Ayah Anakku Kakak Kekasihku

Ayah Anakku Kakak Kekasihku
Bab 24


__ADS_3

Tengah malam, mbok Minah membuka pintu kamar Kaila, ia sengaja melihat keadaan Kaila, karena Prasetya dan sabrina tak ada dirumah. Sehingga ia merasa bertanggung jawab atas kenyamanan putri kecil itu.


Mbok Minah sempat terkejut melihat sosok laki-laki yang sedang memeluk Kaila, tapi ia akhirnya mengelus dada lega, setelah mengenali laki laki itu. Sedangkan suster Rina tidur diatas sofa.


"Den Arsen ...."


Arsen yang menyadari keberadaan Mbok Minah segera terduduk.


"Mbok Minah ...."


"Aden sudah kembali, aku akan mengabari kabar baik ini pada tuan."


"Tidak Mbok ... jangan, aku mohon ... jangan bilang pada siapapun."


"Tapi mereka sangat mengkhawatirkan diri Aden."


"Akan lebih baik mereka tidak mengetahui keberadaan ku, Mbok ...."


"Kenapa, Den?"


"Karena aku ingin melihat Prasetya dan sabrina hidup bahagia."


"Apa Aden yakin?"


"Aku sangat yakin, biarkan aku menemui Kaila tanpa sepengetahuan siapapun, cukup kalian berdua saja yang tahu."


"Baiklah, kalau memang itu sudah menjadi keputusan Aden."


"Ya, Mbok ...."


"Aden selalu jaga kesehatan, Mbok kebelakang dulu."


"Iya, Mbok ...."


Arsen mengelus dada lega, ia hampir saja ketahuan, jika ia tak berhasil membujuk pembantunya itu.


Suster Rina yang masih tertidur lelap, sama sekali tak mengetahui kedatangan Mbok Minah.


"Dasar, tidur kok kayak orang mati, tidak tahu apapun."


Arsen menggerutu, melihat suster Rina yang sangat terlelap dalam tidurnya.


Arsen turun dari ranjang, ia mengunci pintu kamar Kaila, dan kembali lagi membaringkan badannya disisi Kaila. Memeluknya tanpa ingin jauh lagi.


****


Sabrina dan Prasetya telah selesai mengadakan ijab-kabul kedua mereka, keduanya tampak begitu bahagia, semua itu terpancar dari raut wajah keduanya.


Ucapan selamat terlontar untuk mereka, sehingga senyuman manis senantiasa menghiasi bibirnya keduanya.


Pak Abraham tetap dirumah Kakak nya, sedangkan Prasetya dan sabrina pergi kesebuah hotel, yang telah mereka pesan sebelumnya, itung-itung bulan madu sekalian.


Prasetya menatap wajah Sabrina, ia tersenyum, menyadari wanita yang begitu dicintainya itu, telah resmi menjadi istrinya, ia bahagia, sebab tak ada jarak lagi antara mereka, dan tak akan ada lagi yang akan menggoyahkan cinta mereka.

__ADS_1


Sabrina membiarkan saja Prasetya melakukan cumbu an padanya, tak ada lagi alasan bagi nya untuk menolak, meski ia masih penasaran, dengan siapa sosok laki-laki yang melakukan penyatuan mereka dulu, dia berpikir, apakah Prasetya memang tidak melakukannya, atau memang ia bersama dengan laki-laki lain.


Sabrina terus menikmati semua yang diberikan oleh Prasetya, dengan sesekali membalas serangan itu dengan begitu lembutnya.


Waktu hampir dua tahun, bukanlah waktu yang singkat, untuk bisa menahan seorang laki-laki tidak menyentuh pasangannya.


Oleh karena itu, Prasetya bagaikan singa kelaparan, menyerang Sabrina dengan begitu ganas, meraih puncak kenikmatan berkali-kali, sehingga membuat dirinya begitu candu pada semua lekuk tubuh Sabrina, mengulanginya dan ingin mengulangi nya kembali.


Sampai akhirnya, Prasetya terkapar di sisi Sabrina, kelelahan dengan sejuta kenikmatan dan kebahagiaan yang tiada tara.


"Terimakasih sayangku."


"Sama sama, Mas ...."


"Aku sangat bahagia sekali, apa kau merasakan apa yang aku rasakan?"


"Ya, aku bahagia."


"Akhirnya, setelah perjalanan yang begitu panjang ... aku bisa memiliki dirimu seutuhnya." Ucap Prasetya sambil mengecup pucuk kepala Sabrina.


Lain halnya yang dirasakan oleh Sabrina, jelas ia bisa membedakan, semua yang dirasakannya malam itu dibandingkan malam ini, ia bisa membedakan cara Prasetya menyatukan dirinya, dengan orang lain, yang entah siapa itu.


"Oh Tuhan ... apakah berarti aku telah mengkhianati suamiku?" tanpa sadar Sabrina meneteskan air mata. Ia menyesal ... Kenapa tak bisa melihat, kenapa ia buta ....


Airmata Sabrina terlihat oleh Prasetya, sehingga membuat Prasetya terkejut, dan memegang pipi Sabrina lembut.


"Kenapa sayang ... Kenapa kau menangis?"


"Aku bahagia, Mas ...." Jawab Sabrina berbohong, ia tak mau merusak kebahagiaan Prasetya, jika ia mengatakan apa yang di alaminya, ia tak ingin membuat Prasetya salah paham.


Prasetya yang menyadari kebohongan Sabrina, hanya diam.


Iapun tak mau merusak kebahagiaan mereka kali ini.


"Sayang ... lupa kan semua hal yang membuatmu sedih, aku ingin kita hanya menikmati kebahagiaan kita malam ini."


"Iya Mas ...."


Prasetya membawa Sabrina kedalam pelukannya, mereka tertidur dalam keadaan berpelukan, dengan membiarkan tubuh mereka terbalut kehangatan karena pelukannya itu, sebab mereka belum sempat mengenakan pakaian mereka. Hanya tertutup selimut tebal.


Hingga pagi tiba, ponsel Prasetya berdering begitu nyaring ditelinga Prasetya, karena ponsel itu tergelak di bawah tubuhnya.


"Siapa, Mas?" tanya sabrina yang ikut terusik dengan suara ponsel itu.


"Dari rumah, mungkin Kaila!" Prasetya menjawab ponsel itu.


"Halo?"


"Ya, Papa ... apa Papa sudah bangun?"


"Kamu Kaila ... sudah bangun?"


"Ya Papa ... Kaila sudah mandi, sudah makan dan sudah ...."

__ADS_1


"Sudah apa?"


"Lupa, mau ngomong apa!"


"Ya sudah, kamu main dulu ... Papa mau mandi dulu, ya ...."


"Apa Papa jadi buat adiknya?"


"Mau Kaila gimana, apa Papa harus buat adek?"


"Kaila mau ... nanti Papa pulang sama Mama, adiknya di bawa."


"Ya ... kamu main dulu ya ...."


"Ya , Papa ... daaa ...."


Prasetya menutup ponselnya sambil geleng-geleng kepala, ia tak habis pikir dengan perkataan putrinya itu.


"Ada apa, Mas?"


"Kaila masak nanya apa papanya sudah bikin adek, nggak waras!"


"Namanya anak kecil, Mas ...."


"Atau ... emang ... udah jadi ya ... adeknya Kaila?" ucap Prasetya menggoda Sabrina.


"Kamu Mas ... ada ada aja!"


"Kalau udah jadi kan ... Alhamdulillah."


"Mandilah Mas ... sudah siang."


"Aku ingin mengulanginya, aku masih pengen ...."


"Tapi,Mas ...."


"Kalau kau menolak, justru itulah yang membuat aku jadi penasaran."


"Apa kau tak capek?"


"Aku sudah lama menanti nya, dan setelah kenikmatan itu sudah halal dan terpampang didepan mataku, kau tanya aku capek ... aku justru capek menantinya, sayang ...."


Sabrina kembali membiarkan Prasetya bergerilya di setiap lekuk tubuhnya, ia hanya bisa sesekali membalas dan menikmatinya.


Hari ini, ia benar-benar merasakan kenikmatan dan kebahagiaan tiada tara.


Kebahagiaan yang selama ini dinantikannya.


Begitu juga dengan Prasetya, baru kali ini ia bisa meraih puncak kenikmatan bersama istrinya, sesuatu yang selalu dibayangkan nya selama ini, selama ini ia selalu menahan hasrat setiap kali mendekati Sabrina.


Hampir dua jam, keduanya berpacu, menyalurkan seluruh hasrat cinta dan kerinduan yang tertahan, hingga akhirnya terhempas di dermaga cinta yang memuaskan.


Prasetya kembali mengecup pucuk kepala Sabrina, ia tersenyum manis menunjukkan sebongkah kebahagiaan yang telah berhasil ia mereguknya bersama.

__ADS_1


Mungkin tidak ada kebahagiaan yang bisa menggantikan kebahagiaan mereka kali ini, seakan mereka tak pernah mendapatkan batu terjal untuk melangkah, seakan mereka tak pernah merasakan betapa tajamnya onak dan duri kehidupan, yang ada hanya senyum kedamaian, yang ada hanya bayangan kebahagiaan, padahal tanpa sepengetahuan mereka, sebuah takdir pahit sedang menanti.


Tanpa bisa dielakkan, tanpa bisa di tinggalkan, semua akan kembali pada kenyataan pahit, yang siap menerjang.


__ADS_2