Batas Kesabaran Seorang Istri

Batas Kesabaran Seorang Istri
Menjaga Nenek


__ADS_3

Jingga sebenarnya tak mengizin Nabila pergi ke rumah neneknya. Namun, karena Gantara meyakinkan jika akan aman di sana, belum lagi Nabila yang terus merengek karena merasa khawatir saat mendengar neneknya itu sakit.


"Ibu aku mohon, kasihan nenek di rumah itu sendiri tak ada yang merawatnya, Nabila akan menemaninya, Bu," ucap Nabila yang terus mengikuti kemanapun ibunya pergi.


Jingga menatap pada Gantara, mencoba mencari kebenaran dari kata-katanya jika ia akan menjaga Nabila dari Ambar dan tak akan terjadi apa-apa pada Nabila.


"Mas, apa kamu yakin?" tanyanya membuat Gantara pun mengangguk.


"Baiklah, tapi Nabila janji ya jangan melakukan hal-hal yang bisa membuat ibu bersedih," ucap Jingga membuat Nabila langsung memeluk ibunya.

__ADS_1


"Nabila janji, Bu. Begitu nenek sudah sembuh dan bisa melakukan aktivitasnya sendiri, Nabila janji akan cepat kembali bersama ibu lagi, aku janji," ucap Nabila. Jingga mencium pipinya, menarik garis senyum dan mengelus kepala putrinya itu, kebaikan hati Nabila pasti tak bisa membuat neneknya dalam keadaan seperti saat ini.


"Ya sudah hati-hati ya, ingat jika ingin melakukan sesuatu bicara dulu pada mbak Novi," ucap Jingga.


Mbak Novi adalah pengasuh baru yang menjaga Alif. Namun, karena saat ini Nabila ingin pergi, mbak Novi di minta untuk menjaga Nabila dan juga satu pelayan yang sudah bekerja di rumah itu selama puluhan tahun, dua pelayan yang ikut bersama Nabila dan Gantara rasa sudah cukup untuk menjaga Nabila selama di rumah Ambar.


Bukan hanya mereka berdua saja, Gantara juga menempatkan satu orang penjaga di depan pintu keluar, takut jika sampai Ambar melakukan hal-hal dan membawa kabur Nabila. Segala sesuatu yang mungkin saja terjadi diantisipasi oleh Gantara, walau ada keyakinan di hatinya jika semua itu akan terjadi.


Keesokan harinya pada siang hari, Gantara sendiri yang mengantar Nabila untuk ke apartemen Ambar. Begitu masuk ke dalam rumah itu, ia melihat rumah itu sangat berantakan dan Nabila langsung masuk ke kamar Ambar yang terbaring di tempat tidurnya, terlihat tak berdaya.

__ADS_1


"Bagaimana kondisinya?" tanya Gantara pada tetangga yang menjaganya sejak kemarin.


"Kondisinya masih sangat lemah, kata dokter yang memeriksanya di pagi tadi jika kondisinya masih seperti saat ini hingga besok terpaksa ibu Ambar harus dibawa ke rumah sakit," jelas tetangga tersebut membuat Gantara pun hanya mengangguk dan melihat ke arah Ambar.


Sepertinya ia memang benar-benar sakit dan sudah keputusan tepat mengirim Nabila dan dua orang pelayan untuk membantunya, tak mungkin ia terus merepotkan tetangga dari Ambar itu.


"Ya sudah, jika butuh sesuatu telepon ayah saja," ucap Gantara memberikan ponsel kepada Nabila, di ponsel itu hanya ada beberapa nomor, nomor Gantara, Jingga, kedua orang tua Jingga dan kedua orang tuanya sendiri.


"Baik, Ayah," jawab Nabila menerima ponsel tersebut, setelahnya ia meninggalkan Nabila yang saat ini bersama dengan Ambar di kamar. Nabila menyuapi neneknya yang sudah bangun begitu mendengar Nabila datang, sementara bibi mulai membersihkan rumah.

__ADS_1


"Awasi Nabila dengan baik, aku sengaja mengirim kalian berdua ke sini agar bisa bergantian mengawasi Nabila. Jika ada yang tak bisa mengawasi Nabila karena pekerjaan lain. Aku rasa kami sidah paham tanpa aku jelaskan."


Kemudian Gantara pun keluar dari apartemen itu menuju ke kantornya, meninggalkan Nabila dan Ambar.


__ADS_2