
Sabrina berniat memberikan kejutan untuk suaminya, sore ini ia mengajak Kaila pergi kerumah eyang nya, ia tahu jika Prasetya akan pulang larut malam.
Dengan berpamitan dengan Ananta, Sabrina pergi, ia diantar kan oleh pak Hardi, menggunakan taksi yang kebetulan sudah pulang.
"Sudah sampai, Bri ... apa perlu aku antar kedalam?"
"Tidak usah Mas, aku bisa sendiri!"
"Ya sudah, aku pulang dulu."
"Ya, aku akan bermalam disini, Mas!"
"Jadi, nanti kau tidak pulang?"
"Tidak, aku akan menginap disini."
"Baiklah, aku akan menyampaikan pada Ananta nanti."
"Ya!"
Hardiman suami Ananta, pulang meninggalkan kediaman keluarga Abraham Dirja.
Sabrina melangkah memasuki halaman rumah megah itu sambil menenteng tas plastik yang berisi buah segar kesukaan pak Abraham.
Satpam penjaga rumah dari arah belakang rumah merasa terkejut akan kehadiran Sabrina, ia tersenyum karena ia menyadari tak sempat membukakan pintu gerbang untuk majikannya itu, karena ia harus membuang hajat nya yang tak bisa di ajak kompromi.
Semula ia sempat merasa asing dengan Sabrina, karena Sabrina bukanlah Sabrina yang dulu lagi, sempat cengengesan akhirnya ia menyapa Sabrina juga.
"Maaf Mbak ... aku kebelet, jadi tak bisa membuka pintu gerbangnya!"
"Aku tak masalah jika kau tak bisa membuka pintu gerbangnya, cuma lain kali kau harus hati-hati, kamu harus menguncinya, bahaya apa saja bisa terjadi karena kelalaianmu."
"Sekali lagi aku minta maaf!"
"Ya!"
"Eh, Non Kaila sudah besar!"
"Ya, Pak!"
"Mari, aku masuk kedalam dulu, siapa kawan Papa?"
"Suster Rina."
"Suster Rina kembali kerja disini?"
"Iya , sejak tuan jatuh sakit."
"Mbok Minah kemana?"
"Mbok Minah baru saja pulang kampung, ada kabar katanya ada saudaranya yang meninggal dunia."
"Innalilahi wa innailaihi roji'un"
Sabrina segera masuk, setelah memencet bel.
Terdengar suara sandal, berjalan, menuju pintu, dan selang beberapa detik, akhirnya pintu itu terbuka.
"Bu Brina?" sapa suster Rina yang terperangah melihat Sabrina yang begitu anggun mengenakan pakaian syar'i nya.
"Wah Bu, kau terlihat semakin sempurna dan cantik, pasti Pak Prasetya semakin cinta melihatnya!"
"Kau ini bisa aja!"
"Iya, Ibu apa kabar?"
"Aku Alhamdulillah, sehat ... kamu?"
"Sama, saya sehat, Bu!"
Suster Rina langsung menggendong Kaila, dengan langkah cepat ia membawa Kaila ketempat eyang nya berada. Sabrina mengikuti nya dari belakang.
Sesampainya didepan pintu kamar pak Abraham, Sabrina sempat terpaku, dan ia akhirnya berjalan agak cepat, bersimpuh di kakinya.
"Papa, aku pulang!"
Pak Abraham yang terdiam dan tertunduk, mengangkat wajahnya, terpana melihat muka menantunya yang bersimbah air mata dan berlari sujud kehadapan nya.
__ADS_1
"Maaf kan Sabrina Pa, Sabrina tak bermaksud membuat Papa begini."
"Papa yang seharusnya minta maaf."
"Bapak bisa bicara?" tanya suster Rina terkejut. Dan bukan itu saja yang membuat kian terkejut.
Perlahan pak Abraham mengangkat tangannya yang tak berdaya itu, kemudian meraih tangan Sabrina, agar Sabrina duduk disampingnya.
"Papa rindu pada kalian, maaf kan Papa yang tak bisa membujuk Prasetya." ucap pak Abraham terbata bata.
"Kami sudah baikan, Pa ...."
"Benarkah?"
"Ya, dan aku kesini karena Mas Prasetya yang memintanya, aku akan kembali lagi ke sini."
"Syukurlah!
Terdengar suara ponsel milik suster Rina berdering. Semua mata menatap suster Rina, setelah melihat anggukan kepala Sabrina, suster Rina mengangkat ponselnya.
"Halo, ada apa?"
"Maaf, apa kamu bisa pulang, saya adalah tetangga baru yang dititipi pesan oleh Mas Wahyu, katanya anak mbak masuk rumah sakit."
"Sejak kapan?"
"Baru saja, sakit perut!"
"Ya, aku akan segera pulang."
Suster Rina menutup ponselnya, ia menatap Sabrina lekat.
"Ada apa suster?"
"Anak saya masuk rumah sakit, Bu!"
"Apa kau bermaksud untuk izin pulang?"
"Ya, aku ingin pulang."
"Pulang lah, hati hati, semoga anakmu lekas sembuh."
"Iya!"
"Ini, semoga anakmu lekas sembuh."
"Terimakasih Bu."
"Ya!"
Setelah suster Rina pergi, Sabrina kembali melihat Pak Abraham, ia menyaksikan Kaila sedang bersamanya.
Pak Abraham menggapai kan tangannya, mencoba meraih tangan cucunya, tapi akhirnya ia tersungkur, jatuh di lantai.
"Papa, jangan melakukan apapun yang belum bisa Papa lakukan, nanti tambah parah."
"Aku hanya ingin meraih tangan Kaila."
"Sini aku bantu!" Sabrina membantu mertuanya untuk kembali duduk diatas kursi roda, dengan susah payah akhirnya berhasil juga.
"Bri ... apakah sudah lama kau berpakaian seperti ini?"
"Beberapa Minggu setelah aku pergi dari sini, Pa."
"Aku bahagia melihatnya, kau tampak lebih cantik dan anggun."
"Terimakasih Pa!"
Pak Abraham tersenyum, ia bahagia sekali, dan tanpa diduga siapapun, kebahagiaan kali ini membuat motivasi yang akhirnya bisa membuatnya kembali berbicara, dan menggerakkan tangannya, sungguh anugerah yang luar biasa, yang Tuhan berikan.
"Ada yang lain, apa ya?"
"Apa?"
"Anuuu, tadi saat aku datang, Papa bicara nya putus putus, sekarang lancar, Alhamdulillah Pa, papa menunjukkan kemajuan."
"Itu semua berkat kalian."
__ADS_1
"Jangan khawatir Pa, aku akan bersama Papa lagi, tentunya Kaila juga."
"Benarkah?"
"Ya, aku dan Mas Pras, sudah berjanji akan memperbaiki kesalahan-kesalahan kami, kami akan berusaha untuk saling memahami."
"Syukurlah."
"Apa Papa sudah makan?"
"Tadi sudah, tapi aku rasanya ingin makan masakan mu, apa kau tak keberatan jika kau memasak untuk ku?"
"Tidak, Papa mau di masakin apa?"
"Apa saja!"
"Kaila ... Kaila tunggu disini sama eyang ya sayang ... Mama masak dulu untuk eyang."
"Iya Mama!"
"Anak pintar!"
Sabrina meninggalkan Kaila dan Pak Abraham, menuju dapur yang telah sekian lama tak dilihatnya.
Tak ada perubahan disana, masih tertata rapi, sama kala ia pergi meninggalkan rumah itu.
Dengan semangat ia membuat masakan itu, sup jamur dan bubur kesukaan mertuanya.
Setelah masak ia segera membawanya kekamar, tidak menunggu dingin dulu, iapun menyuapi pak Abraham seperti Papa nya sendiri.
Meski Sabrina tak pernah melakukan itu sebelumnya, tapi ia sama sekali tak merasa canggung, ia bersikap biasa saja, layaknya seorang anak pada ayahnya.
"Kau tampak gemuk, Bri ...."
"Iya Pa!"
"Apakah kau hamil?"
"Apa Papa merasa demikian?"
"Ya, sepertinya kau hamil."
"Iya Papa, aku memang hamil, sudah empat bulan."
"Wah, apakah Pras sudah tahu?"
"Ya, Mas sudah tahu, tadi malam."
"Baru tadi malam?"
"Iya!"
"Dia pasti bahagia, apalagi ini adalah anak pertamanya."
"Iya Papa."
Makanan yang ada di piring ternyata sudah habis tak bersisa, pak Abraham tersenyum.
"Ternyata aku begitu merindukan masakanmu, semua habis tak bersisa."
"Ya, semoga Papa segera bisa berjalan seperti biasanya."
"Amiiin!"
Sabrina meletakkan piring kotor diatas nakas, ia tak langsung membawa nya ke dapur, karena ia melihat Kaila sudah mengantuk. Maklum, hari sudah beranjak malam.
"Kaila ngapain sayang?"
"Kaila ngantuk, Mama!"
Sabrina menghampiri Kaila yang sejak tadi duduk diatas sofa sambil memainkan boneka kesayangannya.
"Sini Mama pangku." Kaila berlari kecil menghampirinya yang sudah berdiri dihadapannya.
"Mau dibacakan buku?"
"Tidak, Kaila sudah nggak kuat lagi."
__ADS_1
Pak Abraham tersenyum melihat kelucuan cucunya, ia sungguh bahagia hari ini, dan ia tak ingin Sabrina pergi lagi membawa kebahagiaan itu darinya.
Tak memerlukan waktu yang lama, akhirnya Kaila sudah memejamkan matanya saking terkantuknya.