Batas Kesabaran Seorang Istri

Batas Kesabaran Seorang Istri
Adik Baru Nabila


__ADS_3

Gantara menitipkan anak-anaknya pada pembantu kemudian ia pun membawa Jingga menuju ke rumah sakit, begitu di perjalanan ia menelpon kedua orang tuanya dan juga kedua orang tua Jingga, mengabarkan jika Jingga saat ini akan melahirkan dan dia sedang menuju ke rumah sakit. Gantara juga memberitahu jika ia meninggalkan anak-anak di rumah hanya berdua bersama dengan bibi.


Setelah mereka saling berkomunikasi, akhirnya Gunawan yang akan bertugas untuk menjaga Nabila dan juga Alif sementara Mita dan kedua orang tua Gantara akan menemani Gantara menunggu di rumah sakit, menemani persalinan Jingga.


Begitu sampai di rumah sakit, Jingga kembali merasakan sakit yang begitu hebat bahkan saat melangkah turun dari mobil ada cairan berasal dari kedua pahanya, bajunya bagian bawahnya kini basah.


"Jingga, apakah itu ketubanmu sudah pecah?" tanya Gantara membuat Jingga yang meringis menahan sakit pun mengangguk. Gantara dengan cepat mengangkat Jingga masuk kerumah sakit memanggil dokter untuk membantu persalinan istrinya.


"Ayo, Pak. Bawa ke ruangan persalinan," ucap dokter yang menyambutnya, setelah diperiksa ternyata pembukaannya sudah lengkap.


"Apa dokter, sudah lengkap? Aku pikir tadi masih pembukaan awal makanya aku tak cepat datang ke rumah sakit. Aku mulai kontraksi sejak semalam dokter, tapi kan biasanya jika seperti ini akan lahir siang atau sore hari," ucap Jingga yang tak menyangka jika pembukaannya ternyata sudah lengkap bahkan ketubannya sudah pecah.


"Ada yang lambat, ada yang cepat dan kali ini Ibu pembukaannya cepat," jelas dokter tersebut kemudian membantu Jingga untuk memperbaiki posisinya. Ada perawat yang juga ikut membantu proses persalinan Jingga.


"Ayo, Bu. Sekarang Ibu tarik nafas dan kita mulai mengejan," ucap dokter mulai mengarahkan Jingga. Jingga dengan sekuat tenaga mendorong bayinya untuk keluar, Gantara menemaninya di sampingnya. Ia yang juga melihat bagaimana Jingga berusaha untuk melahirkan bayinya juga ikut merasakan sakit.


"Ayo, Bu. Satu kali lagi bayinya sudah akan keluar. Ayo Bu tarik nafas, rasakan sakitnya dan kemudian didorong dengan kuat," jelas dokter tersebut. Jingga yang sudah pernah melahirkan tahu betul apa yang harus dilakukannya, ia pun melakukan apa yang dikatakan dokter dan mendorong dengan kuat bayinya sampai benar-benar kehabis nafas. Namun, bayinya masih belum juga ingin keluar.

__ADS_1


"Ayo, Bu. Satu kali lagi," ucap dokter tersebut membuat Jingga kembali melakukan ancang-ancang, menarik nafas dan menghembuskannya dengan perlahan dan nafas kemudian menggenggam erat tangan Gantara dan satu tangan lagi memegang bagian pangkal pahanya, ia mendorong dengan sangat kuat begitupun dengan Gantara, dia melakukan hal yang sama. Saat Jingha mengejan ia jiga ikut mengejan.


"Ayo, Bu. Satu kali lagi, ini sudahlah sangat dekat Bu," ucap dokter tersebut saat sudah melihat bagian kepala dari bayi Jingga.


Jingga kembali melakukan hal yang diminta dokter dan kali ini ia mendorongnya sampai wajahnya memerah dan tangannya bergetar, kedua pahanya juga bergetar dan terus mendorong hingga terdengar suara tangisan bayi barulah ia bernafas lega. Tubuhnya lemas, air mata menetes dari sudut matanya. Ucapan rasa syukur terus terdengar dari bibirnya begitupun dengan Gantara, keduanya merasa sangat bahagia melihat bayi mereka sudah berada di atas dada Jingga, anak itu menangis menjerit di dada sang ibu. Gantara mengelus rambut putranya yang masih lengket. Tak ada kata yang bisa menggambarkan betapa ia bahagia telah diberi anak lagi oleh sang istri.


"Makasih, Sayang. Makasih. Makasih banyak," ucapkan Gantara. Jingga hanya mengangguk dengan senyum dibibirnya, tapi ada air mata yqng siap menetes di sudut matanya.


Perawat sendiri membersihkan bayi tersebut dan memberikannya kepada Gantara untuk di adzankan, sementara dokter dan satu perawat lainnya masih berusaha mengeluarkan ari-arinya.


Sementara itu kedua orang tua Gantara dan juga Mita bisa mendengar suara tangisan cucu mereka, ketiganya ikut senang kemudian Mita menghubungi Gunawan, mengabarkan jika cucu mereka sudah lahir.


Sementara itu di kediaman Gantara, Gunawan memberi kabar kepada kedua cucunya jika adiknya sudah lahir.


"Benarkah Kakek? Ya sudah kita ke rumah sakit sekarang yuk," ajak Nabila yang sudah tak sabar ingin melihat adiknya.


"Iya, Kakek. Kita ke rumah sakit sekarang," ucap Alif dan juga melompat-lompat merasa senang mendengar kabar jika ia sudah memiliki adik, sekarang dia bukan lagi adik bungsu, tapi sudah menjadi kakak.

__ADS_1


"Ya sudah, ayo kita berangkat sekarang," ucap Gunawan membawa kedua cucunya itu menuju ke rumah sakit dan begitu sampai di sana Nabila langsung berlarian menghampiri ibunya yang sedang memangku sang adik, begitupun dengan Alif. Keduanya sangat senang melihat bayi kecil yang ada di pangkuan sang ibu yang sedang mencoba untuk mencari sumber ASInya.


"Ibu bayinya laki-laki atau perempuan?" tanya Nabila mengelus-ngelus lembut pipi sang adik.


"Adik Nabila perempuan, nanti Nabila berbagi mainan ya dengan adik," ucapnya membuat Nabila sangat senang mendengar jika bayi yang ada di gendongan ibunya adalah perempuan, itu berarti mereka bisa bermain bersama sedangkan Alif terlihat cemberut. Tadinya ia sudah menyiapkan mainan mobil-mobilan untuk adiknya, ia akan berbagi mainannya. Namun, ternyata adiknya adalah perempuan, itu berarti dia akan berteman dengan Nabila, sang kakak.


"Alif, kenapa, Nak? Alif nggak senang dengan adiknya? Nggak sayang sama adiknya?" tanya Jingga melihat ekspresi Alif.


"Sayang, Bu. Tapi adiknya perempuan, kenapa tidak laki-laki saja?" ucap Alif dengan masih menekuk wajahnya membuat Gantara langsung memeluk putranya.


"Iya, nanti adik berikutnya adik laki-laki untuk Alif agar Alif punya teman bermain, karena kakak yang lebih besar makanya kakak dulu yang dibuatkan adik," ucap Gantara memberi alasan secara asal. Namun, itu sukses membuat wajah Alif kembali ceria kemudian ia pun mengangguk dan kini ikut bermain bersama dengan sang adik.


"Kamu ini ada-ada saja Mas, aku masih sakit karena melahirkan kamu sudah berencana untuk membuat anak lagi, dasar laki-laki."


"Nggak ada salahnya kan kita berencana, kalau dikasih oleh Allah, ya alhamdulillah, jika belum ya kita berusaha lagi," ucap Gantara dengan senyum di wajahnya, mencandai istrinya kemudian ia mencium kening Jingga. Ia tak mungkin melakukan hal itu, diberi dua anak saja ia sudah sangat bersyukur, ia mengatakan semua itu hanya untuk menghibur Alif. Namun, jika memang benar Jingga kembali hamil lagi, ia sama sekali tak masalah. Namun, ia tak akan memaksa.


Keempat nenek yang ada disana juga ikut bahagia menyambut kelahiran cucu mereka, ia ikut mendoakan kebahagiaan keluarga kecil anak-anak mereka.

__ADS_1


Gantara adalah anak tunggal begitupun dengan Jingga dia juga anak tunggal, kebahagiaan keduanya merupakan kebahagiaan terbesar bagi keluarga kedua belah pihak.


__ADS_2