Batas Kesabaran Seorang Istri

Batas Kesabaran Seorang Istri
Tim Mak Comblang


__ADS_3

Hari yang dinantikan pun tiba, Jingga dan Gantara mengantar Nabila menuju ke bandara. Ini untuk pertama kalinya Nabila keluar negeri bersama dengan Aditya. Jingga yang tau jika Fika dan adiknya juga ikut membuat ia menjadi lebih tenang.


"Fika, aku titip anakku, ya. Tolong awasi dia, dia sedikit aktif," ucap Jingga menghampiri Fika yang berdiri bersama Zahra dan Ambar yang menunggu Aditya sedang mengurus keberangkatan mereka.


Ambar sangat senang saat Aditya mengajak berlibur keluar negeri, terlebih lagi saat ia tau jika ia akan pergi bersama seorang gadis cantik yang bernama Fika dan Aditya sudah menjelaskan jika ia ada niat untuk mengenal Fika dalam perjalanan mereka ini. Jika ia merasa Fika gadis yang cocok untuk bergabung dengan mereka, ia akan mendekati dan melamarnya.


"Selamat bersenang-senang, ya," ucap Jingga memeluk Nabila.


"Ibu jangan kangen Nabila ya, Bu," ucap Nabila mencandai ibunya.


"Nggak kebalik ya, kamu yang akan merindukan ibu," ucap Jingga balik, karena memang anaknya itu tak bisa jauh darinya. Nabila memperlihatkan deretan giginya dan kembali memeluk erat sang ibu sebelum melangkah masuk ke dalam pesawat.


"Nabila, saat di luar negeri nanti kamu bantuin Ayah ya agar bisa dekat dengan calon bundamu, sekarang mereka masih belum ada ikatan, buat mereka saling dekat, ya," bisik Jingga pada putrinya membuat Nabila yang sudah mengerti apa yang harus dilakukannya karena saat semalam di rumah, Jingga dia sudah menjelaskan apa saja yang harus dilakukannya saat di luar negeri nanti.

__ADS_1


"Siap, Bu. Aku suka dengan tante Fika, aku ingin dia menjadi istri ayah," ucap Nabila dan juga berbisik membuat keduanya pun melakukan tos.


Gantara yang tahu rencana keduanya hanya menggeleng melihat anak istrinya itu. Namun, ia mendukung rencana mereka.


"Kami pergi dulu, ya," ucap Aditya menyalami Gantara kemudian menggenggam tangan Nabila berjalan masuk ke dalam penerbangannya, begitupun dengan Fika yang masuk berjalan beriringan dengan adiknya dan Ambar.


Kali ini Ambar berusaha untuk bersikap baik di depan Fika, ia tak ingin menjadi sosok mertua yang jahat lagi di mata menantunya, agar Fika nyaman saat bersamanya. Walau baru bertemu dengan Fika, ia bisa melihat jika Fika bisa menjadi bagian dari keluarga mereka.


Saat dalam perjalanan di pesawat, Nabila sengaja duduk berdampingan dengan Zahra. Mereka berbincang bersama sementara Ambar juga duduk di kursi lainnya, membuat saat ini Aditya duduk berdampingan dengan Fika.


Aditya sudah lama tak mendekati wanita, membuat ia juga sangat canggung.


"Apa kamu membutuhkan sesuatu?" tanya Aditya membuat Fika hanya menggeleng dan memutuskan untuk kembali membaca novel kesukaannya.

__ADS_1


"Aku ingin memesan minum, apa kamu juga ingin?" tanya Aditya lagi membuat Fika pun mengangguk kali ini. Sepertinya Aditya akan terus menawarinya jika ia tak memesan apapun.


Aditya pun memesan minuman untuk mereka dan Aditya bersandar dan sedikit mendekat ke arah Fika, ia mengatakan jika itu juga novel kesukaannya dan ingin membaca bersama. Fika yang tak keberatan berbagi bacaan kepada Aditya dan menempatkan buku itu di tengah-tengah mereka.


Ambar tersenyum melihat kedekatan mereka, tapi tidak dengan Nabila.


"Zahra, coba lihat ayahku, dia payah sekali kan?"


"Kenapa?" tanya Zahra tak mengerti.


"Ayahku ingin mendekatkan kakakmu, tapi coba lihat triknya nggak keren."


"Ayahmu menyukai kakakku?"

__ADS_1


"Iya, aku juga menyukainya. Aku ingin kakakmu menjadi bundaku. Bagaimana, bolehkan?"


__ADS_2