
Satu minggu semenjak kejadian hari itu, Nabila tak pernah lagi menyindiri dan tak pernah lagi bertemu dengan Ambar, walau sekolah sudah mengatakan jika mereka akan mengawasi Nabila. Namun, tetap saja Gantara tetap menyewa seseorang untuk mengawasi Nabila selama di sekolah.
Malam hari saat Jingga sedang tertidur, tiba-tiba perutnya terasa sakit. Ini memang sudahlah bulan kelahirannya, minggu ini merupakan jadwal persalinannya membuat Jingga sudah tahu apa yang menyebabkan perutnya itu sakit. Ia melihat Gantara yang masih tertidur pulas, ia mencoba membangunkannya dengan menggoyang-goyangkan lengan Gantara.
"Mas, bangun. Perutku sakit," lirih Jingga dan Gantara hanya menggeliat dan kembali tidur.
"Mas, perutku sakit. Sepertinya aku sudah ingin melahirkan," ucap Jingga yang kini lebih kencang lagi dan bahkan mencubit lengan suaminya. Gantara yang merasakan cubitan itu langsung terbangun dan menatap Jingga dengan tatapan kosong, ia baru saja tertidur selesai mengerjakan pekerjaan kantornya, membuat ia masih belum sadar sepenuhnya, walau matanya sudah terbuka dan menatap Jingga.
"Mas, aku mau melahirkan. Bawa aku ke rumah sakit," lirih Jingga membuat Gantara pun hanya mengangguk kemudian ia kembali tertidur.
Jingga menghela nafas panjang melihat suaminya yang kembali tertidur, ia hanya menggeleng kemudian ia turun dari tempat tidur karena rasa sakitnya kini sudah menghilang. Ia sama sekali tak merasakan sakit sedikitpun. Namun, Jingga tahu jika saat ini ia sudah mulai mengalami kontraksi, ia akan merasakan sakit beberapa menit kemudian. Ia pernah melahirkan sebanyak dua kali membuat ia tahu apa yang harus dilakukannya. Ini masih pembukaan awal, masih ada jarak untuk sampai pada pembukaan akhir, membuat Jingga pun memilih untuk menyiapkan beberapa keperluannya walau sudah ada satu tas besar yang akan dibawanya yang sudah disiapkan sebelumnya.
__ADS_1
"Apa aku mandi saja dulu ya?" guman Jingga yang memprediksi jika mungkin ia akan melahirkan siang atau bahkan sore nanti seperti biasanya.
"Ya sudah deh, aku mandi dulu," tambahnya kemudian Jingga pun menuju ke kamar mandi. Saat melangkah masuk ke kamar mandi rasa sakitnya kembali datang membuat dia duduk di closet menggenggam erat bak mandi yang ada di depannya, saat rasa sakit itu kembali hadir dan menggulung di perutnya, perlahan sakit itu memuncak dan semakin sakit dan perlahan setelah merasakan sakit yang luar biasa sakit itu perlahan menghilang dan akhirnya menghilang tak terasa sakit sedikit pun lagi. Dengan cepat Jingga bergegas mandi membersihkan tubuhnya, ia bahkan keramas agar saat melahirkan nanti saat proses mengejan ia tak merasa risih dengan bau badannya yang pasti akan berkeringat tentu saja.
Setelah mandi, Jingga mengeringkan sendiri rambutnya. Ia duduk di depan meja riasnya dengan cepat ia mengeringkannya, takut jika sampai rasa sakitnya kembali hadir dan benar saja setelah rambutnya selesai dikeringkan rasa sakit itu kembali hadir. Namun, sakitnya hanya sedikit saja tak seperti di saat kontraksi keduanya. Begitu ia sudah selesai merasakan sakit dan kembali berhenti tak sakit lagi, dengan cepat Jingga mengambil beberapa alat make upnya bahkan ia memakai pelentik bulu mata, walau ia akan merasakan sakit ia ingin tetap tampil cantik berbeda saat persalinan pertamanya, jangankan make up saat rasa sakit itu menyerangnya ia terus menangis dan memeluk Aditya suaminya. Bahkan Jingga terus saja berbaring dan menangis sampai dokter memintanya mengejan dan Nabila pun lahir.
Pengalaman adalah guru terbaik, karena memiliki banyak pengalaman Jingga melakukan semuanya dengan santai hingga Gantara pun terbangun dan melihat istrinya sudah berdandan cantik.
"Berarti semalam Mas tak menyadarinya ya saat aku membangunkan Mas dan aku mengatakan jika aku akan melahirkan?" ucap Jingga membuat Gantara pun hanya menggeleng dan ingin berjalan masuk ke kamar mandi. Namun, sesaat kemudian ia langsung melihat ke arah sang istri.
"Kamu sudah mau melahirkan?" tanyanya membuat Jingga pun mengangguk, Gantara langsung panik. Namun, Jingga berusaha untuk menenangkannya, meminta suaminya itu untuk mandi terlebih dahulu dan mengantarnya ke rumah sakit. Gantara yang melihat penampilan istrinya lebih santai membuatnya pun lebih tenang, ia dengan cepat masuk ke kamar mandi dan mandi entah hanya mencuci wajahnya, hanya berapa menit yang ia pakai untuk menyiram tubuhnya bahkan Jingga yakin suaminya itu tak memakai sabun ataupun shampo, mengingat hanya beberapa detik saja dia masuk ke kamar mandi dan sudah keluar kembali.
__ADS_1
"Sayang, bukannya kamu mau melahirkan? Apa rasanya tak sakit?" tanya Gantara sambil berbolak-balik mengambil pakaiannya.
"Sekarang sudah nggak sakit lagi, tapi nanti pasti akan sakit kembali. Memang seperti itu, ada jeda antara sakit pertama, kedua, ketiga dan seterusnya."
"Ya sudah, ayo sekarang kita ke rumah sakit. Takutnya pembukaannya sudah lengkap," ucap Gantara yang membuat Jingga hanya menggeleng melihat kepanikan suaminya itu. Ia pun memberikan tas kepada Gantara kemudian keduanya keluar dari kamar menghampiri Nabila dan juga Alif yang ternyata sudah duduk di ruang tv sambil menonton film kesukaan mereka.
"Nabila, jaga adiknya dulu ya dan Adik jangan nakal sama Kakak dengar apa yqnh kakak ucapkan. Ayah mau mengantar Bunda ke rumah sakit dulu, katanya dede bayinya ingin lahir dan menemui kalian berdua. Adik bayinya ingin bermain dengan kalian makanya ingin keluar dari perut Bunda."
"Biar aku bantu Ayah mengeluarkannya. Ayo kita keluarkan adik sama-sama," ucap Alif yang belum mengerti akan hal itu.
"Nggak boleh, Dek. Harus dokter yang mengeluarkan adik kita, kita tunggu di sini ya nanti jika adiknya lahir Ayah pasti akan membawanya pada kita," jelas Nabila membuat adiknya itu pun mengangguk.
__ADS_1