Batas Kesabaran Seorang Istri

Batas Kesabaran Seorang Istri
Masadepan Yang Terancam


__ADS_3

Aditya melangkah masuk ke ruangan Gantara, ia sudah membuat janji sebelumnya membuat ia langsung dipersilahkan masuk oleh sekretaris yang ada di luar ruangan pemimpin perusahaan tersebut.


"Ayo, silakan masuk, Pak. Anda sudah di tunggu," ucap sekertaris Gantara mempersilahkan masuk.


Aditya masuk dan duduk di hadapan pemimpin perusahaan itu, mereka duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


Aditya langsung memberikan cek yang tadi di bawahnya di hadapan Gantara. Gantara yang melihat cek itu dan melihat ke arah Aditya.


"Bukankah sebagian sudah kau bayar?


Mengapa jumlahnya masih sama seperti cek yang aku berikan hari itu."


"Ini untuk menambahkan jumlah hutang yang belum aku bayar dan sisanya sebagai ucapan terima kasihku karena Anda mempercayaiku dan memberikan pinjaman sebanyak itu tanpa jaminan apapun. Sekarang aku sudah memiliki uang lebih dari yang ada dicek itu dan semua itu berkat Anda, Pak."


"Aku percaya padamu, karena itu aku berani memberilan uang ini. Aku yakin kamu pasti bisa dan akan mengembalikannya, tapi aku salut kamu mengembalikannya dengan jumlah yang lebih," ucap Gantara mengambil cek tersebut dan memasukkannya ke dalam saku jasnya karena itu memang adalah uang miliknya.


"Oh ya, ada satu hal lagi yang ingin aku minta dari Anda, Pak."


"Apa?" tanya Gantara ini menyandarkan tubuhnya kesadaran sofa.


"Aku ada sedikit rezeki, aku ingin membawa ibuku untuk berjalan-jalan ke luar negeri. Jika Bapak mengizinkan, aku ingin membawa Nabila bersamaku."


"Aku tak bisa memutuskannya sendiri, aku akan mendiskusikannya terlebih dahulu dengan Jingga, jika ia menyetujuinya, kamu boleh membawa Nabila," ucap Gantara, ia yakin 100% jika Aditya tahu batasannya saat ini, jika Nabila bukan hanya miliknya seorang.

__ADS_1


"Tentu saja, Pak. Anda harus mendiskusikannya kepada Jingga karena dialah yang paling berhak atas anaknya, Nabila," ucap Aditya membuat Gantara pun mengangguk.


Suara ketukan pintu terdengar membuat mereka melihat ke arah sumber suara.


"Masuk," ucap Gantara.


Seseorang yang bertugas sebagai cleaning service di kantor itu masuk dengan membawa 2 cangkir kopi. Gantara sebelumnya sudah memesan kopi tersebut saat resepsionis mengatakan jika Aditya datang dan ingin bertemu dengannya.


Cleaning service tersebut melangkah menuju ke meja sofa untuk meletakkan dua cangkir kopi tersebut kepada kedua pria berjas yang duduk di sana.


Fika, gadis berhijab yang merupakan cleaning service baru di kantor itu merasa sangat gugup, ini untuk pertama kalinya ia masuk ke ruangan pemimpin perusahaan tersebut membuat dia tanpa sengaja tersandung larena kurang fokus saat berjalan ke arah mereka dan sialnya kopi itu jatuh tepat mengenai Aditya.


"Maaf, Pak. Maaf saya tak sengaja," ucap Fika gugup mencoba membatu Aditnya membersihkan bajunya yang kotor terkena kopi panas yang ia bawa. Fika merasa takut saat menyadari dua gelas cangkir yang seharusnya berada di meja kini sudah berada di lantai dan tumpah mengenai setelan jas milik tamu bosnya.


"Aditya, kau tak apa-apa?" tanya Gantara yang terus melihat apa penyebab ia terlihat menahan sakit, Gantara tak bisa membayangkan bagaimana kondisi milik Aditya saat ini. Apakah kondisinya baik-baik saja setelah mendapat kopi panas dari cleaning servicenya itu.


Aditya hanya mengangguk dan memberi isyarat agar cleaning service tersebut keluar dari ruangan itu.


"Kamu karyawan baru ya di kantor ini?" tanya Gantara menatap ke arah Fika yqng baru iq lihat, membuat Fika pun mengangguk masih dengan wajah ketakutan bahkan wajahnya kini sudah pucat.


"Maaf, Pak. Maafkan saya, ini hari pertama saya bekerja, saya sangat membutuhkan pekerjaan ini tolong jangan pecat saya, Pak," ucap Fika memohon, dia berlutut dan mengatupkan kedua tangannya menatap Gantara dengan memelas, ia tahu kesalahan yang ia lakukan di hari pertamanya ini sangatlah fatal dan mungkin ia akan dipecat saat ini juga.


"Sudah, kita bahas ini nanti. Keluar dari sini, minta cleaning service laki-laki datang untuk membersihkan ruangan ini dan mengambil pakaian Aditya yang sudah kau kotori ini," ucap Gantara membuat karyawan baru itu pun mengangguk cepat dan berlalu keluar dari ruangan itu dengan terburu-buru.

__ADS_1


"Kamu beneran tak apa-apa?" tanya Gantara lagi begitu Fika keluar dari ruangan itu.


"Apa maksudmu aku tak apa-apa, rasanya masa depanku sudah setengah matang," ucap Aditya masih meringis kesakitan bahkan kini ia langsung membuka ikat pinggangnya, melihat kondisi sesuatu yang telah meronta di dalam sana karena terkena siraman air panas.


Gantara merasa kasihan. Namun, ia juga berusaha untuk menahan tawanya melihat Aditya yang kesakitan.


"Sebaiknya masuklah ke ruang gantiku, di sana ada beberapa setelan jas. Sepertinya ukuran kita cocok," ucap Gantara mengambil kotak P3K yang ada di salah satu laci yang berada di bufet yang tak jauh dari mereka, ia memberikan kotak P3K itu pada Aditya.


"Siapa tahu saja kamu membutuhkannya, mungkin cederanya cukup parah. Apa perlu aku panggilkan dokter?" ucap Gantara masih menahan tawanya membuat Aditya hanya menggeleng dan bergegas masuk ke dalam ruangan yang dimaksud oleh Gantara. Ia benar-benar tak tahan dengan rasa perih yang dirasakannya, tak lama kemudian seseorang kembali mengetuk pintu dan itu adalah OB yang diminta oleh Gantara.


"Bersihkan semua ini," ucap Gantara menunjuk tumpahan kopi dan pecahan cangkir yang berserakan di lantai membuat OB tersebut pun mengerti apa yang harus dikerjakannya. Ia pun mulai membereskan semuanya, Gantara mengetuk pintu kamar ruang gantinya.


"Berikan pakaianmu, biar dibersihkan," ucap Gantara.


"Tak usah, aku bisa membersihkannya sendiri. Aku pinjam pakaianmu," ucap Aditya dari dalam membuat Gantara pun mengiyakan dan kembali duduk di meja kerjanya, urusannya dengan Aditya sudah selesai.


Setelah OB membersihkan semua kekacauan yang dibuat oleh Fika, OB tersebut pun keluar dari ruangan itu, di luar sana ada Fika yang menunggu dengan mata yang berkaca-kaca.


"Bagaimana? Apakah aku akan dipecat?" tanyanya yang sangat takut jika sampai ia benar-benar dipecat.


"Jika pak Gantara, dia pasti akan memaafkanmu, tapi kita tidak tahu dengan pak Aditya. Mungkin dia akan meminta pak Gantara untuk memecatmu," ucap OB tersebut melihat ke kiri dan kekanan, memastikan tak ada yang akan mendengar apa yang ingin dikatakannya.


"Apa?"

__ADS_1


"Dia mantan narapidana," ucapnya membuat Fika terkejut, betapa seramnya pria itu dan kesalahannya tadi sangatlah fatal, bagaimana jika orang itu sampai marah, bahkan ia mendapatkan hukuman lebih dari pemecatan.


__ADS_2