kelihatan segar, sebelum akhirnya ia mandi sebentar lagi.


"Coba Papa lihat, aku sudah mandi, apa Papa tahu aku mau kemana?"


Lagi lagi pak Abraham hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Aku mau bertemu menantu Papa, doakan agar aku bisa membawanya pulang, ya?"


Pak Abraham tersenyum kemudian mengangguk pertanda ia suka mendengarkan penjelasan Prasetya.


Prasetya membawa Papa nya keluar rumah, mengelilingi seluruh halaman rumahnya yang tampak luas, nampak indah sejauh mata memandang, karena rumah itu telah asri dengan tanam tanaman, baik yang hijau maupun yang berbunga, semua itu Sabrina yang telah merawat dan menatanya.


"Apa Papa merasakan kesegaran tersendiri disini?" Prasetya terus saja bicara meski hanya mendapatkan respon anggukan dan senyuman saja.


"Sejak Sabrina pergi, sebenarnya aku sadar, jika rumah ini sepi, tapi karena kecemburuan ku, aku seakan mengabaikan perasaan itu, tapi lama-lama aku tak tahan dengan kerinduan ini, apakah Papa dulu juga seperti itu sama Mama, jika Papa bertengkar?"


Lagi lagi sebuah anggukan yang diperlihatkan oleh Papa nya.


"Aku nanti akan mengambil bunga segar ini, dan aku akan memberikannya pada Sabrina, aku akan bilang jika aku telah merawat bunga tanamannya seperti aku merawat cintanya dihatiku."


Kali ini Prasetya seakan hanya bicara pada dirinya sendiri.


Pak Abraham mengajak Prasetya masuk dengan menggerak-gerakkan kakinya, Prasetya menatap Papa nya.


"Ada apa, apa Papa mau masuk?"

__ADS_1


Pak Abraham mengangguk.


"Ya, kita masuk, Papa capek ya?"


Kali ini Pak Abraham menggeleng.


Prasetya mengajak Papa nya kembali kedalam kamarnya, dengan instruksi yang sangat payah, akhirnya Prasetya mengerti jika Papa nya ingin menunjukkan sesuatu.


Prasetya membuka sebuah laci, ia menemukan sekotak perhiasan disana, Prasetya pun mengambilnya.


"Ini?" kata Prasetya sambil menunjukkan kotak perhiasan itu.


"Ini untuk Sabrina?" Papa nya menggeleng.


"Untuk Kaila?"


Dengan kembali tersenyum pak Abraham mengangguk puas. Prasetya juga tersenyum. Ia sadar jika Papa nya sangat menyayangi cucunya itu, karena memang Kaila adalah darah dagingnya juga.


"Ya aku akan memberikannya pada Kaila, Papa tenang saja, aku pastikan Kaila akan senang menerimanya, aku juga akan berusaha untuk membawanya kesini, Papa rindu bukan?"


Hari sudah menunjukkan pukul delapan pagi, suster Rina yang kembali bekerja dirumah itu sejak pak Abraham jatuh stroke, menyiapkan air hangat untuk mandi pak Abraham.


Prasetya bersiap memandikan Papa nya.


Selama proses mandi, Prasetya selalu memperlakukan Papa nya dengan begitu baik, ia tak pernah sekalipun mengecewakan Papa nya itu.


Sama dengan Sabrina, hari ini adalah hari pertama ia membuka butik nya, ia sangat bersemangat, ditambah hari ini ia akan bertemu dengan Prasetya, suami yang begitu dirindukannya.


Dengan modal kecil kecilan Sabrina membuka butik itu, ya hanya mencoba peruntungan, ia tak mau bermimpi terlalu besar untuk memulai usaha itu, dengan menggunakan sebagian uang tabungannya, dan sebagian pemberian Papa mertuanya.


Dihari pertama, butik itu sangat ramai, tentu saja hati Sabrina sangat bahagia. Ia mengajak Ananta untuk menjalani usaha nya itu, karena ia yakin akan kejujuran teman barunya itu. Sedangkan masalah anak anaknya, Sabrina mempekerjakan baby sister.


Tak terasa, siang telah tiba, waktu yang ditunggu-tunggu oleh Prasetya dan Sabrina.


Prasetya mengemudikan mobilnya dengan begitu semangat, ia bahkan tiba lebih dulu dibandingkan Sabrina. Sedangkan Sabrina datang setelah sepuluh menit kemudian.


Prasetya langsung berdiri menyambut kedatangan Sabrina, dengan memakai busana muslim warna toska, Sabrina benar benar kelihatan sangat cantik, kulitnya yang putih bersih, menambah kecantikannya.


Prasetya sempat membuka mulutnya saking terkagum melihat keanggunan istrinya itu.


"Assalamualaikum ya istriku?" ucap Prasetya sambil menyerahkan seikat bunga yang telah disusun demikian indah oleh Prasetya, sangat segar dan memberikan aroma wangi yang khas.


"Wa'alaikumsalamm, sudah lama Mas?" mengambil bunga itu, kemudian meletakkan nya kembali, tidak mencium nya jika Prasetya memberinya bunga seperti biasanya.


"Aku ... lumayan lama, sepuluh menitan lah."


"Maaf sudah menunggu." Kata Sabrina terkesan dingin.

__ADS_1


"Bri ... apa kita tak bisa santai seperti biasanya, aku sangat tegang!" kata Prasetya langsung menggenggam tangan Sabrina setelah duduk. Sabrina tak melepaskan tangannya, tapi ia juga tak membalas genggaman itu.


"Aku kira kau akan terus mengejekku lagi, aku kira kau tidak bisa lagi duduk berdua bersamaku, apakah kau sudah berubah pikiran?"


"Maaf, mungkin aku terbawa kecemburuan ku padamu, aku benar-benar minta maaf, aku akan kita memperbaiki semuanya."


"Tergantung!"


"Maksudmu?"


"Sudah sekian bulan kita tak bertemu, kita selalu bertengkar, aku tak mau kau menghina aku lagi, bagaimanapun aku punya harga diri." Sabrina berusaha bersikap tegas agar Prasetya tidak perlakukan dirinya dengan semena-mena lagi.


"Sayang ... aku janji, aku akan menjaga keutuhan rumah tangga kita, aku akan merubah sikap ku, aku menyesali nya."


"Sebenarnya aku masih sakit mengingat semua perlakuan mu padaku, tuduhan mu yang demikian kejam, selain menyakiti aku, aku juga merasa kecewa."


Prasetya terbayang kembali saat dirinya menyiram air satu gelas saat Sabrina memohon maaf padanya. Ia menunduk, ia tadi membayangkan akan langsung memperlakukan Sabrina dengan mesra, tapi akhirnya ia sadar jika perbuatan nya pada istrinya itu memang sangat menyakitkan.


"Kenapa diam?"


"Aku sadar aku salah!"


"Aku juga sadar, gelas yang telah retak akan sangat sulit untuk dikembalikan kebentuk semula, bahkan lebih mudah untuk dihancurkan."


"Apakah kata katamu berarti kau menolak untuk kembali bersamaku?"


"Aku tidak menolak, tapi aku juga tidak mengiyakan, aku perlu waktu untuk memikirkan semuanya."


"Sampai kapan, Bri?"


"Sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan!"


"Bri ... kumohon, kembali lah kerumah, rumah itu sepi tanpamu, aku kesepian, Papa juga ingin kau kembali, apa kamu tahu Papa saat ini sedang stroke?"


"Aku tahu, aku melihat segalanya."


"Lalu kapan kau akan kembali!"


"Aku tak tahu pasti, yang jelas tidak untuk saat ini."


"Kumohon, setidaknya lihatlah keadaan Papa."


"Jangan khawatir, aku akan datang untuk Papa."


"Bawa juga Kaila, Papa juga ingin bertemu dengannya." Kata Prasetya pasrah.


Semangat yang tadi begitu menggebu, akhirnya berbuah kecewa. Ia sadar tak mudah menerima rasa sakit yang telah ia berikan itu, rasa sakit karena telah beberapa kali ia menghina Sabrina.

__ADS_1


__ADS_2