Batas Kesabaran Seorang Istri

Batas Kesabaran Seorang Istri
Hati Yang Lapang


__ADS_3

Pagi hari Ambar langsung menuju ke tempat di mana anaknya itu berada. Aditya yang mendengar keberadaan ibunya sangat senang, selama beberapa hari ini ia terus memikirkan ibunya seorang diri di apartemennya, bukan hanya itu sudah hampir seminggu ibunya tak menemuinya padahal selama ini ibunya selalu datang dua kali seminggu untuk bertemu dengannya.


"Ibu, Ibu baik-baik saja kan?" ucap Aditya sambil menggenggam tangan ibunya dan berlutut, apalagi saat melihat wajah ibunya yang begitu pucat. Perasaannya langsung tak karuan, rasa bersalah langsung menyerangnya karena meninggalkan ibunya di masa tuanya. Dari kecil ibunya lah yang merawatnya seorang diri.


"Aditya, apa yang kamu lakukan. Ayo duduk! Ibu ada kabar bahagia yang ingin ibu sampaikan padamu," ucap Ambar membuat Aditya pun mengangguk dan duduk dikursi yang ada di depan ibunya.


"Sebelum ibu menyampaikan kabar, tolong jawab pertanyaanku. Ibu baik-baik saja kan?" tanyanya.


"Iya, jangan Khawatir. Maaf, ibu tak datang karena ibu sakit, ibu demam. Tapi kamu nggak usah khawatir, ibu mendapat perawat cilik, dan itu membuat ibu bersyukur bisa sakit," ucap Ambar mengatakannya dengan senyum di wajahnya.


"Perawat cilik?" tanya Gantara bingung mendengar ucapan ibunya.


"Iya, selama beberapa hari ini ibu sakit, ada Nabila yang merawat ibu. Nabila bahkan menginap di rumah dan baru pergi kemarin, selama beberapa hari ia menginap bersama ibu. Ibu sangat bahagia, walaupun ibu sakit, ibu minta maaf tak memberi kabar padamu, ibu hanya tak ingin membuatmu cemas dengan kondisi ibu," jelas Ambar membuat Aditya merasa lega, ternyata di saat sakit putrinya yang pernah disia-siakannya itu merawat ibunya.


"Bu, apa Jingga tahu jika Nabila bertemu dengan Ibu dan menemani Ibu saat Ibu sakit?" tanya Aditya lagi yang tak ingin mencari masalah dan tak ingin jika sampai ibunya membawa Nabila secara diam-diam ke apartemen mereka.


"Tentu saja, Nak. Ibu tak akan melanggar apa yang kamu katakan, Gantara sendiri yang mengantar Nabila ke apartemen ibu dan dia sendiri juga yang menjemputnya. Ibu tak tahu Jingga mengizinkan atau tidak, tapi yang pasti ibu rasa jika Gantara sudah mengizinkan, Jingga juga sudah pasti sudah mengizinkan putrinya."

__ADS_1


"Apa hanya Nabila yang datang? Maksudku yang menginap di rumah?" tanya Aditya karena jika hanya Nabila mana mungkin Nabila bisa mengurus ibunya yang sakit, sedangkan mereka sudah tak punya siapa-siapa lagi. Aditya saat ini hanya memiliki Nabila dan juga ibunya di dunia ini, ia sama sekali tak tahu siapa ayah kandungnya, ibunya tak pernah membahasnya dan ia pun tak pernah menanyakannya.


"Sepertinya Gantara belum begitu percaya dengan ibu, makanya dia membawa dua orang pembantu untuk menemani Nabila saat menginap di apartemen kita. Ibu tak tahu itu karena ia tak percaya pada ibu atau ingin membuat kemudahan bagi Nabila saat menginap karena keduanya memang sangatlah berguna, mereka membersihkan dan memasak untuk ibu dan juga Nabila."


Mendengar itu Aditya pun mengangguk, memang seharusnya bukan hanya Nabila yang datang karena jika hanya Nabila siapa yang akan memasak untuk mereka, siapa yang akan merawat ibunya. Nabila masih selalu kecil untuk melakukannya seorang diri.


"Maaf ya, Bu. Aku tak bisa berada di samping Ibu saat Ibu membutuhkanku, semoga saja hukumanku ini cepat berakhir dan aku bisa menjaga Ibu," ucap Aditya mengingat hukumannya masih sangat lama, ia takut jika ia tak bisa merawat ibunya di masa tua, dia takut tak bisa membahagiakan ibunya di sisa umur ibunya.


Mendengar itu Ambar baru mengingat kabar bahagia yang ingin disampaikan pada anaknya. Ambar menggenggam tangan Aditya yang duduk di depannya.


"Ibu akan selalu menunggumu sampai kapan kamu keluar dan kita akan memulai kehidupan kita yang baru. Ibu punya kabar gembira untukmu, Gantara mengatakan pada ibu jika kita tinggal menunggumu keluar dari penjara selama 1 tahun lagi. Gantara sudah mengurus semuanya," ucap Ambar membuat Aditya juga merasa heran, mengapa masa tahanannya hanya tinggal satu tahun padahal masih ada beberapa tahun lagi.


"Tapi, bagaimana bisa, Bu?" tanyanya.


"Ibu juga tak tahu, Ibu tak mengerti. Tapi, yang jelas Gantara mengatakan hal itu jika ibu hanya tinggal menunggumu satu tahun lagi dan ibu berharap ibu bisa menghabiskan waktu sisa-sisa terakhir ibu denganmu, kita bisa bahagia bersama. Ibu akan pergi dengan tenang jika sudah melihatmu bahagia, Nak," ucap Ambar mengusap pipi putranya yang ditumbuhi oleh bulu-bulu halus.


Mendengar itu ada rasa senang dan bahagia memuncak di hati Aditya, juga bercampur rasa haru. Ia pun melihat ke arah petugas yang tak jauh dari mereka. Di sana ada petugas yang duduk di salah satu ruangan yang memiliki sekat kaca dengan ruangan dimana ia dan ibunya berada, ruangan khusus untuk pengunjung yang ingin mengunjungi keluarga mereka yang ada di dalam penjara.

__ADS_1


"Permisi, Pak. Apa benar aku mendapat potongan masa tahanan?" tanya Aditya ingin memastikan, ia takut jika ibunya salah informasi dan membuatnya berharap banyak dan membenarkan apa yang ibunya katakan.


Setelah petugas itu mengecek di laptopnya, ia pun mengangguk.


"Iya, Pak. Anda mendapat potongan masa tahanan dan semua sudah diurus oleh pengacara dari pihak orang yang menuntut Anda. Anda bisa bebas 9 bulan lagi," ucap petugas tersebut menyebutkan tanggal kebebasan Aditya dari penjara itu dan tepat pastinya 9 bulan dari sekarang.


Aditya bersujud syukur, ia tak menyangka jika ia akan keluar dalam waktu 9 bulan lagi karena tadinya ia berpikir ia akan tinggal lebih lama lagi di tempat itu.


Aditya yang sudah mendapat informasi langsung kembali pada ibunya, ia langsung memeluk ibunya dan berucap syukur. Ibunya juga merasa senang.


"Apakah semua itu benar, Nak?" tanyanya membuat Aditya pun mengangguk.


"Iya, Bu. Tunggu aku 9 bulan lagi, aku akan datang dan membahagiakan Ibu," ucap Aditya membuat Ambar merasa sangat senang, ternyata hati Gantara sangat baik.


Setelah menemui putranya, Ambar pun memutuskan untuk kembali mengunjungi kediaman Gantara. Sebelumnya ia menelpon Gantara langsung untuk menemui Jingga. Gantara mengizinkan ia untuk bersilaturahmi datang ke rumahnya, Gantara juga menelpon Jingga mengabarkan jika saat ini Ambar sedang menuju ke kediaman mereka dengan niat untuk meminta maaf.


Jingga akan menyambutnya dengan membesarkan hatinya, menyiapkan hatinya untuk bertemu kembali dengan Ambar. Sudah sangat lama ia tak bertemu dengan mantan mertuanya itu, selama ini ia hanya mendengar cerita dari Gantara dan juga Nabila, semoga saja saat bertemu dengannya ia bisa bersikap tenang.

__ADS_1


Secara kebetulan Mita juga datang untuk berkunjung menjenguk bayi Jingga. Jingga pun mengatakan apa yang baru saja dikatakan oleh Gantara, jika Ambar akan datang membuat Mita pun ikut menunggu kedatangannya.


__ADS_2