Batas Kesabaran Seorang Istri

Batas Kesabaran Seorang Istri
Kekhawatiran Jingga


__ADS_3

Ambar yang tahu jika sekarang sudah waktunya Nabila kembali masuk meminta Nabila untuk kembali ke kelasnya dan sesuai rencana mereka akan bertemu malam nanti, Ambar yakin jika Nabila hari ini bisa menemuinya tanpa diketahui siapapun. Malam nanti Nabila juga pasti bisa menemuinya, membuat Nabila pun langsung berlari menuju ke kelasnya.


Setelah pelajaran terakhir, Nabila pun dijemput oleh sopir dan mereka kembali pulang ke kediamannya. Ambar hanya melihat mobil Nabila meninggalkan parkiran sekolah, walau Nabila tak melihatnya. Ambar tetap melambaikan tangan hingga seorang guru menghampirinya. Ambar tahu apa yang akan disampaikan oleh guru tersebut dan ia sudah siap, jika memang harus bertemu dengan Gantara keesokan harinya.


"Permisi Mbak Sari, bisa ke kantor kepala sekolah terlebih dahulu?" ucap guru tersebut membuat Ambar yang dikenal sebagai mbak Sari di sekolahan itu pun mengikuti guru pembimbing tersebut menuju ke ruang kepala sekolah, di sana bu Sari diberi tahu jika ayah dari Nabila atau Gantara donatur terbesar di sekolahan itu ingin bertemu dengannya saat pagi besok.


"Jadi saat pagi besok datanglah ke kantor, jangan buat Tuan Gantara kembali menunggu ingin bertemu denganmu," ucap kepala sekolah tersebut yang tahu jika tadi Gantara ingin bertemu dengan Sari, bahkan sampai menuju ke bilik belakang dan mereka tak bertemu kepala sekolah. Ia juga baru mendengar jika ternyata selama ini mbak Sari orang yang sudah ditolongnya itu berteman dengan salah satu murid dan membuat orang tua murid tersebut cemas.


"Iya, Bu. Tentu saja," jawab Ambar kemudian ia pun keluar dari ruangan itu, penjaga sudah menutup pintu jalan, ke depannya akan sulit entah ia akan berhasil atau tidak yang jelas ia kan berusaha untuk mempertemukan putranya dan juga cucunya dan tujuannya harus tercapai. Jika ia tak bisa membebaskan putranya, ia ingin tinggal bersama Nabila, Nabila adalah cucunya ia punya hak atas semua itu. Jingga tak berhak untuk melarangnya bertemu dengan Nabila.


Sementara itu Nabila di dalam mobil terus melamun, ia terus memikirkan apa yang dikatakan oleh Ambar, benarkah ayahnya bukanlah ayah kandungnya, mengapa ibunya merahasiakan semua itu darinya, di usianya yang masih sangat kecil. Saat ini Nabila belum bisa menerima semua itu, ia shok, tertekan, marah, semua itu dirasakannya membuat ia hanya bisa duduk termenung hingga mobil pun masuk ke dalam gerbang kediaman megah yang selama ini tempatnya tinggal, rumah yang selama ini tempatnya tumbuh, membuatnya makin terasa asing.

__ADS_1


Sampainya dirumah ia melihat Alif yang sedang bermain bersama dengan ibunya yang ada di teras rumah, ucapan Ambar yang mengatakan jika Gantara hanyalah ayah Alif kembali teringat di telinganya.


"Ayo turun, Non," ucap sopir yang membukakan pintu untuk Nabila, Nabila pun mengangguk dan turun dibantu oleh sopir. Jika Nabila biasa langsung menyapa adik dan ibunya. Namun, kali ini Nabila langsung berlalu masuk tanpa menyapa adiknya dan juga ibunya membuat Jingga merasa ada yang aneh dengan putrinya.


"Alif, Alif main sama bibi dulu ya, ibu mau lihat kakak dulu," ucap Jingga pada putranya membuat putranya itu pun mengangguk dan berlari menuju ke arah bibi yang sedang menyapu. Jingga menitipkan putranya terlebih dahulu pada bibi karena bibi pengasuh yang akan menjaganya baru bekerja besok atau dua hari ke depan.


Jingga berjalan masuk dan langsung menuju ke kamar putrinya, begitu ia masuk ia melihat Nabila yang berbaring di tempat tidur sambil tengkurap, anaknya itu menyembunyikan wajahnya di balik bantal, ia bisa melihat punggung anak itu bergetar.


"Nabila, ada apa, Nak?" tanya Jingga mengusap rambut putrinya.


"Nabila, ada apa dengan Nabila? Apa ada yang jahat pada Nabila di sekolah? Katakan kepada ibu, Nabila harus cerita biar ibu bisa membantu," ucap Jingga masih mengelus punggung putrinya, Nabila masih menggeleng dan enggan untuk bercerita.

__ADS_1


Dengan perlahan Jingga membuka sepatu dan kaos kaki putrinya, berjalan menyimpannya di tempat sepatu.


"Sini biar ibu bantu buka seragamnya," ucap Jingga mencoba untuk membangunkan Nabila, tapi anak itu semakin mengeratkan pelukannya pada bantal guling yang dipeluknya, ia juga semakin menyembunyikan wajahnya dan terus saja menggeleng. Samar-samar suara isak tangis memilukan semakin terdengar di telinga Jingga membuat Jingga merasa semakin takut jika terjadi sesuatu pada anaknya di sekolah, mungkinkah ada yang mencoba membullynya atau apakah kedekatan dengan petugas catering itu membuatnya seperti saat ini.


"Ya sudah, jika memang Nabila ingin butuh waktu, ibu tinggal dulu. Tapi, setelah Nabila merasa tenang, ibu tunggu ya di bawah. Nabila ganti baju dan kemudian kita makan siang, ibu tunggu Nabila dibawah ya, Nak," ucap Jingga kembali mengusap rambut putrinya.


Setelah mendapat anggukan dari Nabila, Jingga pun keluar dari kamar itu, ia langsung menuju ke kamarnya dan mengambil ponsel untuk menelpon Gantara dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, begitupun sebaliknya Gantara juga menceritakan apa yang terjadi di sekolah tadi, membuat mereka saling menghubungkan masalah itu. Mungkinkah Nabila bersedih karena wanita paruh baya yang selama ini ditemuinya sedang sakit.


"Biarkan saja dia sendiri, nanti saat pulang aku akan coba bicara lagi dengannya," ucap Gantara membuat Jingga pun menurut dan mereka mengakhiri panggilannya. Gantara sedang ada pekerjaan penting membuat dia tak bisa meninggalkannya, ia janji akan pulang lebih awal dari biasanya dan akan membahas masalah itu berdua dengan Nabila.


Gantara yang bisa mendengar suara kepanikan dari Jingga menenangkannya dan mengatakan mungkin saja Nabila hanya bersedih dan takut jika terjadi sesuatu pada wanita paruh baya itu.

__ADS_1


"Ya sudah, Mas. Nanti cepat pulang ya, kabari aku jika Mas memang ada pekerjaan dan tak jadi pulang biar aku yang bicara langsung pada Nabila," ucap Jingga mengakhiri pembicaraan mereka.


Begitu keluar dari kamar, Jingga hanya melihat ke kamar putrinya kemudian ia berlalu turun ke lantai bawah, menyiapkan makanan untuk Nabila dan juga Alif.


__ADS_2