Ayah Anakku Kakak Kekasihku

Ayah Anakku Kakak Kekasihku
Bab 36


__ADS_3

Lusiana mendekati Prasetya, iapun duduk di samping Prasetya yang masih uring-uringan.


"Ada apa sih, Mas?"


"Ah, tidak ada, aku cuma bosan dirumah, rasanya aku ingin sekali keluar mencari hiburan, tapi aku tak tahu siapa yang bisa menemaniku?"


"Memangnya Mas Pras, mau kemana?"


"Aku bete dirumah, apa kau punya usul untuk pergi kemana?"


"bagaimana jika kita pergi ketaman hiburan?"


"Kamu mau menemaniku?"


"Oke, siapa takut, aku akan menemanimu, tapi sekarang aku pulang dulu."


"Ya, aku akan menantimu, atau aku akan menjemputmu?"


"Benarkah?"


"Ya, sesekali aku datang ke rumahmu, sambil silaturahmi."


"Aku akan sangat senang jika kau mau datang ke rumahku."


Lusiana akhirnya meninggalkan rumah mewah itu, dengan menggunakan mobil pribadi miliknya.


Malam menjelang, Sabrina mempersiapkan diri untuk pergi ketaman hiburan bersama dengan kaila dan Naila.


Malam ini Sabrina memakai gaun syar'i berwarna oranye, sungguh ia kelihatan cantik dan menawan.


Sabrina telah memesan taksi karena malam ini pak Hardi tak mengoperasikan taksi yang dibawanya.


Setelah mampir dua puluh menit taksi itu pun telah sampai ditempat hiburan itu.


Kaila kelihatan bahagia, ia bersama dengan Naila naik bianglala.


Saat asyik memperhatikan Kaila yang kegirangan, ia dikejutkan oleh suara tawa yang demikian dikenalnya, ia menoleh kearah suara itu. Dan benar saja, ia menyaksikan Prasetya sedang tertawa terpingkal-pingkal dengan seorang wanita yang tak dikenal oleh Sabrina namun tak asing itu.


Mereka berdua sedang asyik bermain gelembung seperti anak kecil.


Hati Sabrina terasa sakit, ia tak pernah membayangkan jika akan bertemu dengan Prasetya di acara ini malam ini.


Tak ada lagi suara Sabrina yang berteriak-teriak seperti tadi.


Sabrina masih terbayang selalu saat ia bersama dengan Prasetya, tapi ia semakin ingat justru ia semakin tersiksa, ia rasanya tak sanggup untuk menjalani hidupnya lagi.


Tanpa disadari, Kaila dan Naila sudah turun, Sabrina terkejut saat Kaila memegang tangannya.


"Ma ... bukannya itu Papa, ya?"


"Iya, itu Papa!"


"Apa aku boleh ikut bersama Papa?"

__ADS_1


"Kaila mau ngapain bertemu Papa."


"Kaila mau ngomong sama Papa, Mama seling menangis sekarang."


"Yak usahlah sayang ... kita pulang saja yuk?"


"Tapi Kaila mau bertemu sama Papa, Ma!"


Belum sempat Sabrina mengajak Kaila pergi, Prasetya menoleh tapi, ia melihat Kaila yang sedang memandangi nya.


Spontan Prasetya berlari meninggalkan Lusi, ia langsung menghampiri Kaila, langsung pula menggendongnya.


"Hai anak Papa ... apa kabar?"


"Kaila baik, Pa!"


"Apa kamu tak rindu sama Papa?"


"Kaila Lindu amat amat sama Papa."


"Apa Kaila tidak mau bertemu eyang?"


"Kaila tak boleh bertemu sama Papa, sama eyang ... Mama bilang belum saatnya."


Prasetya memandang Sabrina, ia tak habis pikir, kemudian ia menurunkan Kaila dan menarik tangan Sabrina kasar.


"Ada apa kau menarikku?"


"Aku hanya ingin bertanya, kenapa kamu tak mau membawa Kaila bertemu Papa. Kamu salah, jika ada anak yang ingin bertemu dengan Papa dan anaknya, tapi kai cegah."


"Sabrina, tega kau mengatakan jika Kaila tidak anakku!"


"Bukankah pada kenyataannya Kaila bukan anakmu."


"Dia anakku, kau tak bisa nolak, memang antara aku dan Sabrina masih punya ikatan."


"Sejak kapan kau mengakuinya, bukankah kau telah mencampakkan kami, lalu kenapa sampai hati kau mengusirku dari agama .


"Oke, ayo balik!"


"Mudah sekali mengajak aku pulang, apakah kau belum puas menyakiti aku?"


"Menyakiti kamu bagaimana?"


Prasetya membawa Kaila, ia segera menarik tangan Kaila, Prasetya mengejar Sabrina, ia menyuruh Kaila dengan temannya yang dibawa bersama mereka, yaitu Naila.


"Bri ... apakah kita tak bisa bicara baik baik?"


"Bicara baik baik, bukankah kau yang selalu mengejek aku, bukankah kau yang selalu menghina aku, apakah kau sudah lupa, masih tadi siang, apa kau sudah lupa?" Kata Sabrina ketus.


Prasetya tak bisa bicara, ia sadar, jika selama ini dia telah menyakiti hati Sabrina.


Prasetya menarik tangan Sabrina sehingga sontak ia terjatuh dalam pelukan Prasetya.

__ADS_1


"Bri ... aku rindu padamu!" ucap Prasetya kian memeluk Sabrina.


Sabrina berontak, ia mendorong Prasetya sampai Prasetya melepaskan pelukannya.


"Begitu mudahnya kau mengatakan semuanya, kau telah tega menghancurkan seluruh harapanku, kau telah tega mengatakan aku hanya wanita murahan yang akan menjebak laki laki lain yang akan menjadi incaran ku, lalu kau begitu mudah untuk meminta aku kembali, lalu dia itu siapa?"


"Dia bukan siapa siapa!"


"Apa kau kira aku percaya?"


"Aku tahu aku salah, Bri ... tapi sungguh aku masih mengharapkan kau kembali."


"Aku tak akan kembali, aku tak akan pernah percaya padamu lagi, kau yang telah tega merusak kepercayaan ku, kau yang telah tega mengkhianati cinta kita, kenapa harus mencari cari kesalahan orang lain, jika kau mau menikah dengan orang lain, tak usah lagi kau cari dan kau pamerkan kemesraan kalian, aku bisa mengahadapi semuanya sendirian."


Sabrina mengajak Kaila dan Naila pergi meninggalkan tempat itu. Meninggalkan Prasetya jongkok tak berdaya, sambil meremas rambutnya.


Lusiana mendekati dan menolong Prasetya untuk bangkit, ia tak tahu jika wanita yang ditemui oleh Prasetya tadi adalah Sabrina.


Lusiana mengajak Prasetya berhenti disebuah kios kecil didekat pusat permainan itu, ia mencoba untuk menenangkan nya.


"Dia siapa, Mas?"


"Dialah Sabrina, ia tak mau lagi mendengar perkataanku, padahal aku masih mencintainya."


"Sebenarnya aku tak tahu tentang Sabrina, tapi apakah tak lebih baik kalau mencari penggantinya saja?"


"Maksudmu?"


"Masih banyak wanita lain yang mencintai mu."


"Aku terus berusaha, tapi aku semakin mencintainya."


"Tapi jika boleh jujur, aku sudah jatuh cinta padamu sejak aku pertama kali menemui mu."


"Apa kau tak waras?"


"Aku sangat waras, makanya aku jatuh cinta padamu."


"Tapi aku masih mencintai istriku, dan aku akan berusaha untuk kembali lagi padanya."


"Apa kau yakin?"


"Kenapa aku tak yakin?"


"Dia akan menjadi onak dan duri dalam hidupmu."


"Setelah dia pergi, aku sadar jika aku sangat membutuhkan dirinya."


"Ah, sudahlah, mari kita pergi, aku akan mengantarkan kamu pulang."


Prasetya mengikuti dari belakang, Lusiana masih memegangi tangan Prasetya dengan mesra, semua itu masih disaksikan oleh Sabrina.


Ia tak tahu apakah rasa cemburu yang dirasakan nya, adalah suatu kebenaran yang salah, atau ia hanya berprasangka buruk pada Prasetya, sedangkan kebenarannya mereka tak tahu.

__ADS_1


"Tapi, jika semua itu tidak benar, kenapa wanita itu memegangi mas Prasetya sangat mesra" bisik hati Sabrina perih.


Prasetya masih menoleh ke kiri dan ke kanan, tapi ia tak menemukan keberadaan Sabrina, ia tahu jika Prasetya sedang mencarinya, tapi ia sengaja tak menampakkan diri. Ia bersembunyi diantara pengunjung yang datang, ia membawa Kaila dan Naila pergi menjauh dari Prasetya.


__ADS_2