
Pak Abraham menatap sabrina dan Prasetya dengan tatapan mata penuh ketidak sukaan, matanya memerah, menahan sejuta kemarahan, bagaimana tidak, ternyata bayi yang begitu disayanginya, bukan darah daging Prasetya.
Prasetya yang menyadari kemarahan papanya, mencoba memberikan pengertian, tapi apalah arti sebuah penjelasan, jika hati sudah dipenuhi amarah.
"Pa ... aku yang mengajak Sabrina menikah, dan bukankah papa sudah tahu, Sabrina saat itu baru mengalami pelecehan, dan saat itu, papa tidak mempermasalahkan semuanya."
"Semua itu karena aku tidak tahu, jika dia hamil."
"Tidak ada yang tahu selain kita, jadi apa salahnya kalau kaila bukan anak kandung ku, aku mencintai Sabrina pa, makanya aku menikahinya, dan ... aku tidak pernah sekalipun menyentuhnya selama ini, karena kita tahu, dia hamil anak dari orang yang tidak bertanggung jawab itu." Sabrina menunduk. Ternyata, saat ini kaila menjadi polemik di antara dirinya dan mertuanya.
"Kami punya komitmen, kami saling menghargai, sehingga tak pernah melewati batas-batas wajar."
"Aku tetap keberatan akan keputusan kalian, mana mungkin kalian akan nikah lagi, bukankah waktu itu orang tahu pernikahan kalian?"
"Kami akan tetap nikah kembali."
"Prasetya, apa kata orang?"
"Pa ... kami akan tetap menikah, walaupun tanpa persetujuan dari Papa."
"Baiklah, aku mengijinkan, tapi aku tak mau tahu ... jangan sampai pernikahan kedua kalian akan merusak reputasi keluarga kita."
"Aku hanya akan mengundang pak penghulu dan saksi saja."
"Apa bisa kamu menjamin tidak akan ada yang tahu?"
Semua diam, terutama Sabrina, ia tak mampu berkata apapun, saat ini ia menggantungkan nasibnya hanya pada pak Abraham, seandainya papa mertuanya itu tetap tak memberikan restu, maka mau tak mau ia akan pergi dari rumah itu.
"Bagaimana kalau diadakan di rumah bude?" kata Prasetya setelah beberapa saat berpikir.
"Di bandung?"
"Ya, bagaimana?"
"Baiklah, urus semuanya."
Prasetya mengangguk mengiyakan.
Pak Abraham menatap Sabrina, ia menerima Sabrina bukan lantaran ia suka pada Sabrina, ia sangat kecewa, tapi karena ia yakin, kehadiran Sabrina akan mampu merubah segalanya, terutama untuk kesembuhan Arsen.
"Aku berharap, kamu tidak mengecewakan aku!"
"Ya, Pa!"
Pak Abraham meninggalkan ruang, menuju ruang kerjanya, Prasetya mendekati Sabrina, dengan lembutnya ia memegang wajah sabrina, bagian dagunya.
Mengangkatnya sehingga mendongak, seakan Prasetya mengharap agar Sabrina menatap dirinya.
"Bri, apakah kau bisa merasakan betapa aku bahagia saat ini?"
"Ya, Mas ...."
"Cuma iya?"
"Jadi aku harus bilang apa?"
"Apakah kau masih mengingat wajahku?" Sabrina terdiam.
"Bri ...."
"Hmmm."
__ADS_1
"Kenapa kamu diam?"
"Aku hanya merenungkan nasibku, aku tak bisa melihat wajah suamiku sendiri, padahal dulu aku sangat bermimpi, setiap hari aku akan mengelus lembut pipinya, menatapnya, kemudian melihat senyum manis di bibir nya, tapi aku tak pernah bisa melakukannya, bahkan aku hanya menjadi beban baginya."
"Kenapa kau katakan itu, sayang?"
"Aku sangat menyayangimu, tapi aku tak bisa buktikan, rasa sayang itu, aku hanya bisa meminta tanpa melakukan apapun."
"Sudahlah, sini aku pangku!"
"Tidak ah, malu!"
"Kenapa harus malu, kan dirumah cuma ada mbok Minah dan suster."
Saat mereka asyik bercengkrama, tiba-tiba sister Rina menghampiri mereka.
"Ada apa, Sus?"
"Kaila ... Pak, ia demam, badannya sangat panas!"
Prasetya dan sabrina langsung bergegas menuju kamar kaila, setelah Prasetya memeriksa keadaan Kaila, akhirnya Prasetya memutuskan untuk membawa bayi kecilnya kerumah sakit.
Mereka menanti hasil pemeriksaan dari dokter, tak lama, akhirnya seorang dokter menemuinya.
"Bagaimana dengan anak saya, dok?"
"Maaf Pak, anak Bapak memerlukan donor darah secepatnya, sedang persediaan darah di rumah sakit sedang kosong."
"Apa golongan darah anak saya, dok?"
"Golongan darah anak Bapak, AB."
"Aku ... AB, dok ... ambil saja darahku."
Yang membuat Prasetya tidak habis pikir, kenapa darahnya sama dengan darah kaila, padahal mereka tidak ada hubungan darah. Atau ....
Belum sempat Prasetya berpikir terlalu jauh, Sabrina mendekati Prasetya, duduk disebelahnya, karena Prasetya harus beristirahat setelah mendonorkan darahnya.
"Terimakasih, Mas ...."
"Sudah seharusnya aku mendonorkan darahku, walau bagaimanapun, Kaila adalah anak aku, jadi sudah sepantasnya aku melakukan itu, tapi ...."
"Tapi apa, Mas?"
"Darah Kaila dan darahku sama padahal aku bukan ayah kandungnya, tidakkah kau merasa heran?"
"Iya ... Tapi siapa gerangan ayahnya, siapa pelakunya?"
"Sudahlah, Jangan terlalu kau pikirkan, yang penting Kaila baik baik saja."
"Terimakasih Mas ... atas segalanya, kau selalu mengerti akan diriku."
"Semua itu aku lakukan karena aku sangat mencintaimu, Bri ... makanya aku ingin kita segera menikah kembali. Aku tidak ingin kehilanganmu."
Prasetya tersenyum penuh arti menatap Sabrina, ia semakin yakin akan segera menghalalkan wanita beranak satu itu.
Keesokan harinya, Prasetya dan Sabrina telah di izinkan membawa Kaila pulang.
Ketika Prasetya akan pergi mengurus keperluan pernikahan mereka, terdengar suara ponsel berbunyi, ia segera mengangkat ponselnya dan menjawab ponsel itu yang ternyata dari RSJ.
"Ya, ada apa dok?"
__ADS_1
"Apakah bapak bisa membawa Sabrina kemari?"
"Ada apa, Buk?"
"Arsen tetap ingin bertemu dengan Sabrina."
"Apakah tidak bisa di tenangkan dengan obat saja, aku masih punya pekerjaan lain."
"Kenapa Bapak berkata demikian, kami akan melakukan yang terbaik untuk pasien, saya rasa pertemuannya dengan Sabrina itu lebih baik, bukankah sudah satu minggu Sabrina tak menjenguknya kesini, itulah kenapa dia selalu menyebut nyebut namanya."
"Oke, oke, akan kau usahakan."
Prasetya menutup ponselnya, Sabrina yang baru saja datang dari dapur, menghampiri Prasetya dengan heran mendengar nada bicaranya yang sedikit marah.
"Ada apa sih, Mas?"
"Itu telepon dari rumah sakit, kau disuruh kesana!"
"Lalu kenapa marah?"
"Karena apa kau pasti tahu, aku marah karena aku cemburu."
"Mas, tak jadi pergi mengurus keperluan pernikahan kita?"
"Makanya aku sebel, aku baru saja akan pergi kerumah pak penghulu, eh ponselnya berbunyi, apa aku bisa pergi, setelah kita disuruh ke RSJ?"
"Jadi ke RSJ nya sekarang?"
"Kapan lagi, ya sekarang lah."
"Tidak bisakah kau bersikap biasa saja?"
"Apa maksudmu?"
"Kenapa kau bersikap sinis, bukan aku yang menginginkan, tapi kakakmu yang minta aku kesana."
"Aku muak, aku ingin kita segera menikah, tapi kenapa selalu saja ada halangan nya."
"Aku juga tak mengerti, mungkin saat ini bukan waktu yang tepat untuk kita menikah."
"Maksudmu?"
"Masih banyak sekali kendala kita, pertama papa yang kurang menyetujui pernikahan kita, kedua Kaila sakit, dan ketiga saat ini, Mas Arsen membutuhkan aku."
"Ah, persetan dengan semua itu, aku akan tetap segera mengurus nya, setelah aku mengantarmu ke RSJ, aku akan pergi mengurusnya."
"Ya sudah, terserah Mas ... Yang penting Mas mengutamakan kebaikan kita semua."
"Kalau boleh jujur, aku tak suka kau bersama mas Arsen, aku tetap merasa cemburu, apalagi dia maunya dipeluk peluk sama kamu, bisa tidak kamu tidak memeluk dia?"
"Ya, aku akan berusaha, untuk tidak memeluk dia!"
"Jangan berusaha, tapi lakukan, aku tak mengizinkan kamu memeluk dia, kau hanya milikku."
"Ya, aku mengerti."
"Berjanjilah!"
"Aku tak bisa janji, Mas kan tahu posisiku, aku tak bisa berjanji."
"Atau memang kamu suka sama dia?"
__ADS_1
"Mas ... Jangan mulai lagi!"
Prasetya merengut, menunjukkan kecemburuannya. Akhirnya Prasetya berangkat ke RSJ, mengantarkan Sabrina untuk menemui Arsen.