
Hari ini adalah hari minggu, seperti biasanya, Sabrina minta diantar ketempat orangtuanya, karena hanya pada hari itulah, Prasetya tidak pergi kekantor.
Diperjalanan, Prasetya memandangi wajah Sabrina dengan tatapan agak aneh. Entah apa yang sedang dipikirkannya, yang pasti, Prasetya sangat mengkhawatirkan keadaan Sabrina saat ini. Apalagi, Sabrina sudah memasuki bulan kelahiran.
Sabrina perlahan membuka pintu mobil disaat sudah sampai didepan rumah orang tuanya.
Lisa yang mendengar suara mobil berhenti, segera berlari menyambut kehadiran mereka.
"Mbak ... ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu, aku jamin kau terkejut."
"Oh ya, mana Mama?"
" Mama didalam."
"Bagaimana, keadaan nya?"
"Ya ... masih sama!"
"Kapan jadwal kontrol nya?"
"Besok."
Sabrina dan Prasetya masuk ke dalam rumah itu, membawa kantong plastik yang berisi buah.
"Ma ... bagaimana kabarmu?"
"Aku baik, lebih baik!"
Mama tirinya yang bernama Sonya itu, baru keluar dari rumah sakit, karena terkena stroke ringan. Dulu, ia sangat culas pada Sabrina, tapi akhir-akhir ini, Mama tirinya itu telah berubah. Bersikap sangat manis pada Sabrina, dan Sabrina merasa sangat bersyukur dengan perubahan Mama nya itu.
"Bagaimana kabar kandungan mu, Bri?"
"Sehat, dia sangat aktif bergerak didalam sana."
"Syukurlah, oh ya, mana Lisa tadi?"
"Aku disini, Ma ...." Sahut Lisa yang datang dari dapur, membawa minuman dingin. Sebuah cerek kecil dan empat buah gelas kosong.
Prasetya tersenyum, sambil meletakkan satu gelas yang diberikan oleh Lisa.
Lisa pun ikut bergabung dengan mereka.
"Apa yang akan kamu sampaikan, padaku, Lis?"
"Aku seminggu lagi mau nikah."
"Oh ya ... dengan siapa?"
"Dengan itu ... yang berambut panjang."
"Si Daniel?"
"Ya." Jawab Lisa sambil tertawa cengengesan.
"Alah ... dulu aja nggak mau, sekarang ...." Goda Sabrina.
"MBIYEN MOH ... SAIKI ... MOH UWES." Kata Sabrina menggoda lagi.
"Mbak Brina, apaan sih," sahut Lisa malu.
"Kalian ngomong apa sih?" Sela Prasetya tidak mengerti perkataan Sabrina. Sabrina dan keluarganya memang berasal dari suku Jawa,
sedangkan Prasetya berasal dari keturunan Melayu, keluarga nya pindah ke Jakarta waktu sedang mengandung dirinya.
"Aku penasaran, apasih artinya?"
"Dulu, Lisa paling benci dengan pemuda yang bernama Daniel, sudah lama cowok itu mau menikah dengan Lisa, tapi Lisa selalu menolak. Dulu nggak mau, sekarang nggak mau sudah."
"Kok nggak mau sudah, apa nya yang nggak mau sudah?"
"Itu nya, Mas ... masak nggak ngerti sih?"
__ADS_1
"Aku nggak ngerti, kalian entah ngomongin apa."
"Dulu tak mau pisang ambon, sekarang mau nya itu terus."
"Iiih, kamu kok mesum, sayang, gawat!"
"Loh, tadi kan Mas, yang tidak tahu, giliran di kasih tahu kok bilang aku mesum."
"Tahu jawabannya jorok, mana mungkin aku nanya."
"Eh, Mas, nikah itu seru nggak sih?"
"Seru sih ... lebih seru lagi kalau lagi ...."
"Lagi apa, Mas?"
"Ah, kayak tidak tahu aja."
"Giliran kamu yang mesum, Mas ... Mas," tawa Sabrina.
Suasana ruang tamu, dirumah kediaman nyonya Sonya, siang ini tampak begitu bahagia. Nyonya Sonya tiba-tiba memegang tangan Sabrina lembut.
"Bri ... Mama sangat merasa bersalah padamu, sejak kepergian papamu, Mama sering atau bahkan selalu bersikap tidak baik padamu, kalau saja kau berkenan, maka maafkanlah Mama."
"Tiada satupun kesalahan Mama yang tidak aku maafkan, aku selalu memaafkan Mama, jauh sebelum Mama minta maaf padaku."
Saat ini nyonya Sonya, berjalan dengan menggunakan bantuan tongkat, ia berjalan dengan sedikit tertatih, penjualan ikan di pasar, terpaksa di hentikan, keuangan untuk menutupi kebutuhan mereka, saat ini di tanggung oleh Prasetya, sejak saat itulah Mama tirinya itu berubah, bersikap baik padanya.
"Oh ya, Lis, acara pestanya di adakan di mana?"
"Di rumah saja, pernikahannya diadakan secara sederhana saja, aku tidak mau terlalu merepotkan, kalau di adakan dengan meriah, mbak Brina tahu sendiri, kan ... bagaimana keadaan Mama saat ini."
"Apakah keluarga Daniel tidak keberatan, mereka adalah keluarga yang bisa di katakan orang berada."
"Tidak, semua mereka pasrahkan padaku, dan aku kasihan sama Mama, nanti kecapekan."
"Ya ... semoga semua berjalan dengan lancar."
"Oh ya, Mbak, sesudah kami nikah, aku akan ikut Mas Daniel, pindah ke luar kota, kemungkinan kami akan menetap disana."
"Ya, aku akan bawa Mama!"
"Seru kali ya, Lis, kapan kapan kami main ketempat kalian." Sela Prasetya.
"Kan masih lama, Mas ...."
percakapan mereka berhenti, ketika sebuah mobil mewah berhenti di halaman yang tidak begitu luas itu, sesosok pria berbadan atletis keluar dari mobil itu, semua mata tak berkedip memandang ketampanan pria yang baru datang itu, seulas senyum terurai, menunjukkan sikapnya yang ramah dan sopan. Ketika sampai di muka pintu, ia berdiri sebentar, kemudian mengucapkan salam.
"Siapa, Lis?"
"Mas, Daniel!"
"Selamat siang Mbak, apa kabar kalian semua?"
"Kami baik, kamu sendiri bagaimana?"
"Saya ... Alhamdulillah baik, ini suami Mbak?"
"Iya, kenalkan, ini Mas Pras, Mas Pras ini Daniel."
"Jadi ini ... yang dulu sempat buat aku cemburu?"
"Apaan sih, Mas!" ucap Lisa menyikut Daniel, malu.
"Kenapa, kamu memangnya naksir aku ya?"
"Mas Daniel, ada ada aja!"
"Hidup itu perlu santai, jangan serius terus, cepat tua."
"Tapi, bercanda nya jangan gitu kali, nanti ganti Mbak Brina yang cemburu."
__ADS_1
Prasetya dan Daniel terlibat obrolan yang serius, tetap diruang tamu, sedangkan Sabrina, Lisa dan Mama nya, pergi kebelakang. Mencari tempat sendiri untuk ngobrol agar mereka sama-sama merasa nyaman.
"Bisa kita nanti ... saling bekerja sama, kan Mas?"
"Oh, tentu, kenapa tidak!"
Usaha Daniel bergerak di bidang jasa dan komunikasi, Daniel sendiri adalah pimpinan perusahaan, sekaligus merangkap kepala pemasaran.
Ia, memerlukan banyak alat transportasi untuk kelancaran usahanya, dan Prasetya bisa menyediakan apa yang menjadi keperluan Daniel, Sungguh sebuah pertemuan yang saling menguntungkan.
"Kamu ... di mana kenal sama Lisa?"
"Kami sama sama kuliah Mas, Mas sendiri dimana kenal dengan Mbak Brina?"
Prasetya tersenyum mendengar pertanyaan Daniel, ia terbayang saat pertama kali bertemu dengan Sabrina.
Siang itu Sabrina pulang dari kampus, sengaja singgah ke supermarket terdekat. Saat itu Sabrina yang hendak menyeberang tidak menyadari sebuah mobil truk yang sedang di kemudikan Prasetya, sudah semakin dekat, sedang disamping Sabrina ada sebuah jalan yang agak cekung, dan ada genangan air didalamnya, tanpa disadari oleh Prasetiya, baju Sabrina kotor, buku yang ada di tangannya jatuh ke air tersebut.
"Mas ... Mas ... berhenti!" tapi teriakan Sabrina tak di dengarnya, padahal buku yang basah tersebut berisi makalah yang harus dikumpulkan nya keesokan harinya.
Dari kaca spion Prasetya menyadari bahwa, ada seorang gadis yang sedang melambaikan tangan padanya, Prasetya segera memundurkan mobilnya, tepat disamping Sabrina.
"Nona memanggil saya?"
"Ya, Mas ... saya mau, Mas membantu saya!"
Prasetya turun dari mobil truk itu.
"Bantu apa, saya terburu buru."
"Ya, karena terburu-buru, Mas tidak sadar telah merugikan saya."
Saat kejadian itu, Prasetya baru menyelesaikan kuliahnya, seminggu lagi ia akan diwisuda.
"Ada yang bisa saya bantu?"
"Makalah yang harus saya kumpulkan besok, rusak, jatuh ke air."
Prasetya menatap buku yang di tunjuk oleh Sabrina.
"Jadi saya, harus melakukan apa?"
"Lihatlah dulu, apa yang bisa anda lakukan."
"Apa Nona marah?" Prasetya mengambilnya.
"Tenanglah, aku akan bertanggung jawab, besok pagi aku akan mengantarkan makalah ini didepan rumah mu, mana alamatmu?"
"Jangan main main, aku serius, makalah ini akan di kumpulkan besok."
"Kenalkan, aku Prasetya Abraham Dirja."
Sabrina terkejut mendengar nama itu disebutkan, siapa yang tidak kenal dengan keluarga Abraham, pengusaha sukses yang sering menggunakan jasa ayahnya.
"Aku Sabrina."
"Sabrina?"
"Ya!"
"Senang bisa berkenalan dengan mu, aku permisi dulu."
"Ya ... aku tunggu besok pagi!"
Prasetya akhirnya mengerjakan semalaman, bersama dengan teman-teman nya. Sehingga pagi harinya ia menepati janjinya, mengantarkan makalah yang akan di kumpulkan.
Prasetya masih saja tersenyum, kemudian menceritakan semuanya pada Daniel.
"Sungguh pertemuan yang menyenangkan."
"Ya ... begitulah!"
__ADS_1
Lisa memanggil mereka berdua untuk makan siang, sehingga akhirnya percakapan mereka pun berhenti.
Terimakasih kasih sudah mampir, jangan lupa tinggalkan jejak kalian, jejak kalian adalah motivasi terbesar untuk author.