Ayah Anakku Kakak Kekasihku

Ayah Anakku Kakak Kekasihku
Bab 13


__ADS_3

Sabrina mendesah, menghela nafas berat, merasa penasaran dengan apa yang di katakan oleh Prasetya, dimana Prasetya tak akan menyentuh nya sebelum anaknya lahir.


Sabrina meraba raba tempat tidur, di temukan nya tubuh suaminya yang masih tertidur pulas, Sabrina mengelus wajahnya lembut, Prasetya membuka matanya, memegang tangan Sabrina yang masih aktif mengelus pipinya, menciumnya, kemudian membawanya kebawah pipinya.


"Kamu sudah bangun?"


"Udah, aku bangun karena Mas, ngorok tadi."


"Bo'ong, aku tidak pernah ngorok, kamu bohong!" ucap Prasetya seketika duduk dan memeluk Sabrina gemas.


"Aku nggak bohong, Mas beneran ngorok, rrrkkk ... rrrkkk ...." ucap Sabrina sambil menirukan suara dengkuran orang yang sedang ngorok.


"Kamu ngegemesin, tahu!" jawab Prasetya semakin memperkuat pelukannya, sambil menggelitik bagian perut Sabrina yang merupakan daerah sensitifnya. Prasetya menciumi belakang leher Sabrina yang tampak kegelian sehingga bulu bulunya meremang.


"Mas, lepas aku tidak kuat, geli Mas ...."


"Aku rasanya tidak kuat Bri, tapi bagaimana lagi, aku tidak boleh melakukannya, kan?"


Lagi lagi Prasetya bicara seperti itu, tidak boleh melakukannya, berarti tidak akan menyentuhnya, mungkin memang benar, bahwa malam itu, dirinya bukan bersama pria yang ada di samping nya saat ini.


"Kok diam, apa aku boleh melakukannya?"


"Lepas Mas, aku mau pipis, tolong ...."


"Mau pipis ... atau mau menghiiindaaar?" goda Prasetya.


"Beneran, aku mau ke kamar mandi."


"Oke, aku akan mengantarkan mu," kata Prasetiya.


Dengan sigap Prasetya mengangkat tubuh istrinya, yang semakin membuat Sabrina merasa rikuh dan khawatir, ia takut akan terjadi kembali hal yang tidak diinginkan.


"Mas, aku bisa sendiri!"


"Kenapa ... apa kamu takut, aku tak akan ngapa ngapain kamu, aku tahu batas sayang ...."


Sabrina terdiam, lagi lagi Sabrina merasa benar, kalau yang bersamanya adalah orang lain.


Prasetya menurunkan Sabrina dengan sangat hati-hati, kemudian keluar dari kamar mandi itu, menuju tempat tidur kembali, sebagai laki-laki dewasa, ia sangat sulit mengendalikan jiwa kelelakiannya, pisang ambon yang bersarang di celananya, menegang dan mengeras, di sana lah ia merasa tersiksa, tapi karena rasa hormat dan janji yang telah ia ucapkan, untuk tidak menyentuh Sabrina, iapun menghela nafas panjang dan berat. Kembali berbaring ketempat tidur, menanti Sabrina keluar dari kamar mandi.


Sabrina keluar dari kamar mandi, ia langsung menunaikan shalat subuh, dengan sangat khusuknya.


Prasetya bangkit, ia segera mandi dan setelah selesai iapun menyiapkan segala peralatan kantor yang akan dibawanya, sebelum memakai pakaian dinas kantor nya.

__ADS_1


Sabrina meletakkan mukenanya ditempat biasanya, kemudian mendekati Prasetya yang tengah asyik dengan laptopnya, Sabrina memeluknya dari belakang, mencium leher Prasetya lembut.


"Sayang ... jangan usil ... ah, aku lagi sibuk, nanti aku nekat!" Sabrina tetap tidak bergeming, masih memeluk Prasetya mesra.


"Apa kamu memang mau, hmm?" ucap Prasetya sambil memegang kedua tangan Sabrina, menoleh menatap Sabrina sehingga wajahnya tepat menyentuh wajah Sabrina. Jantung kembali berdetak kencang, menimbulkan rasa yang tidak ingin dilewatkan untuk di lalui.


"Bri ... aku sangat menginginkan nya, sayang ...."


"Benarkah?"


"Ya ... apakah kau mengizinkan?"


"Lihatlah, perutku semakin membesar, apakah kau tak kasihan padaku?"


"Bri ...." bisik Prasetya nafas yang semakin memburu. Sabrina tak ingin menyakiti Prasetya, ia melepaskan lelaki yang begitu dicintai nya itu, mencium pipinya lembut.


"Hari sudah siang, mari kita sarapan."


"Tidak Bri, aku sangat menginginkan semua, aku tak kuasa lagi menahan gejolak jiwaku yang semakin hari semakin meronta."


Sabrina tersenyum, menggeleng, menolak dengan lembut ajakan Prasetya.


Terdengar suara ketukan pintu, Sabrina beranjak dengan tongkatnya membuka pintu kamar itu.


"Iya Mbok, kami akan segera turun."


Sabrina kembali ke dekat suaminya, mengacak lembut rambut suaminya yang baru saja disisir, sedang Prasetya merapikan pakaian yang baru di kenakan nya, memang Sabrina selalu menciptakan kehangatan di antara mereka.


Prasetya memeluk kembali tubuh Sabrina dengan perut yang sudah membesar itu.


"Kalau kau tidak mau, jangan menggodaku, aku tidak tahan, tahu ...." Sabrina tersenyum.


"Mas, suka kan?"


"Aku suka sayang, tapi aku tidak kuat kalau kau terus menggoda, aku nanti khilaf!"


Mereka akhirnya menuju ruang makan, setelah kembali menyisir rambutnya yang baru diacak acak oleh Sabrina, disana sudah ada pak Abraham dan Arsen, menatap kemesraan Prasetya dan Sabrina.


Seketika wajah Arsen berubah, masam dan terlihat acuh tak acuh melihat kearah Prasetya.


Prasetya mengambil nasi dan lauk dan Sabrina menerima piring yang di sangka nya di ulurkan untuk dirinya. Tapi Prasetya menolak.


"Biar pagi ini, aku suapi kamu, aku akan manjain kamu."

__ADS_1


"Yang lagi HEPI," tukas pak Abraham.


"Kasihan Sabrina, Pa, sudah lama, aku tidak memperhatikannya, aku asyik kerja!"


"Betul itu Pras, apalagi itu anak pertama kalian, biasanya anak sulung itu akan menambahkan rasa cinta bagi kedua pasangan."


"Oh ya, memang aku tambah cinta saja padanya." Sabrina mencubit Prasetya, yang membuat Prasetya berteriak manja.


"Wadauuu, sakit sayang ...." tukik Prasetya sengaja menggoda Arsen yang sejak tadi hanya diam.


"Oh ya Mas, waktu mas Prasetya pulang malam, pas ada kecelakaan, mas pulang jam berapa sih?"


Uhuk, uhuk, Arsen tersedak seketika, ia segera mengambil air minum, dan kembali bersikap biasa.


"Jam empat dini hari, memang kenapa?"


"Hmm, ti_ tidak, tidak ada apa apa!"


Sabrina memang sengaja menanyakan itu dihadapan Arsen, dengan reaksi yang di dengarnya, Sabrina mengambil kesimpulan, bahwa Arsen lah yang telah melakukan semua itu padanya.


"Kalau tidak ada, kok nanya."


"Aku hanya tak ingin, Mas pulang terlalu malam, aku tidak mau mas sakit, mas tahu kan ... kalau mas sakit aku tidak bisa berbuat banyak untuk mu."


"Iya, sayang ...."


Sarapan pagi sudah selesai, Prasetya pamit pada Sabrina dan Papanya. Tapi sebelum Prasetya sempat mendekati papanya, Arsen terlebih dahulu mendekati papanya, tanpa bisa menyembunyikan senyum hambar saat melihat mereka, tanpa basa basi, Arsen pamit pada papanya sambil ngeloyor pergi, tanpa kata dan keramahan seperti biasanya.


"Itu akibat dari pertengkaran kalian kemaren, ada baiknya kamu minta maaf padanya, mana mungkin kakak mu sendiri akan mengambil istri kamu, apalagi sekarang istri mu sedang hamil besar, yang nggak nggak aja."


"Ya, aku akan memikirkan nya, aku berangkat dulu."


"Ya, Papa kekantor agak siangan, hati hati dijalan."


Prasetya mengangguk, menghampiri Sabrina yang berdiri tidak jauh dari nya, mencium pucuk kepala Sabrina penuh kelembutan, tanpa menghiraukan papanya yang memperhatikan mereka sambil geleng-geleng kepala.


Sepeninggal Prasetya Sabrina duduk di teras, merenungkan semua yang telah terjadi, mengingat kembali pergumulan antara dirinya dan dengan orang yang masih menjadi teka-teki baginya.


"Seandainya laki laki itu adalah Mas Arsen, mengapa sampai hati ia melakukan semua itu, tapi kenapa ia begitu mirip dengan mas Pras, apalagi suara itu, sangat sama dengan suara mas Pras, tapi kenapa mas Pras mengatakan tidak melakukannya." batin Sabrina bingung.


Lama Sabrina merenungkan semua itu, ia akan mencoba mencari tahu dengan seolah olah tidak terjadi apa-apa.


Menelisik dengan sangat hati-hati, mencoba memecahkan teka-teki hatinya yang demikian menakutkan itu.

__ADS_1


🌹 Karya ini masih banyak memiliki kekurangan, ayo berikan dukungan kalian, beri vote, like dan komentar nya, sesudah baca ya besti ....🌹


__ADS_2