Batas Kesabaran Seorang Istri

Batas Kesabaran Seorang Istri
Salah Paham


__ADS_3

Jingga yang mendapat foto Fika memperhatikannya. Fika memang gadis yang cantik membuat ia memperlihatkan foto Fika pada Nabila yang kebetulan baru saja pulang.


"Bagaimana menurut Nabila, dia cantik kan? Cocok nggak dengan ayahnya Nabila?" tanya Jingga yang tahu jika anaknya itu terus saja meminta Gantara untuk mencarikan istri untuk Aditya.


"Iya, Bu. Cantik, dia calon istrinya ayah, ya?" tanya Nabilah berbinar senang, ia bisa melihat senyuman yang tulus di wajah Fika di dalam foto tersebut.


"Iya, jika Nabila setuju kita jodohkanereka."


"Iya, Bu. Nabila setuju."


"Ya sudah, ini telepon ayah dan katakan jika Nabila setuju. Ibu juga setuju jika dia menjadi calon ibunya Nabila," ucap Jingga kemudian ia pun melakukan panggilan video pada Gantara.


"Bagaimana, kalian sudah melihat foto gadis itu?" tanya Gantara begitu panggilan videonya terhubung dengan istrinya dan ia juga bisa melihat jika Nabila ada di sana.


"Iya, Ayah. Nabila setuju, Nabila ingin ketemu dong dengan colon istri ayah."


"Iya, nanti juga kalian bertemua.


"Ayah, dia bekerja di kantor Ayah, ya?" tanya Nabila.


"Iya!"


"Dia karyawan baru ya, Mas? Aku belum pernah melihatnya," tanya Jingga lagi kemudian Gantara mengangguk.


"Iya, dia baru bekerja. Baru masuk bulan ini, dia bekerja sebagai cleaning service," ucap Gantara membuat Jingga pun mengangguk. Mereka semua tak pernah memandang siapapun dari pekerjaan, asalkan dia pantas menjadi ibu Nabila dan baik hati, mereka akan setuju.


Gantara kemudian menceritakan bagaimana pertemuan antara Fika dan juga Aditya saat pertama mereka bertemu, saat momen di mana Aditya tersiram kopi dan Fika yang ingin meminta alamat Aditya untuk meminta maaf karena telah menghilangkan jas tersebut. Nabila dan juga Jingga yang mendengar cerita sang ayah tertawa terbahak-bahak, sepertinya mereka memang pasangan cocok.

__ADS_1


"Ya sudah, Ayah. Nabila ingin bertemu dengannya, Nabila penasaran seperti apa sosoknya."


"Ya sudah, kita ketemu di restoran. Ayah ada pertemuan dengan Aditya dan nanti Fika juga mau ikut dan ingin bertemu dengan Aditya, jika kalian mau bertemu dengannya kalian bisa ikut datang dan bergabung dengan kami, sekalian kita makan siang bareng saja disana. Jangan lupa bawa anak-anak juga yang lain," ucap Gantara yang sudah lama tak makan siang bersama di restoran, bersama dengan ketiga anak-anaknya, maka akan seru jika Fika dan juga Aditya ikut makan bersama dengan mereka.


"Ide bagus, Mas. Ya sudah kami siap-siap dulu ya," ucap Jingga membuat Gantara pun mengangguk dan mereka mengakhiri panggilan mereka. Nabila langsung berlari ke kamarnya untuk mengganti pakaian seragam sekolahnya, ia begitu semangat ingin bertemu dengan calon ibu barunya.


Namun, yang jadi masalah Gantara tak mengatakan kepada mereka jika Aditya juga belum diberitahu, apakah dia setuju untuk menjadikan Fika adalah calonnya, apakah Aditya suka dengan sosok.


Gantara hanya tersenyum membayangkan bagaimana jadinya nanti saat mereka bertemu di restoran, mereka semua akan menjadi mbak comblang antara Fika dan juga Aditya. Ia pun bergegas mengerjakan semua beberapa pekerjaan yang harus diselesaikannya sebelum bertemu dengan Aditya.


Sementara itu di kediaman Gantara, Jingga sudah menyiapkan semua anak-anaknya.


Setelah mereka sudah siap mereka pun menuju ke restoran yang dimaksud. Lebih baik mereka yang menunggu daripada mereka terlambat, mengingat anak-anak Jingga sudah rewel ingin berangkat setelah bersiap-siap akan pergi.


Sebelum berangkat Jingga mengirim pesan kepada Gantara jika mereka sudah menuju ke restoran tersebut, Gantara yang masih mengerjakan beberapa pekerjaannya mengiyakan dan mengatakan jika ia juga akan menuju ke sana.


Gantara mengambil teleponnya, menghubungi seseorang dan meminta agar Fika menemuinya di parkiran.


Fika yang mendapat kabar tersebut sudah tahu jika mungkin bosnya itu sudah akan pergi, ia dengan cepat mengganti pakaiannya dan menunggu Gantara di depan lift di lantai bawa. Begitu Gantara keluar, mereka pun sama-sama menuju keluar kantor. Fika duduk di samping Gantara, ia terus diam sepanjang perjalanan dan memainkan kukunya. Gantara melirik Fika dengan ekor matanya, senyum kembali terbit di bibirnya, ia yakin Fika memang wanita yang cocok untuk menjadi ibu tiri dari Nabila.


"Oh ya, Fika. Bagaimana keadaan ayahmu?" tanya Gantara memulai pembicaraan, mengusir rasa hening di dalam mobil itu. Fika yang mendengar pertanyaan Gantara langsung melihat ke arahnya.


"Ayahku? Anda mengenal ayahku?" tanya Fika membuat Gantara mengangguk.


"Ayahmu pak Hermawan kan? Aku dengar dia terkena serangan jantung, ya?" tanyanya.


"Iya, Pak," lirih Fika, sejenak ia lupa jika ayahnya dulu adalah seorang pebisnis, pasti banyak orang yang mengenalnya dari kalangan bisnis termasuk Gantara.

__ADS_1


"Lalu di mana kalian tinggal? Aku dengar rumah kalian juga sudah dijual?" tanya Gantara lagi membuat Fika hanya mengangguk dan menunduk, ia meremas jemarinya menahan isakan yang kini sudah akan menerobos keluar dari bibir mungilnya setiap membahas masalah ayahnya, ia tak tahan untuk menangis.


"Bagaimana dengan biaya pengobatan ayahmu? Apa kalian masih memiliki biaya?" tanya Gantara lagi membuat Fika lagi-lagi hanya mengangguk, ia tak bisa menjawab dengan suara karena saat ini ia tengah berusaha menahan isakannya. Jika membuka mulut ia pasti yakin bukan jawaban yang keluar, tapi suara isakan. Ia tak ingin terlihat lemah di mata siapapun.


"Jika kamu kekurangan biaya untuk pengobatan ayahmu, kamu bilang saja. Ayahmu merupakan sosok yang baik yang banyak membantu perusahaanku, aku akan membantunya juga," ucap Gantara lagi membuat Fika lagi-lagi mengangguk, ternyata walau ayahnya sudah tak bekerja di dunia bisnis lagi, masih ada orang-orang yang mengenal jasa-jasa ayahnya yang terdahulu dan menghormatinya.


"Oh ya, apa kamu sudah punya kekasih?" tanya Gantara membuat suasana haru yang dirasakan oleh Fika kini berubah menjadi tegang, dia melihat ke arah Gantara dengan tatapan horror.


"Kekasih, Pak?" tanyanya meyakinkan apakah ia tak salah dengar.


"Iya, kekasih. Apa kamu tak ada rencana untuk menikah?" tanya Gantara lagi masih dengan fokus pada kemudinya, melihat ke depan tanpa melihat ke arah Fika.


Fika menelan salivanya, apakah bosnya itu ingin menikahinya dan menjadikan istri kedua? Di mana Fika tahu jika bosnya itu sudah memiliki istri dan memiliki anak.


"Bagaimana? Apa kamu mau menikah?"


"Tidak, Pak. Saya ingin fokus untuk kerja dulu," jawab Fika cepat.


"Kenapa? Jika kamu menikah akan ada yang membantu perekonomian keluargamu."


Mendengar apa yang dikatakan oleh Gantara membuat Fika semakin berpikir jika bosnya itu pasti ingin memintanya menjadi istri kedua. Ia sudah berpikir yang tidak-tidak tentang Gantara, bagaimana jika Gantara bukannya membawanya bertemu dengan si pemilik jas tersebut, tapi membawanya ke tempat-tempat yang bisa membahayakannya.


"Pak, saya turun di sini saja. Saya lupa jika saya ada pekerjaan," ucap Fika yang mulai merasa takut hanya berdua dengan atasannya itu.


"Tinggalkan saja pekerjaanmu, kita sudah dekat," ucapnya dan kebetulan Gantara memarkirkan mobilnya di parkiran sebuah hotel mewah membuat Fika semakin menegang.


Ia tak tau jika di mana restoran yang mereka tuju bersebelahan dengan hotel tersebut dan Gantara bisa melihat jika perkiraan di restoran itu cukup ramai dan biasanya memang Gantara selalu memarkirkan mobilnya di depan hotel tersebut.

__ADS_1


'Hotel? Ya ampun apa yang ingin Pak Gantara lakukan padaku dengan membawaku ke hotel. Aku pikir dia pria yang baik, ternyata dia sama saja dengan pria yang lain pada umumnya. Dia pria hidung belang,' batin Fika menatap Gantara dengan tatapan kesal. Ia tak akan mau juga Gantara sampai memintanya untuk melakukan hal yang tidak-tidak, walau ia harus dipecat sekalipun ia tak akan menuruti apapun yang dikatakan oleh bosnya itu.


__ADS_2