Ayah Anakku Kakak Kekasihku

Ayah Anakku Kakak Kekasihku
Bab 39


__ADS_3

Sabrina berlari memasuki butiknya, ia mengeluarkan tangisnya yang tertahan, ia terisak begitu pilu, ia tak kuasa melawan perasaannya, tapi ia tak ingin kembali terluka, setidaknya ia akan menyelidiki terlebih dulu siapa sosok wanita yang ada bersama dengan Prasetya, untuk memastikan jika Prasetya tidak ada hubungan dengannya.


Sabrina ingin sekali menumpahkan segala kerinduannya pada Prasetya saat bertemu di kafe tadi, hanya karena ia cemburu, ia menahan melakukan semua itu.


Sekarang, setelah mereka kembali berpisah, hatinya begitu sakit, tak bisa bersama dengan suaminya.


"Ada apa Bri ... apa yang terjadi?"


"Aku ... aku tersiksa, Kak ...."


"Tersiksa kenapa?" Ananta mendekati Sabrina disela sela pengunjung yang sepi.


"Aku ... aku ingin bersama kembali dengan suamiku, tapi aku takut akan terluka, aku takut jika dia punya wanita lain."


"Apa aku pernah melihat dia bersama dengan wanita lain?"


Sabrina mengangguk.


Ananta membawa Sabrina kedalam pelukannya, bagaikan seorang Kakak yang ingin menenangkan hati adiknya.


"Seharusnya kau mengatakan jika kau sedang mengandung, maka penghalang antara kalian pasti akan hilang, percayalah, buah hati kita adalah pengikat dua hati manusia yang begitu kuat."


"Aku ingin mengatakan nya, tapi aku perlu waktu, aku ingin Mas Prasetya tahu, betapa aku tak pernah ingin mengkhianati dirinya."


"Seandainya ada wanita lain, seharusnya kau justru berjuang demi kelangsungan keluarga kalian, tapi mengapa justru kau malah memberi celah untuk wanita itu masuk kedalam keluarga mu, biarkan kalian berpisah beberapa bulan yang lalu, tapi kalau bisa secepatnya kalian harus memperbaiki nya, sebelum semua terlambat."


"Begitukah?"


"Ya, seharusnya begitu, jangan biarkan cinta kalian di hancurkan oleh orang lain."


"Aku akan berusaha, aku akan menemui Mas Prasetya lagi, nanti, jika perlu aku akan pulang."


"Itu lebih baik!"


"Terimakasih kak, aku bersyukur punya sahabat seperti dirimu."


"Kadang saudara yang kita dapatkan dari sebuah persahabatan jauh lebih hakiki dari pada saudara kandung."


"Semoga kita bisa menjalin silaturahmi sampai kita tua nanti."


"Amiiin."


Ananta melepaskan pelukannya, ia menghapus air mata yang tersisa diwajah Sabrina.


"Apapun beban yang kau rasakan, katakan padaku , semoga aku bisa membantu menyelesaikan nya."


"Baiklah, aku berjanji!"


"Tunggu sebentar, aku keluar dulu."


Ananta keluar, ia melihat kehadiran Azmi di butik itu, Ananta tahu jika Azmi menaruh hati pada Sabrina, dan ia tak mau sampai Sabrina mengetahui perasaan itu, karena akan berakibat tidak baik bagi pikiran Sabrina.


"Hai, Mi ... apa kabar?"


"Aku mencari Sabrina, kurang baik rasanya jika aku belum melihatnya."


Ucap Azmi tersenyum, namun kelihatan jika ia memang mengagumi Sabrina. Ananta mengangkat bahunya.


"Apa kau melihatnya, apakah dia tak datang ke sini?"


"Dia ada disini, tapi dia tak enak badan, dia lagi tak mau di ganggu."

__ADS_1


"Padahal aku sangat ingin bertemu dengannya."


"Hus, tak baik sering sering ketemu sama istri orang, pamali!"


"Memangnya kenapa, suaminya saja tak mau peduli dengannya, apa salahnya jika aku yang perhatian padanya?"


"Azmi, kamu itu ganteng, cari kek yang masih perawan, atau yang tidak punya suami, itu kan lebih baik."


"Aku tak memikirkan itu, yang jelas aku suka sama Sabrina, aku kagum padanya, itu aja."


"Ya, kau tetap salah, aku tak suka kau mendekati Sabrina, aku tak suka kau jadi orang ketiga dalam rumah tangga Sabrina, ku harap kau mengerti batasan mu."


"Aku suka pada Sabrina itu adalah urusan ku, dan kau tak perlu ikut campur."


Sabrina keluar dari ruang yang sengaja di jadikan tempat ia beristirahat jika ia sedang capek di butik itu. Apa lagi saat ini ia sedang hamil.


"Ada apa sih, kalian kok ribut?" tanya Sabrina yang tersembul dari balik pintu.


"Ah, tidak ada!" jawab Ananta cepat.


"Azmi, sudah lama?"


"Lumayan, apa kamu sakit, kata Ananta kamu lagi tak enak badan?"


"Ah, nggak juga, aku cuma capek, istirahat sebentar juga sudah mendingan, kok!"


Azmi menatap Ananta tak suka, begitu juga Ananta, ia tak suka melihat Azmi yang sok akrab dengan Sabrina.


"Apa kau sudah makan?"


"Be ... belum!"


"Ayo kita makan, tak baik jika kau terlambat makan, kasihan janin yang ada di dalam sana."


"Tapi aku tak selera makan."


Ananta dan Azmi saling pandang.


Sabrina hanya tersenyum menatap kepada Azmi kemudian pada Ananta.


"Kalian kenapa sih, kayak anak kecil aja!"


"Ananta tak suka kau dekat denganku, makanya dia tidak ingin kau dekat dekat dengan ku."


"Itu perasaan mu saja kali ...."


Ananta berlalu meninggalkan Sabrina dan Azmi karena ada pembeli yang datang, sedang karyawan yang lain lagi pada sibuk dengan kegiatannya masing-masing.


Azmi yang seakan mendapatkan kesempatan untuk berbicara dengan Sabrina mengambil cepat kesempatan itu.


"Bri ... bukankah hari ini kau waktunya cek ap kandungan?"


"Ya, tapi lagi malas!"


"Mari aku antar!"


"Besok aja lah, aku lagi nggak mood."


"Apa kau lagi punya masalah?"


"Di bilang ada, nggak sih ...."

__ADS_1


"Jadi kalau dibilang nggak ... ada, gitu?"


"Ada dikit, tapi aku sedang menyelesaikan nya."


"Masalah apa, apa boleh aku tahu?"


"Ah, tidak apa-apa, cuma masalah kecil."


"Masalah kecil jika lama tak diselesaikan akan menjadi besar, Bri ...."


"Iya aku tahu, kok!"


"Apa masalah dengan suami kamu?" Sabrina diam, ia hanya menatap Azmi dan kemudian mengangguk.


"Sebenarnya apasih yang menyebabkan kalian bertengkar?"


"Bukan apa-apa!"


"Kenapa ... apa karena aku baru mengenalmu makanya kau tak mau berbagi masalah padaku, aku akan membantumu menyelesaikan masalahmu."


"Terimakasih, tapi aku tak mau membicarakan masalah itu sekarang."


"Kalau begitu, mari kita keluar, aku akan mengajakmu ke suatu tempat, apakah kau mau?"


"Kemana?"


"Nanti kau akan tahu, mau atau tidak?"


"Sebenarnya aku lagi tak kepengen pergi, lain kali bagaimana?"


"Sebenarnya aku kecewa sih, tapi tak apalah, aku akan mengajakmu lain waktu." Sabrina mengangguk.


"Oke, kalau begitu, aku pamit dulu, aku ada urusan sedikit."


"Kemana?"


"Masalah bisnis, apa kau mau ikut, boleh ...." Ajak Azmi bercanda.


Sabrina tersenyum, ia menggelengkan kepalanya, Azmi membungkukkan badannya sambil meletakkan tangannya di pelipisnya, seperti orang hormat, kemudian pergi meninggalkan Sabrina.


Sabrina menatap kepergian Azmi, sampai Azmi tak terlihat, dibawa oleh kendaraan yang dikemudikannya.


Ananta sudah berdiri begitu saja didekat Sabrina, sehingga membuat Sabrina terkejut.


"Astaghfirullah, Kak Ananta!"


"Kayak lihat hantu aja!"


"Habis ... datang tiba-tiba!"


"Aku yang datang tiba-tiba atau kamu yang memperhatikan Azmi yang nggak berkedip?"


"Ah, Kak Ananta bisa aja!"


"Aku sarankan, kamu jangan dekat-dekat sama Azmi, aku mencium gelagat yang tidak baik, darinya!"


"Ah, Kak Ananta kayak detektif saja!"


"Percayalah, kamu dengarkan nasihatku, jangan mudah percaya sama orang yang baru kita kenal."


"Iya, makasih sudah perhatian!"

__ADS_1


"Sudah menjadi kewajiban aku untuk mengingatkan mu, Bri ....


__ADS_2