
15 menit setelah mereka menunggu akhirnya sebuah taxi berhenti di depan pintu gerbang kediaman Gantara. Ambar turun dan menghampiri satpam yang menghampirinya juga dan masih berada di dalam pintu gerbang. Pak satpam tersebut mengenal dengan jelas wajah Ambar, karena ia pernah mengawasinya selama beberapa jam saat Ambar berencana ingin membawa Nabila di tengah malam.
Pak satpam tersebut membuka pintu gerbang dan keluar, ia menghampiri Ambar yang terlihat ragu ingin menghampiri pintu gerbang mereka.
"Ada yang bisa saya bantu, Bu?" ucap pak satpam tersebut berpura-pura tak mengenal sosok Ambar, ia masih berusaha untuk ramah. Ia ingin tahu sekarang apa tujuan Ambar untuk datang ke rumah majikannya itu.
"Aku ingin bertemu dengan majikanmu, apa aku boleh menemuinya? Aku ingin bertemu dengan Jingga," tanya Ambar.
"Ada urusan apa Anda ingin bertemu dengan nyonya kami?" tanya pak satpam lagi masih tak berniat untuk membukakan pintu gerbang dan mengizinkan Ambar untuk masuk.
Jingga yang melihat dari kejauhan, Ambar sedang berbicara dengan satpam dan terlihat satpam tersebut tak mengizinkannya untuk masuk. Jingga pun menelpon penjaga pintu gerbangnya itu.
Ponsel Pak satpam itu bergetar, ia langsung merobos sakunya dan mengambil ponsel satpam tersebut, ia melihat yang memanggilnya tertulis dengan kontak nyonya besar.
"Iya, Bu. Ada apa?" tanya satpam tersebut.
__ADS_1
"Pak di luar ada tamu kan yang ingin bertemu denganku? Biarkan dia masuk," ucap Jingga yang membuat pak satpam tersebut menatap ke arah Ambar, kemudian ia pun mengatakan iya sebelum menutup panggilannya pada majikannya itu.
Ambar masih berdiri mematung menunggu satpam tersebut menerima panggilannya, ia melihat Ambar dari atas hingga ke bawah.
"Apa aku boleh tahu apa tujuan Anda untuk bertemu dengan majikan kami?" tanya satpam lagi yang masih penasaran, pasalnya Gantara dulu melarangnya bahkan mengawasi Ambar agar tak masuk berbeda dengan Jingga yang meminta satpam tersebut untuk membiarkannya masuk. Sedangkan saat ini di rumah Gantara sedang tak, ada rasa ragu apakah ia harus mengizinkan wanita tua yang pernah hampir menculik Nabila itu masuk atau tidak. Namun, karena itu adalah perintah langsung dari Jingga ia mau tak mau mengizinkan Ambar untuk masuk. Namun, ia akan mengawasi mereka dan akan membiarkan Ambar keluar dari rumah itu jika memang membuat kesalahan di dalam rumah utama.
"Ya sudah, Bu. Silahkan masuk, ibu Jingga sudah menunggu ibu di dalam," ucap satpam tersebut membuat Ambar pun mengangguk dan berjalan masuk ke rumah di mana saat ini yang ia ketahui rumah itu adalah rumah Gantara, Jingga dan juga Nabila. Mereka sudah tak tinggal bersama dengan kakek dan nenek Nabila.
Ambar melihat rumah itu sangat besar, pilar-pilar menghiasi bagian luar rumah itu, taman yang begitu luas dan juga begitu banyak mobil-mobil mewah yang berjajar di garasi. Semakin jauh ia semakin disuguhkan dengan pemandangan-pemandangan yang indah, Ambar tak heran akan hal itu karena ia sangat tahu jika suami kedua dari menantunya itu, atau lebih tepatnya mantan menantunya itu adalah bos, dimana dulu anaknya bekerja. Dari standar ekonomis saja suami kedua Jingga itu lebih tinggi dari putranya.
"Ayo, silakan masuk, Bu," ucap Jingga sopan membuat Ambar pun mengangguk dan memberikan senyum pada Jingga. Jingga membalas senyumannya dan kemudian mempersilahkannya masuk ke ruang tamu dan ternyata di sana sudah ada Mita yang duduk sambil menggendong bayi digendongannya yang Ambar yakin jika itu pasti anak yang baru saja dilahirkan oleh Jingga.
Ambar memperhatikan Jingga dari ujung kaki hingga ujung kepala, menantunya itu jauh lebih cantik, lebih segar dan lebih berisi dibanding saat ia tinggal bersama mereka dulu. Ia terlihat sangat pandai merawat diri, Ambar tak heran akan hal itu mengingat saat ini pasti Jingga tak menderita, tak seperti saat ia tinggal di kediamannya dulu. Ia bisa melihat semua itu, sudah dipastikan dengan memiliki kuku-kuku yang cantik, seperti itu ia pasti tak pernah mengerjakan pekerjaan rumah tak sama seperti saat ia di rumahnya dulu.
Ambar juga memperhatikan seorang anak kecil laki-laki yang berlarian di sekitaran mereka, bermain dengan mainannya.
__ADS_1
'Apakah itu anak tertua Jingga dari pernikahannya dengan Gantara?' batin Ambar yang melihat keluarga kecil mantan menantunya itu yang terlihat sangat bahagia, berbeda dengan putranya yang mendekam di penjara. Ada rasa kesal, sakit hati dan iri di dalam hatinya. Namun, ia mencoba untuk menguburnya, mengingat terlalu banyak kebaikan yang diberikan oleh Jingga selama ini, walau ia sudah banyak memberikan kesusahan mengizinkannya untuk bertemu dengan Nabila dan juga memotong masa tahanan putranya itu merupakan bukti nyata kebaikan hati dari keluarga kecil Jingga.
"Ada apa Ibu Ambar?" tanya Mita memulai pembicaraan mereka saat sejak tadi Ambar hanya terdiam dan terlihat sangat gugup.
"Aku minta maaf jika kedatanganku mengganggu kalian, aku datang ke sini hanya ingin minta maaf pada kalian semua atas apa yang pernah aku lakukan dan terima kasih atas kebaikan hati kalian."
"Iya, Bu. Suamiku sudah mengatakan semuanya dan aku sudah memaafkan Ibu atas semuanya, tanpa Ibu datang ke rumah ini pun aku sudah memaafkan Anda," ucap Jingga.
"Terima kasih Jingga, terima kasih banyak. Ibu janji tak akan menyusahkan kalian lagi, terima kasih sudah mengizinkan ibu untuk tetap bertemu dengan Nabila," tambah Ambar membuat Jingga pun mengangguk.
Tak lama kemudian disaat mereka tengah berbincang-bincang, sebuah mobil berhenti di depan pintu utama dan tak lama kemudian suara teriakan Nabila terdengar.
"Assalamualaikum, Nabila pulang Ibu," teriak Nabila karena itulah yang sering diucapkannya saat ia baru pulang dari sekolah, berteriak mengucapkan salam dan memanggil ibunya.
"Waalaikumsalam," jawab ke-3 wanita yang duduk di ruang tamu menjawab salam dari Nabila.
__ADS_1
"Nenek? Panggil Nabila pada Ambar dan memeluknya setelahnya bergantian memeluk Mita.