
Keesokan harinya, seperti biasa Jingga selalu membuat bekal untuk dua orang, biasanya ia menyatukannya dalam satu tempat. Namun, kali ini ia membedakannya, satu untuk Nabila, satu untuk temannya. Ia hanya membawa makanan tambahan saja karena sekolah sudah menyediakan makanan pokok.
Nabila tak begitu suka dengan makanan tersebut membuat Jingga meminta izin untuk membawa beberapa lauk sendiri dari rumah.
Jingga menghampiri Nabila dan memberikan kotak bekal tersebut.
"Bu, kok dua kotak bekal?" tanya Nabila.
"Iya, satu untuk Nabila dan satu untuk teman Nabila agar kalian tak saling mengganggu saat makan. Oh ya, kapan-kapan ibu mau dong berkenalan dengan teman Nabila," ucap Jingga membuat Nabila menjadi diam.
Semenjak Nabila mengatakan jika ia memiliki teman dan berbagi makanan denganya. Sikapnya jadi berubah, anak itu lebih pendiam dan terlihat ada ketakutan di wajahnya saat Jingga membahas masalah teman yang dikatakan oleh putrinya itu.
"Kenapa, Nak? Boleh kan ibu kenalan juga dengan temannya Nabila?"
Nabila kembali terdiam, ia bahkan menunduk dan memainkan jemarinya.
"Ya sudah kalau memang ibu nggak boleh bertemu, nggak apa-apa. Ya sudah, sekarang Nabila berangkat nanti ikut sama Ayah," ucap Jingga mengusap punggung putrinya kemudian mengantarnya menghampiri Gantara yang sudah memanaskan mobil bersama dengan Alif, biasanya Gantara akan mengantarkan Nabila terlebih dahulu bersama dengan Alif sebelum pergi ke kantor, karena memang jalurnya tak searah dengan sekolah Nabila, membuat Alif yang kadang ingin ikut mengantar kakaknya.
__ADS_1
Setelah mengantar Nabila, Gantara akan kembali mengantar Alif pulang, walau sedikit merepotkan ia sama sekali tak keberatan.
Gantara sangat bisa untuk membayar sopir, mengantar dan menjemput Nabila. Namun, Gantara ingin mengantar sendiri Nabila ke sekolah, agar hubungan mereka lebih dekat, mengingat Gantara lebih banyak menghabiskan waktu di kantor dan biasa pulang saat malam hari, membuat mereka akan memanfaatkan waktu semaksimal mungkin. Mengantar jemput ke sekolah merupakan waktu yang bisa mereka habiskan bersama saat di perjalanan.
Jingga melambaikan tangan saat mobil suaminya itu berangkat keluar dari pintu gerbang, membawa kedua anaknya, Nabila dan juga Alif. Ada kecurigaan di hatinya, siapa teman yang selama ini bermain dengan Nabila. Ada kekhawatiran jika dia bukanlah teman yang baik, membuat Jingga memutuskan akan mencari tahu hal tersebut.
Sebelum melangkah lebih jauh, Jingga ingin mendiskusikan hal itu terlebih dahulu dengan suaminya, walau bagaimanapun Gantara adalah kepala keluarga di rumah itu. Walau Nabila adalah putrinya, tetap saja ia harus menghormati Gantara yang sudah menganggap Nabila seperti putrinya sendiri.
****
Sementara itu, Nabila yang sudah sampai melambaikan tangan pada ayah dan adiknya, kemudian ia pun masuk bersama dengan guru pembimbing. Nabila melihat ke arah tempat di mana ia biasa bertemu dengan Ambar dan Ambar ada di sana, seperti biasanya berdiri memyambut Nabila.
"Nabila melambaikan tangan dengan siapa?" gumam Gantara melihat Nabila yang tadinya melambaikan tangan ke arahnya mengubah lambaian tangannya menuju ke arah lain, Gantara mencoba untuk melihat ke arah yang dilihat oleh Nabilah. Namun, ia tak melihat siapapun di sana. "Mungkin ada temannya di sana." Gantara menuju ke kediamannya, membawa pulang Alif dan ia pun kembali melanjutkan mobilnya menuju ke kantor.
Jingga yang tak bisa menahan rasa penasarannya menelepon guru pembimbing yang selama ini mengajar di kelas Nabila.
"Halo, Bu. Aku ingin tanya, apa di kelas juga ada murid baru?" tanyanya.
__ADS_1
"Nggak ada, Bu. Semua masih murid yang lama, memangnya ada apa, Bu?" tanya guru pembimbing tersebut.
"Oh nggak apa-apa, aku pikir Nabila punya teman baru. Teman pindahan dari sekolah lain, beberapa hari ini dia mengatakan dia punya teman dan berbagi makanan dengannya, aku pikir itu teman baru."
"Nggak ada kok Bu, mungkin mereka saling berbagi bekal dari rumah masing-masing sebagai lauk," jelas pembimbing tersebut membuat Jingga pun hanya mengiyakan saja.
"Ya sudah, Bu. Kalau begitu saya tutup dulu teleponnya," ucap Jingga mengakhiri panggilan mereka. Baru saja Jingga mematikan panggilannya sebuah telepon kembali masuk dan itu telepon dari guru pembimbing yang sama, ia langsung mengangkatnya.
"Iya, Bu. Ada apa?" tanya Jingga.
"Oh iya, Bu. Selama beberapa hari ini Nabila memang mengambil catering di kantin sekolah dan memakannya di luar, kami sudah melarangnya, tapi Nabila tetap bersikeras untuk makan di luar."
"Benarkah? Apa ada anak lain yang datang ke sekolah? Bukan murid dari sekolah?" tanya Jingga, mungkin saja anaknya itu makan bersama dengan seseorang yang tak sekolah di sekolah yang sama, hal itu semakin membuat Jingga khawatir. Bagaimana jika anak itu adalah anak yang memiliki niat jahat pada Jingga.
"Tentu saja tidak, Bu. Di sekolahan ini tak sembarang orang bisa masuk, hanya petugas sekolah dan murid saja. Mungkin dia makan dengan kelas lain, Bu. Dia punya teman di kelas lain, nanti kami akan coba periksa dan mengawasi Nabila."
"Oh ya sudah, Bu. Terima kasih, Bu. Tolong ya, saya sangat penasaran dan juga khawatir, takutnya Nabila berteman dengan orang yang tak baik," ucap Jingga membuat ibu pembimbing tersebut pun mengiyakan apa yang dikatakan oleh Jingga.
__ADS_1
Selama beberapa hari ini Nabila memang selalu makan di luar, terkadang ia ditegur oleh guru pembimbingnya itu dan kadang Nabila berpura-pura ingin ke kamar mandi. Setelah mendapat izin ia akan diam-diam membawa makanannya keluar kelas.
Gantara adalah donasi terbesar di sekolahan itu, membuat apa yang dilakukan Nabila terkadang dibenarkan oleh pihak sekolah, termasuk membawa bekal dari rumah dan juga makan di luar dari ruang kelas mereka.