
Evan masih belum menyerah, berjalan mendekat ke kamar mandi mungkin wanitanya di dalam pikirannya.
tok
tok
tok
Tak ada jawaban. Evan membuka pintu mengarah pandangan keseluruhan namun nihil, dirinya tidak menunjukkan wanitanya di dalam.
Evan buru - buru keluar menuju resepsionis untuk menanyakan orang yang menempati kamar dokter Sasa.
" Kapan orang yang menempati kamar nomor 103 meninggalkan kamarnya?" Evan langsung saja langsung ke inti pembicaraan.
Resepsionis menjelaskan ada seorang wanita yang di gendong oleh pria keluar dari hotel tak lama setelah kepergian sang tuan. Namun mereka tidak tahu siapa yang di bawa oleh pria tersebut, Untuk dokter Sasa mereka tidak ada yang tahu. Karena mereka pikir dokter Sasa masih ada di kamar.
Mendengar penjelasan dari resepsionis tangan Evan mengepal. Siapa orang yang di maksud oleh resepsionis tersebut. Hanya orang - orang tertentu yang memiliki akses di mana kamar Yaang ia tempati.
Evan pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun pada resepsionis yang bertugas.
Evan akan memberi pelajaran pada pria yang berani menyentuh miliknya. Yang ia pikir saat ini bagaimana cara menemukan keberadaan wanitanya karena selama ini ia juga sulit mencari identitas wanita itu. Evan mendesah frustasi di dalam kamar yang ia tempati semalam bersama wanitanya.
Evan berjalan di dekat lemari mengambil sprei yang terdapat bukti kesucian wanitanya yang ia ambil. Melipat sprei tersebut memasukan ke paper bag.
***
__ADS_1
Marvelo masih setia memandangi wajah pucat sang adik sejak pulang dari hotel belum juga mengatakan sesuatu atau bicara padanya. Marvelo yang ingin menanyakan perihal apa yang terjadi pada Sasa asik ya mengurungkan niatnya mengingat perkataan dokter yang memeriksa sang adik.
Di mansion Alex
Semua sudah berkumpul di meja makan, begitu juga anak-anak Alex dan Alana duduk di kursi khususnya. Alana melayani suami mengambilkan nasi juga lauk untuk di letakkan di piring Alex. Selesai melayani sang suami, Alana mengambilkan makanan untuk anak-anaknya.
Tasya mengambil sendiri makanan meletakan dipiting untuk ia makan. Wili yang berniat mengambil makanan untuk dirinya sendiri terhenti mendengar suara Alana.
Asisten Willi. "Biar aku saja yang mengambilkan untuk asisten Willi." Mendengar kalimat yang keluar dari mulut Alana Alex menatap tajam pada sang asisten sekaligus sahabatnya itu. Mana ikhlas istri kecil ya melayani pria lain sekalipun sahabatnya sendiri.
"Sayang." Tasya yang sedang asyik dengan makanan yang ada di piring menoleh mendengar suara sang kakak.
Tasya melihat tatapan tajam kakaknya pun berdiri mengerti maksud dari tatapan pria arogan yang merupakan kakak kandung nya itu. Berjalan mendekat di mana Will duduk untuk melayani pria es plus kaku menurut Tasya.
Alana kembali duduk di sebelah Alex sang suami untuk menikmati makan malam mereka.
"Terima kasih." Willi melirik sekilas ke arah Tasya kemudian fokus dengan piring nya di atas meja.
Tasya kembali duduk di tempat semula."Kenapa aku seperti seorang istri." Batin Tasya sesekali melirik asisten kakaknya itu makan dengan tenang di tempatnya.
Selesai makan, semua tengah bersantai di ruang keluarga termasuk Will.
Alana meminta izin pada suaminya untuk ke kamar sebentar, untuk memastikan apa benar yang ia rasakan saat ini.
Tasya. " Jagain sebentar adek sama Abang, kakak mau ke kamar sebentar." Alana beranjak setelah permintaan di setujui oleh adik iparnya.
__ADS_1
Alex yang melihat Alana menaiki tangga segera menyusul, Namun sebelumnya ia meminta pada Tasya dan juga Will untuk menjaga ketiga buah hatinya.
"Tolong jagain mereka sebentar, kakak ada perlu. Willi tolong bantuin Tasya lihat anak - anak gue." Alex langsung pergi meninggalkan dua orang dewasa itu serta tiga balita di ruangan tamu.
Arcelio Arselio hanya asyik menonton film kartun kesukaan mereka di atas karpet tebal. Beda dengan adik mereka lebih memilih bermain boneka setelah kepergian Alana untuk ke kamar.
Bosan bermain sendirian. Arelsa beranjak dari tempat ia duduk, berjalan mendekati Will yang sedang asyik mengecek email yang masuk di ponsel nya.
Will yang sedang serius di kejutkan dengan gadis kecil yang duduk di pangkuan dirinya dengan tiba - tiba.
"Uncel." Arelsa melihat Will dengan mata bulat yang jernih itu dengan mengemaskan. Willi yang kaku saja bisa lembut dengan gadis kecil yang tersenyum memperlihatkan dua cekungan di kedua pipi gadis Alex dan Alana.
Tasya hanya melihat interaksi ponakan cantiknya dengan si pria es itu ber manja. Sepertinya ponakan cantiknya itu sudah mengantuk di lihat dari matanya yang sudah merah.
Arcelio Arselio yang sedang menonton rupanya juga sudah tertidur dengan damai. Tasya yang menyadari dua ponakan tampan yang sudah tertidur mendekat untuk memastikan, ternyata benar dugaan nya.
Tasya yang melihat Will yang sedang memangku Arelsa yang sudah tertidur dengan sebelah tangannya untuk menahan tubuh mungil Arelsa pun menyuruh Will meletakan Arelsa di sebelah kedua abangnya, Karena melihat Will yang sudah capek memangku Arelsa.
Mendengar apa yang Tasya katakan Will pun menuruti nya. Jujur tangannya memang sudah kram menahan gadis mungil yang sedang tertidur itu.
Suasana menjadi canggung antara Will juga Tasya. Mereka berdua seperti keluarga kecil yang sedang menjaga buah hati mereka sendiri.
***
Alana yang tidak tahu akan kedatangan Alex suaminya dengan santai membuka pakaian di bagian bawahnya. Ia merasa belum waktunya datang tamu bulanannya apa mungkin hanya perasaan nya saja.
__ADS_1
Alex yang melihat apa di lakukan Alana seketika memanggil istri kecilnya. Di pikiran Alex sekarang akan ber olah raga panas bersama sang istri secepat mungkin.
Bersambung