Ayah Anakku Kakak Kekasihku

Ayah Anakku Kakak Kekasihku
Bab 26


__ADS_3

Prasetya membuka lemarinya, entah keberapa kalinya ia mencari piyamanya, sehingga membuat Sabrina merasa heran, melihat suaminya mondar mandir kearah lemari pakaian yang satu ke lemari pakaian yang lain.


"Mencari apa, Mas?"


"Apa kau tahu piyama aku yang hitam?"


"Piyama hitam ... aku tak pernah melihat nya, bahkan selama aku bisa melihat kembali, aku tak pernah melihatmu memakai piyama hitam, Mas ...."


"Dimana ya ... Ah aku coba tanya sama Mbok Minah aja."


"Iya, baiknya gitu!"


Prasetya menemui pembantunya, ia menyaksikan perempuan lima puluh tahun lebih itu sedang asyik bercengkrama dengan Kaila.


"Ya ... ada apa Den?" saat menyaksikan Prasetya berdiri didekatnya.


"Aku mau nanya, apa Mbok tahu dimana piyama hitamku, Mbok?"


"Piyama hitam?" Mbok Minah seperti sedang berpikir untuk mengingat ingat.


"Anu Den ... Mbok pernah lihat piyama hitam ada di lemari Den Arsen, tapi punya siapa Mbok tidak tahu."


"Dilemari Mas Arsen?"


"Ya, Den ...."


"Setahuku Mas Arsen tidak punya piyama warna hitam, tapi kok ada piyama hitam di lemari nya?"


"Entahlah, coba Aden lihat!"


"Iya, Mbok ...."


Prasetya menuju lantai dua untuk mencari piyamanya dikamar Arsen, ketika membuka lemari, ia langsung menemukan piyama itu disana.


Sejuta tanda tanya memenuhi dada nya, ia tak habis pikir kenapa piyama itu bisa sampai dilemari kakaknya, padahal sejak dulu, Arsen tak pernah mau memakai pakaiannya, meski dipaksa sekalipun. Tapi kali ini ada apa?


Prasetya turun dengan membawa piyamanya kekamar, ia tetap bertanya tanya dalam hati.


"Dimana kau menemukan nya?" tanya Sabrina tersenyum.


"Dikamar mas Arsen!" jawab Prasetya dengan nada yang sudah berbeda.


"Kok bisa ada disana?"


"Seharusnya aku yang bertanya padamu, kenapa piyama aku ada disana?"


"Aku tak mengerti apa apa, Mas ...."

__ADS_1


"Seharusnya kau mengerti!"


"Maksudnya apa?"


"Jangan lagi kau menutupinya dariku!"


"Menutupi apa, Mas?"


"Kau pasti tahu ketika mas Arsen mengambil baju ini, atau kau yang sengaja mengambilnya?"


"Apa kau pikir aku ...." Sabrina tak meneruskan kalimatnya.


"Ya, aku berpikir kau telah mengkhianati aku!"


"Mas ...."


"Apa, mengaku lah!"


"Apa yang harus aku akui?"


"Apa kau tahu, piyama ini tak akan bisa jalan sendiri jika tak ada yang membawanya, lalu kenapa Mas Arsen membawa piyama ini, jika dia tak masuk kamar ini, lalu pertanyaannya adalah ... UNTUK APA MAS ARSEN MASUK KEKAMAR INI?"


"Aku tak tahu!" Sabrina mulai tersudut atas tuduhan yang diberikan pada Prasetya padanya.


"Tak tahu, atau pura pura tak tahu?"


"Pada mulanya tidak, tapi sekarang iya!"


"Aku tak pernah mengkhianati mu!"


"Oh, ya benarkah?" tanya Prasetya seperti sengaja mengejek.


"Sekarang aku ingat, mana mungkin Mas Arsen tidak punya hubungan denganmu, sedangkan dia menganggap kau sebagai orang terdekat dia, bahkan kata dokter ... kau adalah perantara kesembuhannya."


"Aku sama sekali tak mengetahui semua itu."


"Aku tak menyangka, kau tega melakukan penghianatan ini."


"Penghianatan macam apa yang kau maksud?"


"Mana aku tahu, kaulah yang seharusnya bisa menjelaskan padaku."


"Mas ... kau tega!"


Prasetya beranjak meninggalkan kamar, tapi sampai dimuka pintu ia dihentikan oleh Sabrina, tapi yang sungguh mengejutkan Sabrina adalah, Prasetya menepis tangan Sabrina dengan kuat.


"Jauhkan tangan kotor mu itu dariku, aku tak sudi disentuh olehmu." Sabrina terhenyak, ia menutup mulutnya, ia tak menyangka Prasetya akan sanggup mengatakan semua itu padanya.

__ADS_1


Prasetya keluar, tak menghiraukan Sabrina yang kini menangis, ia merasa sangat sakit dituduh telah mengkhianati suaminya itu, padahal yang ia tahu, ia begitu sangat mencintainya.


Disela hatinya yang begitu hancur, ia teringat akan suatu malam, di mana ia bersama dengan seorang laki-laki yang dia sendiri tak tahu siapa.


"Oh Tuhan ... ternyata selain melecehkan aku, dia telah menjebak aku dengan tidur bersamanya, lalu apa yang harus aku lakukan?"


Sabrina kembali ingat, ketika dirinya pertama kali melihat Kaila, sangat mirip dengan Arsen, Sabrina kian tersiksa, ia tak sengaja melakukan itu, bahkan semua bukan atas keinginan dan kemauan nya.


Sabrina menyusul Prasetya, ia menemukan suaminya itu sedang duduk di sebuah sofa panjang, di ruang tamu, ia tampak acuh tak acuh melihat Sabrina yang datang mendekat.


"Mas ... apa kau berpikir aku akan tega mengkhianati mu?" tanya Sabrina setelah duduk disisi Prasetya. Prasetya menggeser duduknya, ia menjauh dari Sabrina.


Sabrina mendekati Prasetya lagi.


"Aku tak mau bicara padamu."


"Hanya karena piyama, kau tega menuduh aku seperti ini!"


"Aku yakin telah terjadi sesuatu antara kalian berdua, aku tak bisa kau bohongi." Prasetya kembali meninggalkan Sabrina, ia keluar, menuju mobilnya, kemudian pergi meninggalkan rumah, dan setelah malam baru kembali.


Sabrina menunggu kedatangan Prasetya, ia tak bisa tidur dengan beban pikiran yang terasa begitu menghimpitnya.


Prasetya tidak tidur di sisi Sabrina, ia mengambil bantal dan selimut kemudian membaringkan tubuhnya diatas sofa.


Sabrina hanya bisa pasrah, ia tak mau ribut di tengah malam seperti ini, ia tak ingin membuat Prasetya semakin marah, ia akan mencoba membicarakan masalah mereka lain waktu, saat ini ia hanya bisa menangisi nasibnya.


"Jika saja aku tidak buta, tentu semu itu tak akan terjadi." Bisik hatinya, sambil mengusap air mata nya yang kian lama kian membanjiri pipinya.


Prasetya memperhatikan semua itu, ia sendiri tak yakin benar akan semua yang telah ia tuduhkan, tapi sebelum ia mendapat kepastian akan kebenaran nya, ia tak akan bisa menerima Sabrina begitu saja, yang ia rasakan saat ini, ia merasa dikhianati.


Sampai pagi, keduanya tak mampu memejamkan matanya, namun keduanya juga tak mengacuhkan antara satu dengan yang lain, keduanya asyik dengan pikiran mereka masing-masing.


Prasetya terbayang semua kebersamaan Sabrina saat di RSJ, ia memang merasa lain dengan tingkah kakaknya, ia merasa kakaknya begitu menunjukkan bahwa keduanya pernah melakukan hubungan yang tak seharusnya.


Tiba-tiba, Prasetya ingat dengan Kaila, ia ingat saat Kaila sakit, dan terus memanggil manggil nama Papa tampan yang ternyata adalah Arsen, kemudian ia ingat ketika dirinya mendonorkan darah nya untuk Kaila.


"Ya ... ternyata semua itu bukan suatu kebetulan, mungkin mereka memang sengaja mengkhianati aku." Prasetya menatap wajah Sabrina penuh kebencian, ia rasanya muak dengan semua itu.


Ingin rasanya dirinya segera mengakhiri segalanya bersama Sabrina, kali ini ia benar-benar merasa sangat sakit, apalagi di khianati dengan saudara sendiri.


Menjelang subuh, Prasetya tertidur, sementara Sabrina tak bisa juga memejamkan matanya, ia masih terusik dengan pikirannya.


Masalah yang tidak pernah disangkanya, datang seakan menghancurkan segala kepercayaan yang selama ini mereka bangun.


Suara azan subuh terdengar berkumandang, Sabrina turun dari ranjang, ia membersihkan dirinya, kemudian mengambil air wudhu terus menunaikan kewajiban sebagai muslimah.


Setelah selesai, Sabrina masih takut untuk membangunkan Prasetya, ia tak kuasa membayangkan akan mendengar perkataan yang menyakitkan dari suaminya itu.

__ADS_1


__ADS_2