
"Fika, will you marry me?" ucapan Aditya berlutut di hadapan Fika yang masih tercengang di tempatnya, menyodorkan sebuah bunga dan sebuah cincin.
"Jika kamu menerima lamaranku, kamu boleh mengambil kotak cincin ini, memberikan tanganmu biar aku yang memakaikannya untukmu. Namun, jika kamu menolakku kamu bisa ambil bunga ini dan lemparkan ke wajahku," ucap Aditya membuat Fika menggenggam erat tangannya.
Jika mungkin Aditya mengatakan 'Maukah kamu menjadi kekasihku,' ia akan pasti langsung mengatakan iya. Namun, saat ini pertanyaannya berbeda, Aditya menanyakan 'Apakah dia mau menikah dengannya,' kata pernikahan belum ada dan belum pernah dipikirkan olehnya, usianya baru 21 tahun. Ia masih ingin menggapai banyak impiannya.
Fika terdiam membuat Aditya merasa ragu jika Fika akan menerima lamarannya, ia sadar waktu pendekatan mereka sangatlah singkat, hanya seminggu membuat dia tak menaruh banyak harapan jika Fika akan menerima perasaannya. Namun, jika malam ini Fika menolak untuk menikah dengannya dan mengambil bunga itu serta melemparkan ke wajahnya, Aditya tak akan keberatan. Namun, ia tak akan menyerah dan akan kembali mendekati Fika lagi.
__ADS_1
Fika terus berdiam membuat Aditya pun berdiri dari berlututnya.
"Fika, aku tahu kau belum percaya jika aku bisa membahagiakanmu. Namun, percayalah dengan cintaku. Aku tak tahu kau percaya atau tidak, tapi aku sangat mencintaimu. Mingkin bagimu ini terlalu cepat, tapi hanya seminggu bersamamu sudah membuat aku merasa jika kamu adalah wanita yang tepat untuk menjadi pendampingku, menemaniku seumur hidupku. Aku janji akan membahagiakanmu, aku mohon menikah denganku," ucap Aditya lagi masih menyerahkan cincin dan bunga. Ia meminta wanita cantik yang ada di depannya itu memilih salah satu dari benda yang dipegangnya, walau dalam hati Aditya berdoa dan berharap agar cincinlah yang dipilih oleh Fika.
"Kamu janji akan membahagiakanku apapun kondisi dan keadaanku?" tanya Fika membuat Aditya pun mengangguk.
"Aku akan coba percaya, tapi aku mohon jangan pernah menyakiti perasaanku. Sekali kau menyakitiku, maka tak ada kesempatan kedua untuk memperbaikinya," ucap Fika kemudian ia pun mengangkat tangannya, menyodorkan jari manisnya agar Aditya memasangkan cincin di sana.
__ADS_1
"Aku memilih kotakmu," ucapnya lagi membuat Aditya pun langsung menjatuhkan bunga yang tadi dipegangnya dan membiarkannya jatuh ke lantai, ia langsung membuka kotak cincin tersebut dengan senyum diwajahnya.
Aditya langsung memakaikan cincin itu ke jari manis Fika, jarinya terlihat cantik dengan hiasan cincin berlian yang begitu indah, sebuah kecupan mendarat di punggung tangan Fika.
Sebuah senyum terbit bibir keduanya, Zahra, Nabila dan juga Ambar yang sejak tadi bersembunyi di balik pagar bunga yang ada di belakang mereka kini bersorak bergembira dan menghampiri keduanya.
"Yeee ... Nabila punya Bunda," ucap Nabila membuat Fika yang tersipu malu, kini ia bisa melihat kebahagiaan di wajah adiknya yang juga ikut melompat-lompat bersama dengan Nabila.
__ADS_1