
Tak terasa malam beranjak sudah semakin larut, namun rasanya Prasetya tak ingin meninggalkan Sabrina, ia merasakan betapa kerinduan nya tak juga terobati, meski ia sudah bersama dengan Sabrina beberapa jam yang lalu.
"Sayang ... apa boleh aku nginap disini?" Sabrina mendongakkan kepalanya, menatap Prasetya lekat.
"Apa aku tak salah dengar?"
"Tidak, aku rasanya tak ingin pulang malam ini, aku ingin bersamamu, aku ingin tidur bersamamu, apa boleh?"
"Mas ... bagaimana dengan Papa, apa ada orang dirumah?"
"Ada, Mbok Minah, suster Rina dan pak Ujang juga!"
"Apa yakin mau nginap disini?"
"Ya, aku yakin asal kau mengijinkan."
"Aku mengijinkan, aku senang jika Mas mau disini!"
"Benarkah?"
Prasetya kembali memeluk Sabrina penuh kehangatan.
Mereka berdua duduk disofa, saling melepaskan kerinduan. Tiba tiba Prasetya memegang perut Sabrina, ia merasa ada yang lain.
"Bri ... apa kau hamil?"
"lihatlah, menurut mu bagaimana?"
"Aku serius, kau gemuk atau hamil?"
"Aku hamil Mas, ini anakmu!"
"Alhamdulillah, ya Allah ...." Prasetya menciumi wajah Sabrina tanpa ampun dengan disertai linangan air mata bahagia.
"Kenapa kau tak mengatakan padaku?"
"Aku yang tak mau memberitahu atau kau yang tak mau mendengarkan?"
"Maksudmu?"
"Apa Mas ingat ketika di restoran, aku akan mengatakan padamu, tapi justru kau menyiram ku dengan segelas air."
"Astaghfirullah, maafkan aku ... sekali lagi maafkan aku, betapa bodohnya aku, sehingga memperlakukan dirimu sampai seperti itu karena kecemburuan ini."
"Aku sendiri baru mengetahuinya saat aku bertemu denganmu direstoran itu."
"Aku bahagia mengetahui kau hamil, aku bahagia karena aku sebentar lagi akan menjadi seorang ayah, dan aku tak ingin kau pergi jauh lagi dariku, berjanjilah untuk selalu disamping ku!"
"Aku pun bahagia, Mas ...."
Prasetya mengangkat tubuh Sabrina, dengan manja Sabrina menggelayut kan tangannya dipundak Prasetya.
"Kau akan membawaku kemana?"
"Aku akan membawa mu kekamar, aku akan menjadikan mu seorang istri yang mendapatkan kasih sayang dari suaminya, seperti sebelumnya."
"Jangan kan bermanja dengan mu, dekat dengan mu seperti ini saja aku sudah bahagia."
Prasetya menurunkan Sabrina, tepat disisi tempat tidur, Sabrina yang masih berdiri menatap suaminya dengan pandangan mata yang sayu, seakan menunjukkan betapa dirinya sangat merindukannya.
"Mas ... kau mau apa?"
"Apa kau tak rindu padaku?"
Sabrina terdiam, ia menatap Kaila kemudian menatap Prasetya.
Prasetya tersenyum, ia mengerti maksud istrinya itu, iapun jongkok dan membawa Kaila kekamar sebelah, bersama Naila.
Sekembalinya Prasetya dari kamar sebelah, ia tak kuasa lagi menyembunyikan perasaan rindunya, dengan begitu bersemangat ia melakukan penyatuan dengan Sabrina.
"Apa kau bahagia?" tanya Sabrina.
"Aku bahagia sekali, setelah ini ... mari kita berjanji untuk tidak saling berpisah lagi."
"Aku berjanji."
"Seberapa besar ujian cinta kita, maka jangan pernah kau lari meninggalkan aku!"
__ADS_1
"Apakah masih ada cobaan lagi setelah kita bersatu lagi?" tanya Sabrina polos.
"Kita manusia, maka kita tak akan pernah tahu apa yang digariskan Tuhan untuk kita."
"Asalkan kau tak mengkhianati cinta kita, aku berjanji akan selalu bersama dengan mu."
"Bri ... aku bagai orang gila semenjak kau tak ada disamping ku, aku bak kehilangan arah dan tujuan."
"Aku juga!"
"Apa kau tahu, saat pengacara Mas Arsen datang, dan dia mengatakan segalanya, aku merasa sangat menyesal, aku sangat takut kehilanganmu."
Sementara Prasetya asyik menceritakan perihal keadaannya saat tak ada Sabrina bersamanya, Sabrina malah tertidur dengan lelapnya. Prasetya mengusap wajah Sabrina penuh kasih sayang.
"Kau begitu cantik istriku!" Prasetya menarik selimut tebal, menutupi bagian tubuh mereka yang masih polos, keduanya akhirnya tertidur sampai pagi menjelang.
****
Tok tok tok, Kaila mengetuk pintu kamar itu berulang kali, sambil memanggil manggil Mama nya.
"Mama, Mama ... buka pintunya Ma, buka pintunya!"
Sabrina menggeliat kan badannya, ia sempat terkejut melihat ada sosok laki-laki disampingnya. Tapi ia akhirnya kembali sadar jika semalam ia telah bersama suaminya.
Prasetya juga akhirnya membuka matanya. Ia tersenyum melihat Sabrina.
"Kau ...."
"Iya sayang ... ini aku!"
"Astaga, aku lupa." Sabrina terkekeh dan mencubit pipi Prasetya gemas.
"Cepatlah, kasihan Kaila, mandilah!"
"Aduh ... Mas, handuknya jauh sekali!" Sabrina berusaha menjangkau handuk yang tersangkut di rak, sebelahnya.
Prasetya mencoba mengambilnya, dengan susah payah akhirnya Prasetya berhasil mengambilnya.
"Ma ... Mama buka pintunya, Kaila mau masuk."
"Iya sayang, sebentaaar!"
"Mama mandi, Kaila diluar dulu sama kak Naila, ya!"
"Iya Ma, kalau begitu Kaila akan pelgi ke lumah Kak Naila, ya ...."
"Iya sayang ...."
Prasetya garuk-garuk kepala, ia tersenyum menyadari kenyataan jika semalam telah bersama Sabrina dan membiarkan anaknya tidur diruang lain demi ingin berduaan dengan sang istri tercinta.
"Kok senyum senyum sendiri, ngapain?"
"Begini kalau punya anak udah besar, mau deketin Mama nya harus nyuri waktu."
"Kamu bisa aja, Mas!"
"Coba kamu bayangkan deh, jika saat kikuk kikuk, tiba tiba Kaila datang, nanggung nggak tuh!"
"Ah Mas, mesum aja, cepat mandi sana!"
"Aku mesum cuma sama kamu sayang ...."
"Masih gombal, aku cubit kamu, ayo mandi sana, aku mau masak, bikin sarapan untuk kita."
"Ya, aku sudah kangen masakan kamu."
Sabrina siap melangkahkan kakinya, tapi Prasetya menahannya.
"Ada apa lagi?"
"Apa bajuku?"
"Baju Mas aja, yang tadi malam Mas pakai."
"Masak itu, kan bau?"
"Lalu mana lagi?"
__ADS_1
"Apa kau tak punya pakaian ku?"
"Untuk apa aku membawa pakaian mu?"
"Untuk melepaskan rasa rindu, kali."
"Ah Mas ini, aku nanti tak jadi masak, Mas ...."
Prasetya memeluk Sabrina, dengan masih mengenakan handuk saja.
"Lepaskan Mas ...."
"Apa kau tahu, aku tadi malam geregetan melihat mu tertidur saat aku asyik bercerita, kau biarkan aku sendiri berbicara."
"Masak sih?"
"Ya, aku bagai orang gila, bicara seolah tak waras saja."
"Aku tentu akan letih mendengar ocehan mu."
"Satu lagi, aku terkejut melihat kau telah memakai busana seperti ini, saat pertama kali melihat mu, setelah kau pergi dari rumah, aku bangga padamu, aku semakin mencintaimu."
"Belum juga?"
"Apanya?"
"Ngomongnya, Mas ...."
"Ya, sudah sudah!"
"Kalau begitu lepaskan aku!"
Prasetya menghadiahkan sebuah kecupan di kening Sabrina, Sabrina menghapusnya.
"Kok dihapus?"
"Abis, Mas jorok, nafasnya bau, belum mandi."
"Oh ya, aku lupa!"
"Nanti boleh kan?"
"Boleh lah, eh ... apanya?"
"Ciumnya, ngeres atau mesum?"
"Nggak ...."
"Itu tadi apa?"
"Bodoh ah, sana mandi, aku akan masak." Kata Sabrina sambil mendorong tubuh Prasetya.
Prasetya hanya tersenyum nakal.
Kaila kembali sebelum Sabrina selesai memasak, ia heran melihat Mama nya yang demikian lambat hari ini. Ia tak tahu jika Papa nya ada dirumahnya.
Ketika Kaila ingin protes, Prasetya sudah memeluk nya dari belakang.
"Ih Mama, masak nya lama banget, kan Kaila udah laper?"
"Ah, masak anak Papa udah lapar?"
"Hai, Papa disini?"
"Iya, Papa disini, nanti kita kerumah eyang, kita pindah lagi disana."
"Pergi Mas, belum pindah!"
"Lalu kapan pindah pulang nya, sayang ...."
"Aku lihat dulu keadaanku, aku masih sibuk ngurusin butik aku, Mas!"
"Butik ... kamu punya butik?"
"Iya!"
"Tidak, aku tak ijinkan kamu bekerja lagi, kamu harus banyak istirahat, kamu lagi hamil sayang ...."
__ADS_1
Sabrina keceplosan mengatakan masalah butiknya, ia tak ingat jika ia merahasiakan masalah itu dari Prasetya.
"Masalah butik, kita akan bahas nanti, aku akan buat perhitungan dengan mu." Bisik Prasetya ditelinga Sabrina.