Ayah Anakku Kakak Kekasihku

Ayah Anakku Kakak Kekasihku
Bab 32


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang, Sabrina melihat Prasetya sedang berjalan masuk kedalam sebuah restoran, karena saat ini jam makan siang, ia segera menghentikan Azmi untuk menghentikan mobilnya.


"Ada apa, Bri?"


"Aku melihat suamiku, kau tunggu disini, aku ingin menemuinya!"


"Baiklah, aku akan menunggu disini!"


"Tapi jika kau akan pergi, silahkan aku tak apa apa!"


"Tidak, aku akan menanti mu disini!"


"Baiklah, aku pergi dulu."


Dengan masih memegangi perutnya yang terasa nyeri, Sabrina turun dari dalam mobil, berjalan dengan sedikit tertatih, menuju tempat dimana Prasetya berada.


Sabrina mencoba menguatkan dirinya, ia hanya ingin mengatakan jika dirinya saat ini sedang hamil.


"Mas ...." Panggil nya ketika sudah berada didekat Prasetya.


Prasetya menoleh, tapi ia justru memperlihatkan wajah yang jutek, tak peduli ada Sabrina disana.


"Aku mau bicara padamu, Mas!"


Prasetya masih diam saja, ia tetap menikmati hidangan dihadapannya.


"Sebegitu kah kebencianmu padaku, sehingga kau melihat aku saja tak mau?"


"Lalu jika kau tahu aku membenci dirimu, kenapa kau kemari, kenapa kau masih berdiri juga disitu?"


"Aku mau bicara, aku ingin kita bicara!"


"Hei ... pengunjung, lihatlah siapa yang kenal dengan wanita murahan ini, dia tak tahu malu, berani mengatakan jika aku adalah teman istimewa baginya, dasar murahan!"


"Mas!"


"Kenapa, kau keberatan aku mengatakan kau wanita murahan, lalu kenapa kau masih ada disini?"


Sabrina menangis, hatinya bagai disayat, sangat sakit dan pedih.


"Kenapa kau tak juga pergi, apa kau mau aku mengusirmu?"


Sabrina mendekat, ia tak peduli Prasetya memakinya, menghinanya, dan mengejeknya, ia rela karena ia sadar telah menyakiti hati suaminya itu.


Sabrina jongkok, ia memegang kaki Prasetya, Prasetya berusaha menarik kakinya, namun karena Sabrina terus memegang nya ia tak berhasil menarik kakinya.


"Apa kau perlu ku usir agar kau pergi meninggalkan aku?"


"Aku hanya ingin mengatakan jika kau sedang ham_"


"Apa, kau mau bilang apa lagi?" kata Prasetya sambil menuangkan air dalam gelas pada rambut Sabrina, sehingga basah kuyup.


Sabrina menggeleng, ia sama sekali tidak pernah membayangkan, suaminya akan sampai hati melakukan semua itu padanya.


Sabrina kian menangis, ia terisak, begitu pilu, menerima perlakuan Prasetya.


"Apa kau belum mau pergi juga, jika kau memang belum mau pergi, aku yang akan pergi!"


Prasetya berdiri dan mendorong badan Sabrina yang terduduk dihadapannya. Kemudian pergi begitu saja.

__ADS_1


"Mas ...."


Tak sedikitpun mendengar panggilan Sabrina, Prasetya terus pergi meninggalkan tempat itu, dengan membiarkan Sabrina basah oleh air, tanpa perasaan berdosa dan bersalah sedikitpun.


"Sungguh, kenapa aku harus bernasib sangat sial hari ini!" Isak Sabrina.


Sebuah tangan tengah terulur di hadapannya, Sabrina menoleh, ia menyaksikan Azmi telah disamping nya, mengulurkan tangannya untuk membantu Sabrina berdiri.


"Mari, kita tinggalkan tempat ini."


Sabrina masih terdiam, ia terpaku menatap Azmi, ia tak percaya, pemuda yang baru saja bertemu dengannya, aku memperlakukannya dengan sangat baik.


Sabrina mengambil uluran tangan Azmi, dan iapun berdiri, dengan berpegangan pada Azmi.


Dengan dibimbing Azmi, Sabrina meninggalkan kembali restoran itu.


Kembali masuk kedalam mobil, Sabrina hanya diam, tak bicara sedikitpun, membuat Azmi tak berani mengusik ketenangan nya.


Azmi menjalankan mobilnya, sambil sesekali menatap Sabrina yang masih menangis.


Azmi tadi sengaja mengikuti Sabrina, dan menyaksikan semua kejadian itu, sehingga ia tak berani berkata apapun, tapi lama kelamaan, iapun tak tega menyaksikan Sabrina terus larut dalam kesedihannya.


Azmi mengulurkan tisu pada Sabrina, dan Sabrina hanya bisa menerimanya begitu saja.


"Apakah aku tak salah dengar tadi, itukah yang kau maksud suamimu?"


"Ya, dia memang suamiku!"


"Kenapa dia berlaku demikian kasar padamu?"


"Sudah sewajarnya dia memperlakukannya aku seperti itu."


"Ya, aku memang salah, jadi wajar jika dia tega melakukan semua itu padaku."


"Apa kau juga tak waras?"


"Apa maksudmu?"


"kenapa kau hanya diam saja ketika dia mempermalukan mu?"


"Sudahlah, jangan bahas lagi, aku tak bisa berbuat apapun, yang jelas aku hanya ingin dia tahu jika aku sedang hamil, itu saja."


Tapi perlakuannya sangat tidak pantas."


"Apakah kau bisa untuk tidak bicara lagi?" akhirnya Azmi pun terdiam.


Setelah sekian lama, Azmi memberanikan diri untuk berbicara.


"Bagaimana jika kita singgah dulu, kita makan dulu barang kali?"


"Tidak, aku mau pulang saja, aku tidak lapar."


"Baiklah, jika itu keinginan mu, aku akan mengantarmu, aku paham kau pasti tak akan mau, selain basah tentu kau pun masih sedih."


Sabrina hanya tersenyum kecut dan mengangguk.


Azmi terus melajukan mobilnya, menuju alamat yang ditunjukkan oleh Sabrina, dan tidak memerlukan waktu lama, akhirnya mereka sampai di perumahan dimana Sabrina tinggal.


Azmi tak ikut masuk, ia langsung berpamitan pada Sabrina, karena ia tak enak hati, akan ikut kedalam.

__ADS_1


"Mari, apakah kau tak ikut aku masuk kedalam gang?"


"Tak usahlah, lain kali aja, aku masih ada urusan, kapan kapan saja aku datang, itupun jika aku mendapatkan izinmu."


"Tentu, Azmi!"


Azmi meninggalkan tempat itu, dan Sabrina kembali masuk kedalam melewati beberapa gang sempit, untuk mencapai rumah kontrakannya.


Sabrina disambut oleh Kaila, semua kesedihannya seakan hilang menyaksikan kelucuan putrinya yang menyambutnya.


"Mama ... Kaila tadi tidak tangis, Kaila pintal!"


"Iya dong ... anak Mama!


"Tapi ... Kenapa baju Mama basah?"


"Tadi hujan, apa disini tidak hujan?


"Tidak, Ma ...."


Sabrina menggendong Kaila, itulah obat seluruh kesedihan yang dialaminya. Jika tak ada Kaila, entah apa yang akan dilakukannya.


***


Disesi lain, Prasetya meninju dinding yang ada diruang kerjanya, bagaimana pun ia masih merasa cemburu menyaksikan Sabrina dengan laki laki lain, sepanjang perjalanannya hari ini, ia melihat Sabrina bersama dengan Azmi, sehingga ia bersikap demikian kejam pada istrinya itu.


"Aku tak suka kau bersama dengan laki-laki lain, Bri!"


Prasetya menggerutu, ia sadar dan tahu, jika dirinya masih mencintai Sabrina, tapi akibat kebencian yang begitu dalam, ia akhirnya tak menyadari tingkah dan kelakuannya sangat menyakitkan.


"Belum hilang rasa sakit yang kau torehkan akibat kau berkhianat dengan Mas Arsen, kau sudah bersama laki laki lain, sungguh kau tak mengerti betapa sebenernya aku masih mengharapkan dirimu."


Prasetya pulang, ia kembali menemukan rasa sunyi saat ia berada didalam kamar nya, disetiap tempat ia seakan melihat Sabrina sedang menggodanya, semua kenangan nya bersama Sabrina tergambar begitu jelas, semakin menambah rasa kerinduan yang berselimut kebencian.


Kadang disudut hatinya, ia masih ingin memperbaiki pertengkaran mereka, ia ingin memaafkan Sabrina, tapi karena keegoisan, akhirnya rasa itu terkalahkan oleh ketidakberdayaan.


Saat hendak membaringkan tubuhnya di atas sofa, Prasetya kembali dipanggil oleh Mbok Minah, mengatakan bahwa papanya sedang tidak baik-baik saja.


Prasetya segera keluar, ia menemui Papanya, yang saat ini sedang terbaring, menatap penuh penderitaan.


Selang tak berapa lama, setelah Sabrina pergi dari rumah itu, Pak Abraham tak lagi masuk kantor, ia selalu dirumah, ia seakan tak punya gairah hidup lagi.


"Ada apa lagi, Pa?"


"Tuan tidak bisa menggerakkan tangan dan badannya, Den!" jawab Mbok Minah.


"Yang bener, Mbok?"


"Iya, juga tak bisa bicara, sepertinya telah terjadi sesuatu pada tuan!"


Prasetya segera membawa papanya ke rumah sakit, dengan segenap perasaan yang demikian dibalut keresahan.


Sesampainya dirumah sakit, Prasetya langsung memastikan agar papanya mendapatkan pertolongan sesegera mungkin.


Tanpa bisa berbuat apapun, Prasetya harus terkejut mendengar bahwa papanya terkena stroke.


"Apa papa ingin aku membawa Sabrina dan Kaila?"


pak Abraham hanya mengangguk, dan semakin membuat Prasetya merasa sangat sedih menerima kenyataan sepahit ini.

__ADS_1


__ADS_2