
Senja merayap, di kala matahari menghilang tanpa berpesan, menjadi sebuah malam yang sunyi tanpa nyanyian dari jangkrik yang membelai malam. Tampak Sabrina duduk di teras rumah, menikmati sambil menanti, sang pujaan hatinya, Prasetya, pulang dari bekerja di kantornya. Prasetya belum juga pulang padahal malam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam.
Arsen tersenyum menghampiri Sabrina, menyapa Sabrina agar Sabrina tidak merasa kaget dengan kehadirannya.
"Hai Bri, belum masuk, apa Prasetya belum datang juga?"
"Belum Mas, entah kenapa, mas Prasetya pun belum juga telefon."
"Kalau sudah ngantuk, kamu masuk saja, nanti biar aku yang bilang, kamu sudah sejak tadi menunggunya."
"Biar aku tunggu disini saja!"
"Duh ... punya istri kok setia banget, kalau begitu, izinkan aku menemani mu, kasihan ... sudah malam kamu sendiri disini, biar bukan cuma kamu yang digigit nyamuk."
"Mas Arsen, tidak keberatan?"
"Tidak ... aku justru senang bisa menemanimu, di kamar pun aku hanya sendiri."
"Makanya Mas, cepet cepet nikah, biar ada yang nemenin."
"Maunya sih gitu, tapi nggak ada yang mau."
"Karena Mas, tidak nyari, makanya tidak ada yang mau!" Arsen hanya tersenyum.
Malam semakin larut, tapi Prasetya belum juga pulang, Sabrina tanpa sadar telah tertidur dan kepalanya bersandar pada bahu Arsen. Terdengar suara ponsel, dan itu sama sekali tidak mengusik tidur Sabrina, arsen pun tidak punya pilihan lain, ia mengangkat ponsel itu.
"Halo ...."
"Halo, mana Sabrina, Mas, kok tidak dia yang angkat?"
"Dia sedang tidur, dia menunggumu pulang, aku mau membangunkannya tidak tega, maka aku menjawab ponselnya."
"Ooo, tolong bilang sama Brina, aku nggak bisa pulang, aku masih di luar kota, ada transportasi dari kendaraan kantorku mengalami kecelakaan, mungkin aku pulang besok pagi, sekitar jam lima, atau bahkan siang."
"Ya ... aku akan bilang padanya, kamu baik baik saja, ya ...."
"Ya, salam buat Brina!"
__ADS_1
"Alaaah, baru aja satu hari di tinggal, sudah ngirim salam."
"Bilang aku rindu!"
"Oke, lama lama aku stress sendiri ngomong sama kamu, sudah, nanti aku bilang sama Brina."
"Makasih, Mas!" keduanya sama sama menutup ponsel, dan obrolan pun berakhir.
Arsen mengangkat tubuh Sabrina, masuk, semua seisi rumah sudah pada tidur, termasuk papanya. Arsen terus membopong tubuh itu masuk ke dalam kamar mereka, Arsen menatap wajah cantik Sabrina dengan pandangan nakal, perlahan di kecupnya bibir sensual milik Brina, sangat lembut, tidak seperti waktu itu. Sabrina tampak menggeliat, Arsen berdesir dan berdiri seketika, tapi karena Sabrina tidak terbangun, ia mulai nakal lagi, di rabanya seluruh permukaan tubuh Sabrina, sehingga seperti menggeliat kegelian, tapi dengan tidak terbangun juga.
Arsen melangkah menuju pintu, ia mengunci pintu itu, kemudian menatap ke arah meja rias, melihat sebotol parfum milik Prasetya, ia mengambil parfum itu dan memakainya. Tiba-tiba, Sabrina membuka matanya, Arsen sempat terkejut, tapi akhirnya bisa menguasai dirinya.
"Mas ... sudah pulang?"
"Sudah, kamu sudah lama tidurnya?" jawab Arsen dengan suara yang di mirip kan dengan suara Prasetya.
"Kayaknya sudah agak lama, kenapa lama pulangnya, Mas?"
"Ada kecelakaan, aku terpaksa pulang agak lama, kamu nggak apa-apa 'kan?" Sabrina menggeleng.
"Maaf, aku tidak sengaja!"
" Udah, nggak apa-apa, ayok tidur lagi!" Arsen mendekati Sabrina di ranjang, namun sejauh ini Sabrina tak menyadari kalau dia sedang bersama laki laki lain. Arsen kian nakal, tangannya mulai membelai rambut Sabrina yang harum, melihat Sabrina tidak bereaksi, iapun tambah berani.
"Mas ... apa Mas Pras tidak capek?" tanya Sabrina dengan nada bergetar.
"Aku tidak pernah merasa capek dengan mu!"
Arsen mencumbui bagian tubuh itu dengan begitu lembut, dan Arsen merasakan sensasi lain dengan melakukan semua itu, apakah Arsen sengaja ingin membuktikan, kalau ia mampu melakukan tanpa kekerasan?, entahlah, yang jelas keduanya sama-sama menikmati semua itu.
Arsen kembali menatap wajah Sabrina, kemudian pandangannya bergerak turun menuju bukit berbaris dua yang sangat menonjol itu, ia perlahan menjatuhkan semua pakaian atas Sabrina, tanpa sisa.
"Mas, bukankah kau berjanji tidak akan menyentuhku sampai anak ini lahir?"
"Semula iya, sayang ... tapi aku sangat tidak tahan melihat pemandangan yang begitu indah ini, tolong ... izinkan aku melakukannya," Arsen pura pura merengek.
Semula Sabrina menolak, tapi karena serangan Arsen yang terus menerus, akhirnya pertahanan itu pun gagal, semua telah berubah, dua gunung dan samudra cinta telah terpampang dengan jelas, semenit, dua menit, bahkan entah berapa jam, mereka berpacu, melepaskan segala hasrat jiwa yang lama terpendam, mereguk kenikmatan yang luar biasa tiada tara, menghabiskan seluruh waktu dan tenaga untuk mencapainya.
__ADS_1
Akhirnya Arsen terkulai dalam hasrat yang telah tersalurkan. Sabrina pun terlihat begitu bahagia, padahal ia tidak tahu telah melakukannya dengan kakak suaminya, suami yang sebenarnya masih berstatus sebagai kekasih itu, karena belum pernah menyentuhnya.
"Apa kau bahagia?" tanya Arsen disela deru nafas dan kenikmatan yang ia rasakan.
Sabrina mengangguk, iapun memeluk Arsen dengan tanpa berpikir panjang, sebab ia mengira bahwa laki laki yang bersamanya adalah Prasetya. Sementara Arsen tersenyum penuh kemenangan, bagaimana tidak, ia telah berhasil memiliki Sabrina, walaupun itu sebatas tubuh, terlebih ia merasa mampu melakukan semuanya dengan rasa yang berbeda, dan ia bahagia, di satu sisi ia telah mendapatkan keinginannya untuk memenuhi hasratnya, ia tidak menyakiti Sabrina lagi seperti waktu itu, lalu bagaimana seterusnya, apakah ia akan merebut Sabrina dari Prasetya?
"Malam ini aku benar-benar merasa bahagia, terimakasih!" ujar Sabrina.
"Sekarang mandilah, agar besok pagi tubuhmu lebih segar!"
"Aku males, Mas ...."
"Ya sudah kalau males, pakailah pakaian mu, setelah itu kita tidur."
Tanpa merasa curiga sedikitpun Sabrina menuruti apa yang dikatakan oleh Arsen, ia mengenakan seluruh pakaiannya. Selama Sabrina mengenakan pakaiannya, Arsen membenahi ranjang yang tampak acak acakan, kemudian mendekati Sabrina dan memeluknya dari belakang, menciumi leher Sabrina yang jenjang.
"Sudah ah, aku geli, Mas ...."
"Justru yang geli itu nikmat, kan ...."
Arsen membopong tubuh Sabrina, seketika Sabrina menjerit manja, Arsen tersenyum dan membaringkan nya ditepi ranjang, kemudian Arsen pun naik keatas ranjang, dan berbaring disebelah Sabrina.
"Mas ... sekarang jam berapa?"
"Jam setengah dua dini hari, kamu tidur gih, nanti kalau tidak tidur, kasihan bayi yang ada disini!" jawab Arsen sambil mengelus lembut perut Sabrina yang masih datar itu.
Perlahan, Sabrina memejamkan matanya, Arsen membelai rambut nya dengan sangat mesra dan lembut, baru kali ini, ia merasa senyaman dan sebahagia ini, sebelumnya hanya perasaan cemas dan ketakutan saja.
Tak lama, Sabrina telah tertidur, perlahan-lahan, ia bergegas dari kamar itu, keluar tanpa meninggalkan jejak sedikit pun, menuju kamarnya sendiri.
Hampir sampai pagi, Arsen tidak dapat tidur, ia terkenang kembali dengan apa yang baru saja ia lakukan bersama Sabrina.
Sekitar pukul empat dini hari, terdengar suara mobil berhenti di garasi, ia yakin itu adalah Prasetya, ia mengintip dari balik jendela kamarnya, benar saja, Prasetya tampak dengan membawa tas kerjanya, keluar dari mobil menuju pintu utama, ia tak perlu meminta siapapun untuk membukakan pintu, karena ia selalu membawa kunci sendiri. Dengan tanpa merasa curiga sedikitpun, iapun masuk ke kamarnya, ia saksikan Sabrina tidur dengan begitu nyenyak nya, Prasetya tersenyum, kemudian menghampiri nya dan mengecup lembut pucuk kepala Sabrina.
Prasetya tanpa mandi, hanya mengganti pakaiannya dengan piyama berwarna coklat, kemudian berbaring dan tertidur di samping Sabrina, dengan begitu nyenyak nya.
🌹 Karya ini masih begitu banyak memiliki kekurangan, maklum author masih belajar, tolong berikan dukungan kalian agar author bersemangat dalam berkarya, matur nuwun seng buanyak.🌹🌹🌹
__ADS_1