
Kaila berlari lari mengejar balon yang terlepas dari tangan kecilnya, namun tak jua berhasil, sampai akhirnya balon itu keluar dari pagar besi yang menjadi penutup halaman rumah keluarga Abraham.
Kaila terus berlari, mengejar balon itu, sebuah kendaraan dari arah belakang, Kaila terus melaju, semenit dua menit, sepasang tangan menyambar kaila, memeluknya dengan sangat erat.
Suster Rina, berlari mendengar suara derit mobil yang berhenti secara mendadak, meminta maaf karena tidak sengaja akan menabrak anak kecil tadi.
"Hei ... kamu kalau menjaga anak kecil yang bener, apa mau kamu dipecat, ha?"
"Maaf Pak, saya tidak sengaja."
Kaila masih gemetar dalam pelukan lelaki yang menggendong nya, ia ketakutan.
"Tenanglah, Kaila sayang ... Kamu sekarang sudah aman."
"Terimakasih Paman ...."
"Jangan panggil paman, dong ...."
"Panggil apa?"
"Panggil paman dengan Papa!"
"Tapi ... Kaila sudah punya Papa!"
"Nah, kalau Kaila sudah punya Papa, panggil dengan Papa tampan aja, mau?"
"Baik, Papa tampan ...."
Orang yang ternyata menolong Kaila adalah Papa nya sendiri, Arsen.
"Masih mau berteman dengan Papa tampan?"
"Pasti, Papa tampan!"
"Apa boleh Papa menemui Kaila lagi?"
"Boleh, apa Papa tampan akan menemui Kaila lagi?"
"Ya, kita akan bermain setiap hari, mau?"
"Mau, Papa tampan ...." Arsen menurunkan Kaila, ia mendekati sister Rina.
"Lain kali, kamu harus hati-hati, saya tak mau terjadi sesuatu pada Kaila."
"Iya, Pak!"
"Satu lagi, saya minta, jangan pernah kau ceritakan kejadian ini pada majikanmu, paham?"
"Iya, Pak!"
"Ya sudah, bawa dia masuk, ingat pesan saya."
Suster Rina membawa Kaila masuk, dan ia membujuk Kaila agar tidak bercerita masalah kejadian tadi pada Papa dan Mama nya.
Didalam, Sabrina dan Prasetya, tengah mempersiapkan segala sesuatunya, yang aka diperlukan di bandung, dalam acara pernikahan mereka nanti malam.
Melihat kesibukan Sabrina, suster Rina mengajak Kaila kembali untuk main main.
Dalam canda dan tawa mereka berdua, Kaila teringat akan sesosok pria yang telah menolong nya tadi, sosok pria yang tak lain adalah ayah kandungnya sendiri.
"Sustel, sustel ... Papa tampan baik, ya?"
"Iya, apa Kaila suka berteman dengan Papa tampan?"
"Iya, kapan ya ... Kaila bisa ketemu sama Papa tampan lagi?"
"Entahlah."
__ADS_1
"Sustel, besok kita tunggu aja di depan, mana tahu Papa tampan nya datang."
"Iya, kita akan tunggu besok."
"Benelan?"
"Ya, asal Kaila tidak ngomong sama Mama, sama Papa."
"Iya, Kaila tidak akan ngomong sama Mama, sama Papa."
"Janji?"
"Janji, sustel!"
"Suster Rina ... sus ... sini dulu!"
Panggil Sabrina, karena suster Rina tak kelihatan.
"Iya, Bu ... ada apa?"
"Tidak ada, aku hanya ingin memastikan kalau Kaila baik baik saja, sebentar lagi kami akan berangkat ke Bandung, kamu jaga Kaila."
"Kaila tidak diajak, Ma?"
"Tidak usah, Kaila disini aja, sama suster Rina dan mbok Minah, ya ... jangan nakal!"
"Iya, Mama ...."
"Kamu memang anak pintar."
Pak Abraham tersenyum menghampiri Kaila, sang cucu yang demikian sangat disayanginya itu, ia mencium pipinya dengan gemas.
"Eyang dan Papa pergi ya ... kamu jangan nakal."
"Iya, eyang ...."
"Iya, Kaila mau dibeliin apa?"
"Apa aja deh ...." Jawab Kaila dengan nada lucu.
Prasetya menggendong Kaila dengan gemas, ia begitu menyayangi bocah cilik itu, karena memang Kaila adalah keponakannya.
"Kaila, mau apa dari Papa, hm?"
"Kaila mau adek, Pa ...."
Semua yang ada di ruang tengah itu tertawa.
"Kamu, ada ada aja!"
"Kan Papa nanya, makanya Kaila jawab, Kaila mau adek, biar ada temen Kaila."
"Iya, sayang ... yang penting Kaila tidak nakal."
Akhirnya mereka pergi, meninggalkan Kaila, sungguh pemandangan yang begitu menyakitkan, Arsen yang sejak tadi berdiri mengintai di sebalik jendela, menyaksikan Prasetya dan sabrina, akan melangsungkan pernikahan yang kedua kalinya, dan semua itu sungguh menyiksa perasaannya, namun ia hanya bisa menghela nafas panjang, karena ia ingin mempersatukan cinta mereka.
Melupakan segala apa yang pernah ia alami bersama Sabrina, sehingga melahirkan Kaila, seorang bocah manis, yang sangat imut dan cantik, meski ia lahir dari sebuah kesalahan.
Sepeninggal mereka, Kaila dibawa oleh suster Rina, kekamar. Hari sudah malam, dan Kaila akan tidur, tapi ia mengajak bicara suster Rina terus menerus, sampai suster Rina hampir saja ketiduran.
"Ssssttttt, suster ... suster, buka ...." panggil Arsen bagai seorang pencuri.
Suster Rina tak mendengar, tapi Kaila mengetahui kedatangan Papa tampan nya itu, ia menarik narik tangan suster Rina, memberitahu kedatangan Papa tampan nya.
"Sus, sus, itu Papa tampan datang." Suster Rina memalingkan mukanya, ia menemukan sosok pria tampan sedang berdiri diluar jendela.
Suster Rina mendekati jendela itu.
__ADS_1
"Ada apa kau datang malam malam, Pak?"
"Aku ingin menemani Kaila tidur, buka jendelanya."
"Tidak, aku tak akan membukakan jendela ini, kau akan menculik Kaila, kan?"
"Enak aja, aku ini orang baik!"
"Orang baik itu datangnya dari muka, nah kamu, dari belakang, apa kalau tidak mau jadi maling."
"Aku mau menemani putriku, aku ingin bersamanya, tak maukah kau menolongku?"
"Putri Bapak?, jangan mimpi, dia anak pak Prasetya dan Bu sabrina."
"Coba lihat aku, bukankah Kaila mirip denganku?"
Suster Rina menatap Arsen dengan teliti, ia memang menemukan kemiripan, tapi yang membuat suster Rina tak habis pikir, kenapa Sabrina malah menjadi istri Prasetya sedang ia memiliki anak dari pria lain.
"Cepat, buka kunci jendela ini."
Akhirnya suster Rina tak membuang waktu lagi, ia membuka kunci jendela itu dan membiarkan Arsen masuk.
"Halo anak Papa tampan, apa kabar mu."
"Aku baik, Papa tampan .... kenapa Papa tampan masuknya dari jendela?"
"Nanti kalau dari muka, ada yang lihat, Papa tampan tak bisa bertemu dengan Kaila."
"Papa tampan ngapain kesini?"
"Papa tampan mau nemenin Kaila bobok."
"Asyik ... saat Papa dan mama pelgi, Papa tampan datang." Kata kaila sambil berjingkrak.
"Memangnya Papa dan Mama kaila, mau kemana?"
"Mau bikin adek, Papa tampan ...."
"Hua ha ha ha." Arsen tertawa mendengar Kaila.
"Maunya adek nya yang kayak apa?"
"Yang bisa bicara, aku tidak suka yang hanya diam kayak barbie."
"Memangnya kenapa?"
"Barbie bisu ... aku tidak suka sama dia."
"Makanya jangan nakal, biar adeknya cepat jadi, oke anak pintar!"
"Tunggu dulu, kata Papa tampan cepat jadi, memangnya membuat adeknya dari apa?"
"Hadeeeh, anak ini ada ada aja, aku harus bilang apa?" gerutunya.
"Papa tampan, peluuuk, Kaila bobok."
Arsen mendekati Kaila, ia memeluk putrinya sangat erat dan hangat.
Sungguh, Arsen tak mau jauh jauh dari putri nya itu, ia ingin selalu didekatnya, seperti saat ini, ia memeluk, membelai dan bercengkrama dengan sangat bahagia.
Tapi ... akankah Arsen akan selalu bisa bersama anaknya, sedang dirinya tak mau bertemu dengan seluruh keluarganya.
Demi cintanya pada Sabrina, ia harus merelakan segalanya, merelakan Prasetya bersanding dengan wanita itu.
Akankah Arsen akan ketahuan, atau akan tetap menemui Kaila dengan diam diam?
Bagi Arsen, bagaimana pun caranya, ia akan bertemu dengan Kaila putri kesayangannya. Yang kini terlelap dalam dekapannya.
__ADS_1