BABY TWINS MAFIA AROGAN

BABY TWINS MAFIA AROGAN
50. Gagal


__ADS_3

Alex mengendong tubuh mungil gadis kecilnya. Arelsa dengan manja merebahkan kepalanya di pundak sang Daddy.


Alana sampai tempat Alex dan asisten Willi saat ini. Alex memberikan kecupan singkat di pelipis istri kecilnya dengan mesra tanpa mempedulikan Will di sana.


"Uncel". Semua orang dewasa yang berdiri di halaman yang luas itu menoleh pada gadis kecil yang masih ber manja di gendongan sang Daddy, menunggu kalimat selanjutnya yang akan di ucapkan gadis Alex dan Alana itu.


"Mamam di Uma Arel". (Makan di rumah . Mengedipkan mata lucu pada Will yang masih setia memandang gadis cantik yang berada di gendongan atasan sekaligus sahabatnya.


Jujur Will yang memang pada dasarnya kaku mengangguk kepala seraya tersenyum lembut pada gadis kecilnya Alex juga Alana.


Mereka semua masuk ke mansion. Alex tersenyum melihat dua pria kecil yang merupakan duplikat dirinya tengah berdiri di teras.


Alex mengusap lembut kepala Arcelio Arselio dengan lembut secara bergantian. Arcelio Arselio hanya menampil senyum tipis melihat Daddy mereka.


Alex naik ke lantai dua untuk mandi karena sebentar lagi akan datang sholat Maghrib dan juga untuk makan malam. Begitu juga dengan Will yang masuk kamar yang biasa dirinya tempati jika berada di mansion Alex.


Tasya yang sudah berencana akan menginap di rumah Alex karena sudah merindukan ketiga ponakan yang tampan juga cantik berniat akan menginap di mansion Alex biar lebih banyak waktu untuk bermain.


Baru saja Alana Alex yang ingin masuk lift menghentikan langkahnya karena mendengar suara Tasya yang memanggil. Alex menyuruh Alana juga tiga anak mereka untuk di ruang tamu saja, dengan alasan Tasya yang bisa membantu melihat anak - anak mereka sementara dirinya akan mandi terlebih dahulu sebelum makan.


***

__ADS_1


Marvelo yang melihat wajah pucat sang adik langsung menempelkan tangannya di kening dokter Sasa. Karena panik dengan sang adik, ia sampai membangunkan tidur nyenyak Sasa yang baru saja terpejam.


"Kamu demam sayang. Sebaiknya kita pulang supaya bisa di periksa oleh dokter". Marvelo menyibak sedikit selimut yang di pakai oleh sang adik wajah Marvelo terkejut dengan apa yang ia lihat di tubuh adik perempuannya.


Dia bukan pria polos yang tidak tahu tanda yang di lihat di bagian leher jenjang sang adik. Banyak sekali tanda kepemilikan yang di tinggal di sana. Yang menjadi pertanyaan Marvelo bagaimana tanda itu bisa ada di bagian tubuh adiknya.


Dokter Sasa tidak bergeming sejak kehadiran sang kakak. Di sini baru Marvelo menyadari perubahan pada dokter Sasa. Marvelo kembali menyelimuti sang adik untuk di bawa pulang ke mansion mereka agar sang adik bisa segera di periksa.


Marvelo mengendong dokter Sasa seperti yang ia lakukan saat keluar dari hotel di mana dokter Sasa menginap malam tadi untuk sampai di kamar sang adik.


Marvelo meletakan dokter Sasa di ranjang king size reaksi sang adik sama seperti di hotel tadi. Tidak menunggu lama, Marvelo langsung menelpon dokter pribadi keluarga mereka.


"Permisi tuan muda. Dokternya sudah datang". Kepala pelayan menunduk sebelum meninggalkan kamar.


Dokter yang merupakan dokter pribadi keluarga Marvelo tersebut segera melaksanakan tugasnya untuk memeriksa nona muda di rumah itu.


"Bagaimana keadaan adik saya dok".Marvelo bertanya setelah melihat dokter sudah selesai memeriksa adik tercinta.


"Nona muda mengalami trauma berat tuan. Dilihat dari pemeriksaan saya, nona muda ditiduri secara paksa istilah kasarnya di perk*s* tuan".


Mendengar penjelasan dari dokter Marvelo begitu terpukul, adik yang ia jaga di rusak oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

__ADS_1


Setelah kepergian dokter. Marvelo mendekat di mana adiknya terbaring lemah menatap kosong tidak bicara semenjak ia bawa pulang dari hotel.


"Maaf kan kakak sayang", Marvelo mencium kening sang adik yang mengeluarkan air mata tanpa suara. Melihat itu hati marvelo sebagai kakak begitu sakit melihat kondisi adik yang ia jaga di rusak oleh orang.


"Bagaimana ini, mommy dan Daddy pasti terpukul dengan kondisi Sasa". Belum lagi gue akan di hajar habis - habisan oleh Daddy.


Dua hari lagi kedua orang tua nya kan pulang dari perjalanan bisnis luar negeri. "Habis lah gue di tangan Daddy". Gumam marvelo dalam hati.


***


Evan saat ini sedang rapat dengan klien yang di luar negeri. Ia merasa rapat kali ini begitu lama.


Akhirnya selesai juga gumamnya pelan sambil melihat jam tangan yang melingkar di tangan kekarnya. Biasanya para bawahannya yang tidak sabar ingin cepat selesai jika rapat di adakan karena takut kemarahan sang bos.


Evan membuka pintu kamar hotel langsung menuju di mana dokter Sasa ia tinggal pagi tadi.


Cek lek


Evan masuk dengan tidak sabar ingin segera melakukan olahraga di ranjang bersama wanitanya, namun ia harus menelan pil pahit ketika mendapati ranjang yang kosong.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2