Ayah Anakku Kakak Kekasihku

Ayah Anakku Kakak Kekasihku
Bab 43


__ADS_3

"Aku akan menagih janji, aku pingin tahu masalah butik kamu, aku akan ikut kamu hari ini." Tagih Prasetya saat selesai sarapan.


"Apa Mas tak kerja?"


"Apa kamu lupa hari ini adalah hari Minggu?"


"Oh ya, aku lupa, akupun rasanya tak ingin ke butik."


"Kenapa, apa kau tak ingin aku tahu, atau ... tempat kita bertemu kemaren?" Sabrina tersenyum lalu mengangguk, seperti kebiasaannya jika membenarkan sesuatu.


"Nah, kebetulan, kita lihat lihat keadaan kantor mu!"


"Kantor ku, maksudmu apa Mas?"


"Kan kantor Mas Arsen sudah menjadi milikmu, dan saat ini masih dijalankan oleh orang kepercayaan Mas Arsen sendiri."


"Ini hari Minggu, Mas ...."


"Oh ya, jadi gimana dong?"


"Aku dirumah saja, Mas cepat balik gih, kasihan Papa, Mas tinggal semalaman."


"Aku ingin kau ikut."


"Tapi untuk saat ini, aku belum bisa, aku akan pergi ke butik dulu, ada keperluan sedikit."


"Aku antar ya?"


"Nggak usahlah!"


"Kalau gitu aku tak mau pulang!"


"Ya, ya, Mas boleh ngantar aku!"


"Begitu dong ...." Kata prasetya sambil meninggalkan kecupan di pucuk kepala Sabrina.


Kaila tampak main dengan Naila, sehingga tak memperhatikan Papa dan Mama nya.


"Cepatlah, siap siap sana, aku tunggu!"


"Ya!"


Sabrina melangkah menuju kamarnya, ia mengambil pakaiannya, tak tahu tiba tiba Prasetya sudah ada di sampingnya saja, ia menatap Sabrina lekat, kemudian mendekati nya dan mengelus lembut perut Sabrina yang mulai membesar itu.


"Seharusnya kau tak usah kerja, sayang ...."


"Aku sudah terlanjur membukanya, jadi sayang jika aku tidak melanjutkannya, sudah banyak pelanggan yang datang."


"Ya sudah ... yang penting kamu jangan sampai kecapekan, kasihan bayi kita."


"Oh ya Mas, aku hari ini ada jadwal ke dokter, waktunya memeriksakan kandungan ku."


"Benarkah?"


"Iya, apa Mas mau ngantar aku?"


"Ya pasti dong sayang ...."


"Ya udah kalau gitu, aku pakai baju dulu, Mas tunggu diluar aja kenapa?"


"Kalau aku tunggu kamu disini kenapa, apa nggak boleh?"


"Kalau Mas disini, tambah lama, Mas ngrecokin aja."


"Kan udah lama aku tak dekat dengan mu, masak tidak boleh sih?"


"Oke, aku akan selalu mengalah padamu."

__ADS_1


Sabrina memakai gaun berwarna merah muda berbunga, dipadu dengan hijab senada, membuat Prasetya semakin terpaku.


"Hari ini saja kita kerumah, Bri ...."


"Ah, aku akan datang kesana, aku akan memberikan kejutan padamu."


"Apa semua itu perlu?"


"Masalah perlu atau tidak itu urusan nanti."


keduanya akhirnya keluar dari kamar, ia menemui Kaila dan berpamitan untuk pergi meninggalkan nya, bersama pengasuhnya.


"Kaila dirumah baik baik saja, ya ...."


"Iya Mama, Mama cepat pulang ya ...."


"Iya sayang ...."


Sebuah kecupan lembut akhirnya menyentuh pipi gadis kecil itu, begitu pula Prasetya, ia mencium Kaila dengan penuh rasa kasih sayang.


"Papa pergi dulu ya, Kaila jangan nakal!"


"Oke, Papa!"


prasetya dan Sabrina berjalan beriringan menyusuri gang yang lumayan jauh itu, walaupun sekitar lima menit mereka melalui nya.


Masih tampak mobil Prasetya ditempatnya semalam, memang disana ada tempat penitipan kendaraan.


Prasetya membukakan pintu mobilnya dengan begitu santai dan mempersilahkan Sabrina untuk naik, tapi belum sempat Sabrina masuk kedalam nya, Prasetya justru sudah mengangkatnya.


Prasetya sangat kelihatan memanjakan istrinya.


"Aku tak mau terlalu di manjakan, Mas ...."


"Lalu, jika aku tak memanjakan kamu, aku akan memanjakan siapa?"


Prasetya berlari kecil disisi sebelahnya, ia kemudian masuk dalam mobilnya itu dan tanpa menunggu lama, mobil itupun sudah melesat meninggalkan tempat itu.


Diperjalanan, Prasetya sama sekali tidak melepaskan tangannya, ia membawa Sabrina dalam pelukannya, betapa tampak kebahagiaan mereka, dan Prasetya mengemudi hanya menggunakan satu tangan nya saja.


"Yang konsen, nanti celaka!"


"Aku juga konsen, kan jalan disini tidak ramai, apa salahnya aku memanjakan istriku?"


"Mas ... kenapa sih jika di kasih tahu kau pasti saja menjawab?"


"Iya ya, aku kok lupa, maaf sayang ...."


"Lepaskan, lihat ke depan, aku tak mau terjadi sesuatu."


"Baiklah!"


Prasetya menuruti kata-kata Sabrina, ia berkosentrasi dengan mobilnya, sampai mereka tiba di butik yang mereka tuju.


Prasetya membukakan pintu untuk Sabrina, dan ia mengikuti Sabrina dari belakang, mengekor.


Sesampainya didalam, Ananta dan Azmi sudah ada disana, Prasetya sempat terkejut melihat keberadaan Azmi, kemudian sebelum sempat sampai ke dekat mereka, Prasetya menarik lirih Sabrina kearahnya.


"Ada apa, Mas?"


"Apa kau kenal dengan laki-laki yang bersama kakak itu?"


"Kak Ananta?"


"Iya, maksudku ... Kak Ananta."


"Itu Azmi, dia adalah orang yang menyuplai barang barang kebutuhan butik ini, apa Mas kenal?"

__ADS_1


"Ya, aku sangat mengenalnya, aku tak ingin kau dekat dengannya, dia orang yang sangat berbahaya, aku takut akan terjadi sesuatu padamu."


"Ah, menurutku, dia baik!"


"Sudahlah, aku akan ceritakan masalah dia lain kali, ayo masuk!"


Prasetya kembali masuk, ia dan Sabrina menemui mereka.


"Hai ... Azmi, kenalkan ini suamiku!"


"Hai, kau Prasetya, ternyata kau adalah suaminya, kenapa kau yang selalu beruntung dariku?"


"Apa maksudmu, Azmi?" tanya Ananta ketus.


"Oh tidak, aku cuma bercanda."


"Sudah lama tidak bertemu, Azmi!"


"Ya, kita bertemu dalam situasi yang sama."


Prasetya tersenyum, ia menangkap sebuah isyarat yang tak di mengerti.


"Tadi malam, bermalam dirumah Sabrina?" tanya Ananta sengaja mengompori Azmi.


"Iya, saya bermalam disana."


"Oke, aku permisi dulu, aku masih ada keperluan yang lain, semangat Bri ... hari ini pasti banyak pelanggan yang akan datang, ini hari Minggu bukan?" kata Azmi sambil menepuk bahu Sabrina, kemudian pergi dari tempat itu.


Prasetya tidak suka melihat sikap Azmi, kecemasan demi kecemasan melanda hatinya.


"Bisakah kau tak berhubungan dengan nya?"


"Mas cemburu?"


"Bukan, aku tidak cemburu, dia itu orang yang sangat berbahaya."


Prasetya ingin langsung menceritakan masalah Azmi, tapi Azmi kembali kehadapan mereka. Seakan ada yang tertinggal.


"Bri ... aku cuma mengingat kan, hari ini kiriman baju yang kita sepakati Minggu lalu akan datang nanti."


"Oh ya, aku akan mencek nya nanti!"


"Aku permisi!"


"Mari!"


Prasetya kehilangan kesempatan untuk menceritakan siapa Azmi, ia akhirnya diam, sambil memperhatikan Sabrina dengan perasaan takut.


"Ya Tuhan ... kenapa aku harus bertemu dengan Azmi lagi, kenapa aku harus berurusan dengan dia lagi?" keluh hati Prasetya.


"Mas ... mari kita pergi kerumah sakitnya, aku siap untuk pergi!"


"Apa urusanmu sudah selesai?"


"Sudah aman, Kak Ananta yang akan menghandle semuanya."


"Benarkah Kak?" tanya Prasetya.


Ananta hanya tersenyum dan mengangguk.


Prasetya bertemu keluarga Ananta saat mereka singgah dirumahnya, sama seperti Sabrina, Prasetya juga mudah menerima keluar Ananta, yang menurutnya Ananta sangat baik.


Prasetya dan Sabrina bergandengan tangan keluar dari butik itu, sangat serasi sekali, yang satu cantik yang satu tampan, sungguh pasangan yang begitu ideal.


Sepasang mata milik Azmi, masih siaga mengawasi keberadaan mereka, dengan pandangan yang begitu aneh dan menyeramkan. Sinis dan penuh dendam.


Prasetya tak pernah menyadari jika dirinya sedang di awasi, ia dan Sabrina berjalan dengan santai saja, tanpa curiga sedikitpun.

__ADS_1


Azmi yang mulai merasakan kehadiran Prasetya dalam kedekatannya dengan Sabrina, seakan gusar, ia tak menerima begitu saja. Sehingga dalam hatinya tersimpan api dendam yang kembali membara setelah sekian tahun padam dan hampir tak bersisa kehidupannya.


__ADS_2