Batas Kesabaran Seorang Istri

Batas Kesabaran Seorang Istri
Nabila Anak Baik


__ADS_3

Ambar sangat bahagia saat mengetahui jika Nabila akan menemaninya selama ia sakit, ia tak pernah menyangka jika Jingga mau mengizinkan putrinya itu untuk menginap di apartemennya.


"Terima kasih ya Nabila, Nabila mau menjaga nenek," ucap Ambar menggenggam tangan cucunya dengan sangat erat, ada air mata yang jatuh dari sudut matanya.


"Iya, Nenek. Nabila kan cucu Nenek, sudah seharusnya Nabila menjaga Nenek jika Nenek sedang sakit, Nabila tak ingin Nenek sendiri, kasihan Nenek," ucap Nabila dengan polosnya kemudian mengusap air mata neneknya.


Mendengar kata-kata itu, Ambar semakin terisak, ia membawa Nabila kepelukannya. Ia semakin memaki dirinya sendiri, mengapa ia harus bersikap seperti tak menghargai Jingga saat masih menjadi menantunya, ia bukan saja menghancurkan hidupnya sendiri. Namun, juga menghancurkan kehidupan putranya, sekarang Ambar sadar, apa yang terjadi pada mereka bukanlah kesalahan Jingga atau kesalahan Gentara. Namun, kesalahannya sendiri yang tak menghargai keberadaan Jingga dan juga perselingkuhan yang dilakukan oleh Aditya di masa lalu, kesalahan yang mereka lakukan di masa lalu membuat mereka merasakan akibatnya hingga hari ini.


Hari pertama Nabila di rumah itu, kondisi Ambar masih terus berbaring di tempat tidur, usianya yang sudah renta membuat pemulihannya lebih lambat dari orang yang lebih muda.


Nabila dengan telaten mengingatkan mbak Novi untuk memberikan obat pada neneknya, tepat waktu begitupun dengan memberikan bubur.


Mereka membagi pekerjaan, ada yang memasak makanan untuk mereka, yang satunya lagi terus menemani Nabila kemanapun Nabila pergi, khususnya saat Nabila berada di kamar neneknya.


Hampir 2 jam sekali Jingga menelpon Novi dan menanyakan keberadaan Nabila.


"Semua baik-baik saja, Bu. Semua sesuai yang Ibu inginkan," ucap mbak Novi. Setelah Jingga mendengar jawaban dari Novi, ia bisa tenang dan akan menelpon 2 sampai 3 jam ke depan.

__ADS_1


Hari ketiga kondisi Ambar sudah mulai membaik. Namun, ia masih berada di atas tempat tidur dan melakukan semuanya di atas tempat tidur, mulai dari makan bahkan mau ke kamar mandi saja dibantu oleh dua pelayan yang dibawa oleh Nabila, keberadaan mereka sangat membantu.


"Maaf ya telah merepotkan kalian," ucap Ambar pada kedua pelayan tersebut.


"Nggak apa-apa kok, Bu. Selain ini sudah menjadi tugas kami, kami juga ikhlas, kok," jawab mbak Novi membuat Ambar pun mengangguk dan kembali ketempat tidurnya.


Ambar tidur bersama dengan pelayan satunya, sedangkan Novi tidur dengan Nabila di kamar Aditya.


Di kamar itu banyak barang-barang masa kecilnya. Nabila menanyakan barang-barang tersebut pada ibunya. Jingga yang melihat semua itu seperti melihat kembali masa lalu di kamar itu. Namun, ia berusaha untuk melupakan semuanya, ia sudah bahagia bersama dengan Gantara. Ia tak ingin mengingat lagi masa-masa indah ataupun sedih di apartemen itu.


Nabila sangat senang mendengar cerita-cerita masa kecil ayahnya, cerita yang banyak menceritakan kelucuan dan juga bagaimana ayahnya itu menjaga ibunya dengan baik, sangat berbeda dengan cerita tentang ayahnya yang didapatkannya dari ibu dan juga ayah Gantara.


"Nenek, kenapa ayah harus berbuat jahat sehingga ayah harus dipenjara?" tanya Nabila setelah mendengar begitu banyak cerita kebaikan yang dilakukan oleh Aditya.


Ambar tak menjawab pertanyaan itu, ia hanya tersenyum dan mengusap rambut cucunya kemudian mengalihkan pembicaraan mereka pada lembaran foto berikutnya. Semua di album foto itu hanya ada Ambar dan juga Aditya, sedangkan foto pernikahan Aditya dan Jingga berada di album lain.


"Nenek, kenapa tak ada foto kakek?" tanya Nabila lagi membuat wajah Ambar kini berubah. Ambar mengingat dengan jelas sosok suami yang meninggalkannya di saat Aditya baru berusia 5 bulan, tak ada bedanya cerita hidupnya antara ia dan Jingga. Suaminya juga berselingkuh di saat ia melahirkan putranya. Namun, bedanya Jingga mendapatkan kebahagiaan baru dengan menikah dengan pria yang mencintainya, sedangkan Ambar sendiri tetap membesarkan putranya seorang sendiri hingga hanya mereka berdua yang ada dalam kenangannya hingga usianya saat ini.

__ADS_1


Pertanyaan itu lagi-lagi tak bisa dijawab oleh Ambar, ia sadar jika ada pertanyaan yang tak boleh dijawab sejujurnya dan boleh diceritakan oleh anak-anak seusia Nabila. Ia akan memilah apa yang harus diceritakan pada Nabila, apa yang harus dirahasiakan dari cucunya itu, sepertinya Gantara dan Jingga juga tak mengatakan apa kesalahan dari putranya sehingga Aditya harus mendekam di penjara selama beberapa tahun ini.


Hari berikutnya kondisi Ambar sudah semakin sehat, ia sudah bisa berjalan sendiri ke sana kemarin bahkan sudah ikut makan bersama dengan Nabila dan dua pelayan lainnya di meja makan.


Mereka sudah bercanda bersama membuat Nabila memutuskan untuk kembali ke kediamannya, ke kediaman ayah dan ibunya. Ia sudah janji pada ibunya jika neneknya itu sudah sehat dia akan pulang dan melihat kondisi neneknya saat ini. Ambar terlihat sudah sangat sehat.


"Nenek, maaf ya Nabila besok harus pulang," lirih Nabila saat mereka sedang makan malam. Mendengar itu Ambar hanya mengangguk, ia tak terkejut akan hal itu, ia tahu cepat atau lambat ia akan kembali berpisah dengan cucunya.


"Iya, Nak. Tapi jangan lupa menjenguk nenek sesekali ya dan katakan kepada ibumu jika nenek tak akan macam-macam, nenek hanya ingin bersamamu," ucap Ambar membuat Nabila mengangguk dan kembali memberikan lauk ke piring neneknya


Mereka pun makan kembali makanan yang dimasak oleh dua bibi yang ada di rumah itu.


****


Pagi hari sudah waktunya Nabila pulang, Gantara sudah menjemput Nabila di depan pintu. Ambar meminta ingin bicara berdua dengan Gantara.


"Nabila dan Bibi tunggu ayah di mobil, ya," ucap Gantara memberi isyarat kepada bibi untuk membawa Nabila masuk ke mobil untuk menunggunya. Kedua bibi itu pun mengangguk dan membawa Nabila lebih dulu menuju ke parkiran, sementara Aditya duduk di sofa yang ada di depan Ambar. Gantara malas untuk bicara padanya. Namun, ia akan mencoba mendengarkan apa yang ibu dari Aditya itu ingin bicarakan.

__ADS_1


__ADS_2