Batas Kesabaran Seorang Istri

Batas Kesabaran Seorang Istri
Calon Istri Ayah


__ADS_3

"Ayo turun," ucap Gantara membuka pintu mobil. Namun, Fika menggeleng, ia takut jika sampai turun dari mobil bosnya itu akan menyeretnya masuk ke dalam kamar hotel. Ia bukanlah wanita yang bodoh, ia tahu apa yang biasa dilakukan oleh bos pada karyawannya jika sudah dibawa ke dalam hotel.


"Bukannya kamu ingin bertemu dengan Aditya? Ayo," ucap Gantara lagi. Namun, Fika masih menggeleng dan menggenggam erat sabuk pengaman yang masih menempel di tubuhnya.


"Kamu kenapa? Kamu sakit? Apa mau aku antar kemhali ke kantor?" tanya Gantara yang bingung saat karyawannya itu hanya menggeleng padahal mereka sudah sampai di tempat yang mereka tuju, padahal dia sendiri yang ingin bertemu dengan Aditya.


"Aku mau kembali ke kantor saja, Pak. Bapak jika ada urusan penting di hotel ini silahkan saja, aku bisa naik taksi," ucap Fika membuat Gantara mengerutkan keningnya dan melihat ke arah hotel dan melihat kembali ke arah Fika.


Sepertinya ia mengerti apa yang difikir kan oleh gadis berhijab itu, melihat raut wajah ketakutan di wajahnya Gantara pun tertawa.


"Apa yang kamu pikirkan? Apa kamu pikir aku akan membawamu ke hotel?" tanyanya masih di sela-sela tawanya membuat Fika pun mengangguk.

__ADS_1


"Bukan, aku mau ke restoran sana. Anak dan istriku ada di sana, begitu juga dengan Aditya, kita makan siang di sana sekaligus kamu bisa bertemu dengan Aditya. Aku sengaja memarkirkan mobilku di sini karena parkiran di restoran itu sudah penuh, aku memang biasa memarkir di hotel ini, aku mengenal pemiliknya," ucap Gantara membuat Fika pun bernafas lega dan dengan cepat ia membuka sabuk pengaman dan ia merasa malu karena telah berpikir yang tidak-tidak tentang bosnya itu.


Gantara menutup kembali pintunya setelah Fika turun dari mobil dan menggeleng, ia berjalan lebih dulu menuju ke restoran. Fika mengikutinya di belakang, ia memukul kepalanya sendiri, mengapa ia berpikir hal seperti itu tanpa tanya terlebih dahulu apa yang diinginkan oleh bosnya.


Mereka berjalan dan Fika bisa melihat seseorang yang melambaikan tangan pada mereka, mungkin itu adalah istri bosnya. Ia juga bisa melihat ada anak-anak di sana dan ia juga bisa melihat jika sosok si pemilik jas juga duduk di sana bersama mereka membuat dia merasa sangat takut, apalagi Aditya menatapnya dengan tatapan yang sulit ia artikan.


"Kalian sudah dari tadi ya menunggunya?" tanya Gantara yang langsung menggendong Khalisa.


"Aku juga baru sampai, tapi ngomong-ngomong kenapa dia ikut bersamamu?" tanya Aditya menunjuk ke arah Fika dengan tatapannya.


"Oh tadi kebetulan aku mau ke sini dan Fika katanya ingin bertemu denganmu."

__ADS_1


"Bertemu denganku?" tanya Aditya menunjuk dirinya sendiri membuat Gantara pun mengangguk dan mempersilahkan Fika untuk duduk di samping kursi Aditya,, di mana Fika sejak tadi hanya berdiri disampingnya, Gantara sendiri sudah duduk bersama dengan yang lainnya.


Fika pun penduduk dengan rasa canggung yang menderanya.


"Hai, aku Jingga," ucap Jingga mengulurkan tangannya membuat Fika pun menyambut uluran tangan wanita yang ia yakini adalah istri bosnya.


"Fika," ucap Fika membalas uluran tangan Jingga, walau ia saat ini bekerja sebagai cleaning service. Namun, ia dulunya adalah seorang mahasiswa yang harus berhenti kuliah karena kebangkrutan ayahnya, kehidupan elit pernah ia rasakan membuat ia tahu bersikap sopan dan penuh tatakrama.


"Halo, Tante. Aku Nabila anaknya Ayah," tunjuk Nabila pada kedua pria yang duduk bersama dengan mereka. Nabila menunjuk Aditya dan juga Gantara, membuat Fika melebarkan matanya penuh tanya dan melihatkan Gantara dan Aditya secara bergantian.


"Aku ayah tirinya Nabila dan Aditya ayah kandungnya," ucap Gantara menjelaskan membuat Fika pun hanya kembali tersenyum canggung saat tatapan Aditya mengarah ke arahnya.

__ADS_1


"Aku boleh panggil Bunda nggak?" tanya Nabila membuat Fika kembali terkejut dengan ucapan dari anak kandung si pemilik jas itu padanya, sedangkan Aditya sendiri terbatuk-batuk mendengar ucapan putrinya, di saat ia kebetulan sedang meminum cappucino miliknya.


__ADS_2