Ayah Anakku Kakak Kekasihku

Ayah Anakku Kakak Kekasihku
Bab 33


__ADS_3

Sabrina menghentikan langkahnya, ia tak jadi memasuki pekarangan perumahan milik keluarga mertuanya itu, bukan karena ia tidak berminat, ia berhenti karena ia menyaksikan seorang wanita cantik dengan tinggi semampai, rambut setinggi bahu, yang tak pernah Sabrina melihatnya sebelumnya.


Ia berpikir, wanita itu adalah kekasih baru Prasetya.


Sabrina menghela nafasnya, dengan sangat berat hati akhirnya ia pergi meninggalkan tempat itu.


Sementara itu, wanita yang disaksikan oleh Sabrina itu, mengetuk pintu dan masuk kerumah itu setelah dipersilahkan oleh Mbok Minah.


Mbok Minah menemui Prasetya yang berada kamar, ia sengaja tak pergi kekantor hari ini, karena ia merasa tak nyaman dengan pikirannya.


Prasetya mengerutkan keningnya disaat mengetahui seorang wanita menemui nya, karena ia merasa tak ada janji untuk hari ini, dan tak mengenali wanita itu.


"Apakah kita ada janji?"


"Oh, Pak Prasetya bukan?" jawab wanita itu sambil mengulurkan tangannya. Bangkit dari duduknya.


"Ya, aku Prasetya." Menjabat tangan wanita itu pula.


"Aku Lusiana, pengacara pak Arsen!"


"Pengacara Mas Arsen, apakah anda mengetahui dimana mas Arsen?" wanita yang bernama Lusiana itu mengangguk.


"Maaf, aku tidak segera memberitahu mu perihal pak Arsen, semua ini saya lakukan karena saya melakukannya sesuai instruksi dari beliau."


"Katakan, dimana dia sekarang?"


"Beliau menyerahkan kan ini pada saya, untuk diserahkan pada Sabrina, apakah Sabrina ada dirumah?"


"Sabrina sudah pergi dari rumah ini, berikan padaku saja!"


"Ya, saya percaya padamu pak Prasetya, tentu, saya akan minta tolong untuk memberikan ini pada Sabrina." Kata Lusiana mengulurkan tangannya yang berisi sebuah berkas.


"Ini apa?"


"Ini adalah surat pengalihan kepemilikan seluruh harta kekayaan milik pak Arsen pada Sabrina."


"Apa maksudmu, memangnya ada apa dengan Mas Arsen sehingga dia memberikan seluruh hartanya kepada Sabrina?"

__ADS_1


"Sekali lagi saya minta maaf, saya memberitahukan berita ini setelah lama, bahwa pak Arsen sebenarnya sudah meninggal dunia, dia mengintruksikan untuk tidak memberitahukan kepada keluarganya setelah operasi mata Sabrina benar benar berhasil."


Prasetya membelalakkan matanya tak percaya, bagai disayat sembilu hatinya, ia semakin sadar jika selama ini Arsen memang mencintai Sabrina. Air matanya berderai begitu saja, ternyata saudara satu-satunya telah pergi untuk selamanya. Tangannya lemas, berkas yang ada ditangannya terjatuh begitu saja.


"Pak Prasetya, apakah saya bisa bicara?"


"Ya, cerita kan padaku perihal Kakakku!"


"Pak Arsen mengalami kecelakaan tunggal, ia mengalami cidera yang cukup parah, sehingga ia harus dirawat di rumah sakit selama beberapa hari, ia sengaja berniat memberikan matanya untuk Sabrina, karena kebetulan mata pak Arsen cocok untuk Sabrina."


"Banyak sekali kebetulan, apakah berkhianat itu juga kebetulan?"


"Bapak bilang apa?"


"Ah tidak, saya tidak bilang apa-apa?"


"Oh ya Pak Prasetya, pak Arsen meninggalkan surat untuk anda!"


Sekali lagi, Prasetya mengambil kertas putih yang disodorkan oleh Lusiana.


"Bukalah, itu adalah pesan terakhir yang diberikan oleh pak Arsen untuk anda, memang saya yang menulisnya, tapi semua itu adalah perkataan pak Arsen, saya tak menambahkan atau mengurangi nya."


Prasetya adikku,


Maaf, mungkin itulah yang paling pantas untuk memulai kata kata ini, bermula dari pelecehan yang terjadi pada Sabrina, itu adalah kesalahan yang terbesar yang pernah sengaja aku lakukan selama hidupku, ya aku sekarang jujur, akulah yang melakukan pelecehan itu.


Dan aku bertambah semakin mengagumi Sabrina, apalagi setelah mengetahui, jika dia hamil atas perbuatan ku, sehingga aku melakukan segala cara untuk mendekati Sabrina, bahkan aku hampir saja sembuh dari depresi yang aku derita selama itu, juga karena rasa cintaku pada Sabrina.


Prasetya, jangan pernah kau bebankan semua kesalahan ini pada Sabrina, karena dia tak mengetahui semuanya, aku yang telah memanipulasi keadaan.


Apakah kau ingat, kau pulang malam dan aku yang mengangkat ponsel Sabrina ketika dia tertidur? AKU MEMANG SEORANG BAJ*NGAN, aku memanfaatkan keadaan, aku menyamakan diriku dengan dirimu, aku mengambil Parfum mu dan suaraku aku miripkan dengan suara mu, sehingga Sabrina benar benar menganggap aku adalah dirimu, dan terjadilah penyatuan itu.


Apakah kau juga masih ingat kau menelpon ku untuk menyampaikan pada Sabrina jika kau akan pulang terlambat, disitu aku melakukan segala kebejatan ku, aku benar-benar minta maaf, aku memang seorang kakak yang tak pantas mendapatkan maafmu.


Tapi sekali lagi ku mohon, jangan pernah kau salahkan Sabrina, dia adalah seorang istri yang baik, dan dia benar benar tak tahu dengan semuanya.


Setelah kau membaca surat ini, maka berarti aku sudah tiada, karena saat kalimat ini ditulis, aku merasa jika hidupku sudah tak lama lagi, aku cuma mau menegaskan bahwa Sabrina berhak atas cintamu, aku tak pernah menemuinya lagi, itulah kenapa aku pergi dari rumah sakit tanpa sepengetahuan kalian, aku ingin menebus kesalahanku, aku ingin adikku bahagia bersama wanita yang dicintainya, aku ingin kau memaafkan Sabrina dan melupakan semua yang telah terjadi.

__ADS_1


aku sengaja mendonorkan mataku, karena aku ingin dia bisa membedakan sedang bersama siapa dia, aku ingin menjadi matanya disisa kehidupannya, aku ingin dia menyaksikan betapa besar cinta mu padanya dan yang paling penting adalah, aku ingin kau tahu, betapa aku menyayangimu.


Terakhir, tolong jaga buah hatiku untukku.


Jangan kau biarkan mereka jauh darimu, selain putrimu dan putriku, Kaila adalah keponakan mu juga.


Aku tahu kau telah sakit hati, tapi apa benar tak ada cinta lagi untukmu buat Sabrina?


Jangan sampai kau menyesal, jika dia telah pergi, maka carilah dia, sebelum kau menyesal karena benar benar kehilangan dirinya.


Kakakmu, Arsen.


Prasetya menghapus air matanya untuk kesekian kalinya, ia tak mampu untuk berpikir, ia tak tahu apakah tidak akan menyalahkan Sabrina setelah membaca surat dari Arsen, hatinya masih sakit, bahkan sangat sakit.


"Apakah kau tahu dimana mas Arsen dimakamkan?"


Bertepatan dengan perkataan yang diucapkan oleh Prasetya, pak Abraham dari ruang tengah didorong oleh suster Rina menuju ruang tamu itu.


Pak Abraham membelalakkan matanya, menatap pada Prasetya, airmata nya mengalir, ia seakan mau bicara tapi tak kuasa.


"Papa, aku minta maaf, aku juga tak tahu jika Mas Arsen sudah tiada."


"Ya, Pak Abraham, saya minta maaf karena saya tidak memberi kabar pada kalian, saya akan membawa kalian besok, dimana pak Arsen dimakamkan."


"Ya baiklah, terimakasih kau telah memberitahu kami!" jawab Prasetya.


"Ya, sama sama, mungkin saya permisi dulu, apa ada lagi yang bisa saya bantu?"


"Untuk sementara ini, cukup."


"Oke, baiklah kalau begitu, Pak ... saya permisi dulu!" ucap Lusiana sambil menepuk bahu pak Abraham.


Pak Abraham berusaha tersenyum lalu mengangguk.


Prasetya mengantarkan Lusiana sampai didepan, kemudian ia kembali mendapatkan Papa nya.


"Pa, Prasetya minta maaf, karena Prasetya bukan saudara yang baik untuk mas Arsen, aku bukan putera yang baik untuk Papa!"

__ADS_1


Pak Abraham hanya menunduk, ia semakin larut dalam kesedihannya, kembali meratapi nasibnya, yang ditinggalkan oleh orang orang yang dicintai dan di kasihinya.


__ADS_2