
Suara ponsel Arsen berdering berkali kali, ia masih sibuk di kamar mandi, setelah beberapa menit barulah ia menghubungi nomor Prasetya yang ternyata tadi menelponnya.
"Ada apa Pras?"
"Aku mau bilang, aku agak terlambat pulang Mas, Sabrina aku telepon tidak aktif, bilang tidak usah menunggu, aku masih ada pekerjaan."
"Ya, nanti aku akan sampai kan!"
"Makasih Mas, aku tutup dulu."
Arsen tersenyum, kemudian mengenakan bajunya, kemudian keluar kamar dan mencari Sabrina.
Di ruang tamu tidak ada, di teras juga tidak ada, mau tidak mau Arsen menuju kamar Sabrina, iapun ingin mengetuk terlebih dulu pintu kamar itu, tapi pintu itu sedikit terbuka, mungkin Sabrina lupa menutup nya, sehingga Arsen masuk begitu saja.
Arsen memanggil Sabrina berulang kali, tapi tidak ada sahutan, suara gemericik air terdengar dari arah kamar mandi, Arsen membuka pintu kamar mandi itu. Semula tidak ada niat Arsen untuk melakukan hal-hal di luar batas seperti saat itu, tapi karena tanpa sengaja ia melihat tubuh Sabrina yang polos tanpa sehelai benangpun, tiba-tiba pusakanya mengeras, hasrat nya memuncak, tadi hanya akan mengatakan bahwasanya Prasetya akan pulang malam, kini timbul di hatinya akan menggantikan Prasetya.
Tanpa berpikir panjang, ia mengunci pintu kamar , lalu memakai kembali parfum Prasetya, agar Sabrina tidak curiga tentunya, setelah itu iapun kembali kearah kamar mandi lalu masuk ke dalamnya, dengan lembut ia menyapa Sabrina.
"Sayang ... aku temani mandi ya ...."
"Mas, sudah pulang?"
"Sudah sayang, aku cepat pulang, aku tidak betah lama-lama jauh dari kamu," kata Arsen sambil mengelus lembut permukaan tubuh Sabrina.
Sabrina sama sekali tidak menolak, malah ia sangat menikmati sentuhan itu.
Arsen memeluk Sabrina dari belakang, tangannya dengan nakal meremas lembut kedua gunung kembar milik Sabrina, Sabrina menggeliatkan geli, namun Sabrina merasakan nikmat itu, nafasnya mulai tidak beraturan, iapun menggenggam tangan Arsen, Arsen tak membuang kesempatan, ia meraba, meremas dan menciumi sekujur tubuh Sabrina, kian kemari dan akhirnya berhenti di lembah berumput halus dengan sejuta hasrat yang kian memuncak.
Sesapan demi sesapan, berhasil membawa angan membumbung jauh nun di atas awan, belaian kasih menggambarkan rasa keinginan yang membara dalam lubuk hati yang paling dalam.
Arsen membalikkan tubuh Sabrina dan mendorong Kedinding kamar mandi, menyalurkan segenap hasrat dalam hati, menenggelamkan perahu cinta dalam manisnya lautan asmara, sehingga membuih, dan bergelombang, beriak mengalun dan berdebur, akhirnya terhempas dalam kenikmatan yang bahkan membuat keduanya mabuk kepayang.
Mereka sama sama merasakan betapa manisnya madu cinta, sama sama terlena dengan buaian asmara mereka, Sabrina benar benar merasa candu dengan semua itu, sehingga ia terus-menerus mengikuti irama kenikmatan yang di salurkan oleh keperkasaan Arsen.
Arsen membawa Sabrina keluar dari kamar mandi, membopongnya dengan tanpa melepaskan tautan bibir mereka, Arsen membaringkan tubuh molek yang putih itu diatas tempat tidur, tangannya yang nakal terus saja menyusuri semua lekuk tubuh Sabrina yang demikian menggairahkan. Dari bibirnya, lidah Arsen terus menyapu bagian dada Sabrina, Sabrina kian menggelinjang, menahan letupan letupan gairah yang kian berkobar.
Saat mereka hampir mencapai kenikmatan untuk ke sekian kalinya, terdengar suara pintu di ketuk dari luar, Arsen sempat tersentak, "Jangan jangan Prasetya pulang!" pikirnya.
Tok tok tok, pintu kembali di ketuk kembali, karena tidak ada sahutan dari dalam, mereka menghentikan aktivitas mereka, Sabrina menyahut.
"Siapa?"
"Saya Non, makan malam telah siap!"
"Iya, mbok, aku akan turun sebentar lagi."
__ADS_1
Terdengar suara langkah kaki meninggalkan kamar itu, Arsen kembali memberikan serangannya, menutup bibir Sabrina dengan bibirnya, saling membelit lidah, sementara tangan Arsen menancapkan senjata pamungkasnya ke dalam gua pertahanan milik Sabrina, Arsen melakukan gerakan maju-mundur yang membuat Sabrina mendesah panjang dan sembari memejamkan matanya, untuk meresapi, kenikmatan yang sungguh memabukkan.
Arsen menarik Sabrina, merubah posisi, saat ini Sabrina berada di atas Arsen, Arsen menggoyang goyangkan pinggul Sabrina, keatas dan kebawah, sehingga membuat Sabrina merem melek, mereka lupa dengan waktu, Arsen kembali memimpin permainan dan beberapa menit kemudian iapun menyudahi permainan itu, karena ia sadar bahwa hari sudah malam, dan ia takut kalau Prasetya akan segera pulang.
"Sayang, kamu mandi gih sana, kan sudah di panggil si Mbok!"
"Mas aja duluan, aku masih capek, boleh kan?"
"Baiklah, aku duluan"
Arsen merasa bingung, melihat bajunya tadi basah oleh air, ia mondar mandir, tanpa pikir panjang ia mengambil baju milik Prasetya dan segera memakainya, kemudian menghampiri Sabrina.
"Kok mandinya cuma sebentar, Mas?"
"Bri, aku lupa, aku ada janji di luar, aku harus keluar sebentar!"
"Tapi ini sudah malam, Mas ...."
"Gimana lagi, aku pergi dulu ya, kamu cepet mandi, setelah itu kamu makan, tunggu aku, oke?"
"Iya, Mas!"
Arsen segera keluar dari kamar itu, dengan mengendap endap, agar tidak yang memergokinya.
"Amaaan, tidak ada yang tahu, tapi aku sungguh tidak akan bisa melupakan malam ini, gila, kau benar benar telah membuat aku gila, Bri!" kata hati Arsen bahagia.
Arsen meletakkan baju piyama Prasetya begitu saja dalam kain kotor miliknya, setelah selesai mandi, iapun segera turun kebawah, dan iapun sudah menemukan Sabrina di ruang makan itu.
"Hai, Bri, mana Pras?"
"Mas Pras, lagi keluar, ada janji katanya."
"Malam malam begini?"
"Terlanjur janji katanya!"
"Pulang malam?" kata pak Abraham.
"Tidak, mungkin sebentar lagi pulang!" mereka mengangguk, sembari meneruskan kunyahan di mulut mereka.
Seusai makan, Sabrina menuju teras, ia sengaja menanti Prasetya, tak lama kemudian Arsen datang, seolah tidak terjadi sesuatu pun diantara mereka berdua. Di pandangi nya wajah cantik Sabrina, yang kini tengah mengandung buah hatinya, Arsen semakin penasaran, apakah anak dalam kandungan Sabrina itu laki laki atau perempuan.
"Andai saja, aku yang menikahi mu dulu, pasti aku tidak main kucing-kucingan seperti ini, aku dengan sepuasnya bisa mendekati mu , kapanpun aku mau, hadeeeh, aku jadi pusing sendiri," batin Arsen.
Sabrina menoleh, seakan merasakan kehadiran Arsen.
__ADS_1
"Siapa?"
"Aku Bri, kamu lagi ngapain di sini?"
"Lagi nungguin, Mas Pras."
"Tak usah di tunggu, lebih baik kamu istirahat, ini udah malam, tidak baik untuk kesehatan mu."
"Mungkin sebentar lagi Mas Pras akan pulang."
Benar saja, tak berapa lama, Prasetya datang, Sabrina tersenyum, mendengar suara mobil berhenti, kemudian berdiri dan berjalan mendekati arah mobil itu.
"Sudahlah, tidak usah kemari, ayo kita masuk!" kata Prasetya sambil memeluk Sabrina mesra, otomatis membuat Arsen merasa cemburu. Ia menatap tidak suka pada kedua pasangan itu.
Tanpa memperdulikan Arsen, Prasetya terus membawa Sabrina masuk kedalam kamar.
"Kok belum tidur, kenapa?"
"Aku belum ngantuk, jadi aku memutuskan untuk menunggu Mas, saja."
"Loh, kok, sprei nya udah di ganti, kan baru tadi pagi di ganti?"
"Ba_ basah, kena air!" jawab Sabrina, mengira Prasetya hanya menggoda nya saja.
"Air apa sampai ke kasur, sayang?"
"Ram_ rambutku, Mas ...."
Prasetya tersenyum, kemudian mengelus rambut Sabrina penuh rasa sayang.
"Makanya sebelum duduk atau berbaring, keringkan dulu rambutnya."
Sabrina mengerutkan keningnya, tak habis pikir, kenapa Prasetya terus menggoda dirinya.
"Udah makan?"
"Udah Mas, mau ku ambilkan makan?"
"Tidak, cukup temani saja aku nanti, aku mandi dulu!"
"Mandi ... bukankah sebelum pergi tadi, Mas Prasetya sudah mandi, aneh ...." Kata hati Sabrina.
"Mas ...."
"Ya, ada apa?" Prasetya berhenti dan menoleh.
__ADS_1
"Tidak, tidak ada." Sabrina akhirnya diam.
"Mungkin dia merasa tidak nyaman karena berkeringat, makanya mandi lagi." Yakinnya pada dirinya sendiri.