
Mobil yang membawa dokter Sasa perlahan meninggalkan parkiran rumah sakit. Dokter Sasa tidak menyadari bahwa mobil mereka di ikuti, lain halnya dengan sang kakak yang dari tadi menyadari bahwa mobil mereka di ikuti.
Dokter Sasa bingung melihat jalan yang di lewati, karena jalan bukan menuju mansion. Marvelo yang melihat wajah kebingungan sang adik pun segera buka suara.
"Kamu kakak antar di hotel" mobil kita di ikuti. Setelah penjelasan dari sang kakak dokter Sasa tidak lagi bertanya.
Marvelo langsung memberhentikan mobil nya tepat di depan lobi hotel menyuruh dokter Sasa keluar." Segera masuk ke kamar jangan membuka pintu untuk orang yang tidak di kenal". Setelah memperingati Adik nya Marvelo langsung pergi meninggalkan hotel. Dokter Sasa memang selalu menurut apa yang di katakan Kakaknya setelah perkataan kedua orang tuannya.
Evan yang melihat mobil yang di tumpangi gadisnya pun bingung kenapa mereka ke hotel. Melihat itu Evan sudah berpikir yang negatif.
"Dasar murahan". Evan yang terlanjur berpikir negatif tentang dokter Sasa menuduh dokter Sasa sebagai wanita murahan tanpa mencari tahu kebenaran nya.
__ADS_1
Evan memberi kunci mobilnya pada security yang berjaga. Karena hotel yang saat ini ia datangi merupakan miliknya.
Evan masuk melewati lobi dan karyawan yang melihat kedatangan bos mereka pun sedikit terkejut melihat sang pemilik hotel datang tidak seperti biasanya.
Evan seperti biasa hanya menampilkan wajah dingin dan datar nya saja. Evan mendekati meja resepsionis menanyakan kamar yang di tempati dokter Sasa.
"Kamar berapa yang di tempati atas nama Sasa?".Tanpa basa basi Evan bertanya pada resepsionis yang berjaga.
Mendengar apa yang keluar dari mulut resepsionis itu menambah kemarahan Evan bagaimana tidak kamar yang di tempati dokter Sasa saat ini hanya orang - orang tertentu yang bisa menempatinya tapi sekarang seorang dokter Sasa bagaimana bisa menempati kamar tersebut. Namun untuk saat ini bukan itu yang ia ingin tahu.
Evan berjalan menuju kamar dokter Sasa berada. Evan mengetuk pintu kamar dokter Sasa dan tidak lama pintu terbuka.
__ADS_1
Dokter Sasa tanpa pikir panjang langsung membuka pintu dengan masih memakai piyama tidurnya yang memang sedikit terbuka, karena ia mengira yang mengetuk pintu kamarnya orang yang ia telpon untuk mengantar makanan ke kamarnya karena di rumah sakit dokter Sasa memang belum sempat makan malam . Melihat apa yang di hadapannya saat ini Evan bertambah emosi dengan alasan tidak jelas.
Dokter Sasa mengerut keningnya kenapa pria asing ini ada di depan kamarnya. "Maaf tuan anda mencari siapa"? Dokter Sasa belum menyadari penampilannya saat ini.
Tanpa menjawab pertanyaan dokter Sasa, Evan langsung masuk dan mengunci pintu kamar. Melihat apa yang di lakukan oleh Evan tentu membuat dokter Sasa takut.
"Dasar wanita murahan". Evan membuka kancing bajunya satu persatu mendekati dokter Sasa yang mundur sampai membentuk tembok kamar yang ia tempati.
"Apa yang anda inginkan"? Dokter Sasa memberanikan diri bertanya walau suaranya bergetar mengatakan karena melihat gelagat aneh pria yang ada di depannya saat ini.
"Saya akan membayar kamu lebih tinggi dari pada yang lain". "Apa ma maksud kamu dokter Sasa dengan gugup bertanya"?
__ADS_1
"Jangan sok suci". Evan berkata dengan nada merendahkan melihat penampilan dokter Sasa saat ini.
Bersambung