Batas Kesabaran Seorang Istri

Batas Kesabaran Seorang Istri
Kebebasan Aditya


__ADS_3

Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Ambar terus menanti kapan putranya itu keluar dari penjara. Namun, penantiannya begitu tak terasa karena semenjak hari itu Jingga mengizinkan Nabila untuk bertemu dengan nya, saat hari libur sabtu dan minggu Jingga mengizinkan Nabila untuk bersama dengan nya, menginap di apartemen neneknya itu tanpa pengawasan dan hanya mereka berdua membuat Ambar sangat bahagia dan menyambut cucunya itu setiap minggunya dan tanpa terasa sembilan bulan pun berlalu dengan begitu cepat, kini sudah waktunya Aditya keluar dari penjara.


Saat di perjalanan, Ambar merasa sangat bahagia. Sesekali ia terus meneteskan air matanya, ia sangat berharap Aditya bisa kembali bersama dengan mereka dan hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu.


"Terima kasih banyak ya Pak, atas kemurahan hati Anda," ucap Ambar di mana Gantara yang mengantar mereka menuju ke tempat Aditya, mereka akan menjemput Aditya, Ambar, Nabila dan juga Gantara.


Mendengar itu Gantara hanya mengangguk, bukan hanya Ambar yang merasa senang untuk menjemput anaknya. Namun, Nabila juga merasa senang akan menjemput ayah kandungnya, di mana selama ini, saat libur dan menginap di kediaman Ambar dua kali dalam seminggu itu Ambar selalu menyempatkan diri menjenguk Aditya di hari minggu dan membawa Nabila, tentu saja membuat setiap minggunya Aditya juga bisa bertemu dengan anaknya dan membuat mereka semakin dekat.


Kini tibalah saatnya waktu yang ditunggu-tunggu, Ambar sudah menunggu di tempat di mana biasanya narapidana di keluar saat ia sudah keluar dari penjara.


Mereka semua menunggu dan berdiri menatap pintu yang ada di depan mereka. Tak lama kemudian pintu itu pun terbuka dan terlihat Aditya keluar dengan pakaian kaos dan juga celana bahan yang dibawakan oleh ibunya di saat terakhir ia menjenguk Aditya dulu, Ambar langsung menghampiri putranya, memeluknya ia menangis merasa senang. Kini anaknya bukan lagi mengenakan baju tahanan, Aditya juga bersujud syukur atas kebebasannya dan memeluk ibunya, ia sangat bahagia bisa kembali bebas dan berjanji tak akan mengulangi lagi kesalahan yang pernah diperbuatnya, niatnya hanya ingin bersama dengan Nabila. Namun, caranya membuat ia justru lebih jauh dari Nabila.


Lama mereka berpelukan membuat Aditya melerai pelukan dari ibunya saat melihat Nabila berdiri di belakang ibunya itu. Ambar yang baru mengingat jika Nabila juga ada bersamanya ikut melepaskan pelukannya pada putranya, membiarkan putranya itu memeluk dengan erat putrinya.

__ADS_1


"Apa Ayah tidak akan dipenjara lagi?" tanya Nabila dengan polosnya membuat Aditya pun mengangguk membuat Nabila ikut tersenyum melihat senyuman ayahnya, kemudian Gantara ikut menghampiri mereka dan menyalami Aditya.


"Selamat atas kebebasanmu, aku harap kamu bisa menjadikan ini pelajaran berharga."


"Terima kasih atas segalanya, terima kasih atas kebaikan hati kalian," ucap Aditya membuat Gantara pun hanya mengangguk dan hari itu Gantara kembali mengantar mereka menuju ke apartemen Ambar dan sebelum mereka sampai Gantara mengajak mereka untuk makan siang di restoran mewah.


"Anggap saja ini kita merayakan hari kebebasanmu, jangan sungkan makanlah. Kita lupakan masalah yang lalu, mari kita memperkuat silaturahmi kita, walau bagaimanapun kita berdua adalah ayah Nabila, mari kita memberikan kebahagiaan kepada Nabila dengan hal-hal yang baik," ucap Gantara membuat Aditya pun setuju dan melihat putrinya. Mereka pun makan dengan lahap dan sesekali bercanda, melupakan apa yang pernah mereka alami di masa lalu.


Setelah makan di restoran mewah, Gantara pun mengantar Aditya dan Ambar menuju ke apartemennya. Namun, mereka tak bisa turun karena Gantara harus kembali ke kantor.


"Iya, Sayang. Ayah mengerti. Nabila belajar yang rajin ya, kita ketemu saat Nabila libur nanti," ucap Aditya membuat Nabila pun mengangguk dan mereka pun melajukan mobilnya menuju ke kantor, hari ini Nabila akan ikut ayahnya ke kantor sementara itu Aditya dan Ambar berjalan menuju ke apartemen mereka. Aditya merasa sangat bahagia bisa kembali ke apartemen di mana apartemen itu dibelinya dengan hasil keringatnya sendiri, di saat ia masih sangat kesusahan dengan uangnya. Ia kembali teringat rencananya untuk membeli rumah yang lebih mewah untuk Jingga dan Nabila juga ibunya. Namun, justru dihabiskan bersama dengan wanita yang sudah merusak rumah tangganya itu.


"Ibu sudah memasak untukmu sebelum ibu pergi," ucap Ambar antusias kemudian masuk ke dapur dan menghangatkan beberapa makanan yang memang sudah dimasaknya dan menyiapkannya di meja makan.

__ADS_1


"Cicipi lah sedikit, ibu tahu kamu sudah kenyang, ibu sendiri juga sudah kenyang," ucap Ambar menyiapkan satu mangkuk sup di mangkok, sup yang masih mengepul karena habis dipanaskan.


Aditya yang melihat senyuman dan usaha ibunya untuk membuatkan sup tersebut pun duduk di kursi dan mulai melahap semua makanan yang dipersiapkan oleh ibunya itu untuk menyambutnya, ia sudah lama tak makan masakan ibunya do meja makan itu dan dengan suasana rumah, sehingga walaupun perutnya sudah kenyang. Namun, semua makanan itu terasa nikmat melalui tenggorokannya.


"Terima kasih ya, Bu. Terima kasih sudah menungguku dan sabar menungguku selama ini, menunggu anak yang tak berguna ini."


"Apa yang kamu katakan, Nak. Kamu anak ibu satu-satunya, mari kita hidup dengan baik dan mengikuti kemana takdir membawa kita." Kini Ambar tak lagi akan memaksakan putranya untuk bekerja dan menghasilkan banyak uang untuknya. Mereka bisa bersama itu sudah cukup untuknya saat ini.


Setelah makan, Aditya masuk ke kamarnya. Ia tercengang saat melihat kamarnya sudah berubah.


"Maaf ya, ibu mengubahnya. Semua ini dilakukan agar Nabila bisa nyaman tidur di sini, nanti kita bisa ubah lagi. Semua peralatan yang dulu milikmu ibu simpan di kamar ibu," ucap Ambar saat melihat anaknya hanya menatap di ambang pintu, Aditya pun mengulas senyum.


"Nggak papa, Bu. Kamar ini akan selamanya menjadi kamar Nabila saat ia datang. Ibu benar kita harus membuatnya nyaman agar bisa berbagi dengan Jingga, pasti di sana kamarnya lebih indah kan?" ucapnya membuat Ambar pun mengangguk, karena memang ia tahu kamar Nabila jauh lebih besar dan nyaman.

__ADS_1


"Aku akan merubah ruang kerjaku menjadi kamar saja," ucap Aditya membuat Ambar pun setuju dan hari itu mereka kembali merenovasi ruang kerja Aditya menjadi kamar milik putranya itu, walau kamar itu tak seluas kamar milik Nabila. Namun, Aditya sangat bahagia kamar itu lebih nyaman dari kamar yang ditempatinya selama beberapa tahun terakhir ini di sel penjara.


Selama seminggu Aditya terus berada di rumah bersama ibunya, ia bahkan memasak, membersihkan rumah dan tak membiarkan ibunya itu melakukan apa-apa hingga di hari berikutnya Nabila pun datang untuk menginap di sana selama 2 hari. Mereka menghabiskan waktu bersama di apartemen itu, mereka melakukan banyak hal, semua membuat Aditya bahagia dan merasakan hidupnya selama beberapa tahun ini sia-sia di penjara. Namun, ia tak menyesal karena begitu banyak pelajaran yang diambilnya di sana, ia ingin menjadi lebih baik dari sebelumnya, ingin membuat anaknya bangga menyebut jika dirinya adalah ayah dan ingin membahagiakan ibu kandungnya.


__ADS_2