
Sabrina bangun pagi pagi sekali, ia ingin membuat sarapan, Kaila masih terlelap, begitu juga dengan pak Abraham.
Karena tak ada suster Rina atau Mbok Minah maka Sabrina harus turun tangan sendirian.
Masih terlalu pagi, jika Sabrina harus membangunkan semuanya, meski masakan sudah siap semua, karena hari masih menunjukkan pukul setengah enam pagi.
Sabrina melangkah menuju kamarnya, karena sejak ia datang ia tak sempat pergi melihat keadaannya, iapun berniat untuk membangun kan Prasetya, karena ia yakin suaminya itu telah pulang dan tak menyadari keberadaannya di rumah itu.
Kreeeek!
Suara pintu perlahan terbuka, dan setelah masuk Sabrina menutupnya kembali. Sabrina melangkah sambil memegang nampan berisi teh hangat dan belum melihat ketempat tidur, karena ia masih asyik dengan bajunya yang sedikit tersangkut pada gagang pintu.
Sabrina membalikkan badannya, matanya menelusuri keadaan sekitar, dan ia membelalakkan matanya, seakan tak percaya.
Prang, nampan yang ada ditangannya jatuh berderai, pecah berserakan, membuat dua insan yang ada diatas tempat tidur dan masih terlelap itu, akhirnya membuka matanya.
Sabrina membungkam mulutnya sendiri, air liurnya seakan kering untuk ditelan, airmata nya jatuh berderai. Kepala nya menggeleng entah berapa kali pertanda ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Prasetya tersentak kaget, ia beranjak dari tempat tidurnya, tapi ia mengurungkan nya, karena ia dalam keadaan tak memakai apapun, kecuali ****** ***** yang menutupi sebagian pahanya.
"Astaghfirullah, apa yang terjadi?"
Ucapnya tak percaya melihat keadaannya seperti itu.
Sabrina masih tak percaya melihat pemandangan dihadapannya, pakaian yang berserakan diatas lantai, yang sengaja dilempar begitu saja.
Dengan segera Prasetya mengambil celananya, dan bergegas memakai nya.
Sementara Lusiana, tetap pada posisinya semula. Dalam hati nya ia tersenyum menang, ia telah berhasil menjebak Prasetya.
Sabrina tersungkur dalam ketidak berdayaan, ia seakan tak mampu untuk berdiri, menyadari rumah tangganya yang kini telah benar benar kandas.
Prasetya menyentuh Sabrina, berusaha untuk menolong nya, tapi tangan itu ditepis oleh Sabrina.
"Jangan kau sentuh aku, aku tak mau kau menyentuh aku dengan tangan kotormu itu!"
"Ku mohon Sabrina, aku tidak melakukan apapun, aku tidak ...."
"Ternyata, kau menyuruhku pulang hanyalah untuk menunjukkan semua ini padaku?"
__ADS_1
"Tidak Sabrina!"
"Wah, wah Mas! Kau sungguh mempunyai bakat menjadi seorang aktor, sekaligus sutradara dara yang wah!" kata Sabrina sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Semua tidak seperti yang kau bayangkan!"
"Lalu, seperti yang kau bayangkan, aku berniat memberikan kejutan padamu, dengan tidak memberitahukan jika aku akan pulang, tapi memang kau adalah pemain yang mantap, sehingga akulah yang berhasil engkau kejutkan, dengan memperlihatkan kebejatan kalian, aku tak sengaja menyakiti mu, tapi kenapa kau tega menghancurkan seluruh hati dan perasaan ku."
"Sabrina ... bukankah kita sudah berjanji kalau kita akan saling percaya?" ucap Prasetya memeluk Sabrina erat, ia berusaha menyakinkan Sabrina jika memang dirinya tak bersalah sama sekali.
"Lepaskan!"
"Tidak Sabrina, aku tak akan melepaskan mu, aku ingin kau percaya, jika aku tak pernah mengkhianati cinta kita, aku begitu mencintaimu, tak mungkin aku melakukan semua itu!"
"Lalu ini apa, ini apa!" bantah Sabrina menjerit. Sambil berusaha lepas dari pelukan Prasetya.
"Kau bilang ... dia adalah pengacara Mas Arsen, Kamu bilang kalian tak punya hubungan apapun, sehingga aku tak pernah menyangka, kau sengaja mempermainkan hatiku, apakah aku telah berdosa, hingga kau tega melakukan semua ini, ha?"
"Sungguh, aku berani bersumpah, aku tak melakukan apapun!"
"Lepaskan, lepaskan aku, biarkan aku pergi, aku tak bisa melihat semua ini, semakin lama aku disini, aku akan semakin terluka."
Dengan sekuat tenaga, akhirnya Sabrina bisa lepas dari pelukan Prasetya, yang begitu kuat, yang takut jika Sabrina akan meninggalkan dirinya.
"Buka mas, buka!"
"Tidak Sabrina, aku tak ingin kau pergi!"
"Kau mau apalagi dariku?"
"Aku mau kau mendengar penjelasanku!"
"Penjelasan apa, tak ada yang perlu untuk dijelaskan, semua telah jelas. Sekarang buka pintunya, aku mau keluar!"
"Tidak Sabrina!" jawab Prasetya memohon.
"Baiklah, jika kau tak mau membukakan pintu itu, aku akan melukai diriku."
Sabrina mengambil pecahan gelas dan siap akan melukai tangannya.
__ADS_1
"Jangan Sabrina, ku mohon jangan lakukan itu!" kini Prasetya menangis, ia tak tahu akan melakukan apa lagi yang bisa menahan Sabrina agar tidak pergi.
Dan Sabrina tak main-main, ia benar-benar melukai tangannya, sehingga Prasetya mau tak mau membuka pintu itu dan membiarkan Sabrina keluar.
Sabrina berlari, Prasetya mengejarnya, ia kembali memeluk Sabrina, ia tak mau kehilangan lagi sosok istrinya itu.
"Lepaskan aku!" teriak Sabrina.
Suasana masih pagi, sekitar pukul enam, pak Abraham yang sudah bangun merasa sangat penasaran, ada apa ramai ramai di ruang tamu.
Ia yang terbaring ditempat tidur, mencoba untuk bangkit, tapi sungguh tak kuasa.
Ia akhirnya menjatuhkan dirinya dilantai dan perlahan ia berjalan beringsut dengan menggunakan tangannya. Pak Abraham menyaksikan Sabrina yang berteriak-teriak dalam pelukan Prasetya, sambil keduanya berurai air mata.
Kembali Sabrina mendorong Prasetya, tangannya yang masih mengeluarkan darah segar membuat badan Prasetya penuh darah, begitu juga dengan bajunya.
"Ada apa?" teriak pak Abraham.
Tanpa menjawab, Sabrina melewati Pak Abraham begitu saja, ia menggendong Kaila yang masih tertidur. Dengan masih menangis, Sabrina berlari meninggalkan rumah itu.
Prasetya tak kuasa lagi menahan Sabrina, ia hancur sendiri dengan perasaannya, baru kemaren rasanya ia bersama melewati hari yang begitu bahagia, tapi pagi ini, ia justru kehilangan Sabrina, bahkan dengan cara yang lebih menyakitkan.
Prasetya bangkit dari duduknya, ia berlari keluar, ia melihat Sabrina yang menggendong Kaila masih berada di depan gerbang.
Dengan cepat, iapun berlari, menghampiri Sabrina kembali.
"Sabrina, tolong ... ko mohon ... jangan pergi ...."
"Apa kurang puas kau menyakiti aku, apa kurang puas kau menghancurkan aku, aku tak hancur lagi, aku tak sakit lagi, tapi aku telah pecah berderai, tak ada lagi harapan yang bisa aku impikan bersamamu. Izinkan aku pergi, aku ucapkan selamat dan terimakasih atas segalanya, aku tak sanggup lagi menghadapi siksaan yang kau berikan."
"Aku tak tahu kenapa wanita itu ada disana, Bri ...."
"Sandiwara apa lagi yang sedang kau perankan, apa masih ada yang kau incar dari diriku, yang belum hancur?"
"Aku jujur Bri ... aku serius, aku tak tahu apa-apa."
"Sudahlah, aku sudah tak percaya padamu, aku sudah terlanjur sakit, aku mau pergi saja, jangan mencari aku, aku tak akan muncul lagi di manapun yang disitu ada dirimu."
"Benarkah, kau tak mau mendengarkan aku untuk terakhir kalinya?"
__ADS_1
"Tidak, tidak ada lagi kesempatan yang tersisa untuk mu, selamat tinggal."
Sabrina masuk dalam taksi, ia memang menghubungi Hardiman, oleh karena itu taksi itu cepat datang.