Batas Kesabaran Seorang Istri

Batas Kesabaran Seorang Istri
Dipecat


__ADS_3

Gantara menghela nafas panjang saat melihat jika orang yang selama ini menemui Nabila benar-benar adalah Ambar.


"Maaf, Bu. Bisa tinggalkan kami berdua?" ucap Gantara pada ibu kepala sekolah yang kini berada di ruangan itu bersama dengan mereka.


"Tentu saja, Pak," ucapnya kemudian keluar dari ruangan itu meninggalkan keduanya.


Ambar yang kesal hanya duduk tanpa melihat ke arah Gantara, ia tahu Gantara ingin menemuinya karena sudah tahu jika selama ini ia selalu bertemu dengan Nabila.


Suasana hening di ruangan itu, Ambar tak memulai pembicaraan begitupun dengan Gantara.


"Ibu Ambar," ucap Gantara memulai pembicaraan mereka dan Ambar masih tak mau melihat ke arah Gantara.


"Aku tahu Ibu yang selama ini menemui Nabila kan? Saya keberatan akan hal itu," ucapnya membuat Ambar yang tadinya enggan menoleh kini menoleh ke arah Gantara dan menatap Gantara dengan tatapan tajamnya.


"Apa hakmu untuk melarang Nabila bertemu denganku? Aku adalah neneknya, nenek kandungnya. Kamu itu hanyalah Ayah tirinya, kamu tak punya hubungan apapun dengannya."


"Anda salah, walau saya ini adalah ayah tirinya, tapi bagaimana bila saya ini adalah ayahnya kan secara hukum, saya juga adalah ayah Nabila, suami dari ibunya. Aku rasa tanpa aku jelaskan Ibu juga tahu akan hal itu," jelas Gantara membuat Ambar kembali terdiam.


Secara hukum, hak asuh jatuh di tangan Jingga dan ia sangat bisa untuk melarang mereka bertemu. Jika situasinya seperti saat ini, dimana Ambar terkesan menghasud Nabila untuk membenci mereka.


"Kalau aku tak mau, apa yang kau lakukan jika aku masih tetap menemui Nabila? Apa yang bisa kau lakukan?" ucap Ambar mempertahankan sikap angkuhnya.

__ADS_1


"Aku akan melakukan banyak hal, pertama Anda bisa dikeluarkan dari sekolah ini, kedua aku bisa memastikan Aditya lebih lama lagi di penjara, ketiga aku bisa menuntut Anda karena menghasut Nabila untuk membenci keluarganya."


Mendengar itu Ambar hanya tersenyum getir dan melirik ke arah Gantara, ia sama sekali tak takut akan semua itu. Ia akan terus menemui Nabila sampai kapanpun. Tak ada yang bisa menghalanginya bertemu dengan cucunya. Sudah dihalangi bertemu dengan putranya tak akan dia biarkan orang lain baik itu Gantara memisahkannya dari cucunya.


"Aku tak main-main akan peringatanku, aku akan bertindak tegas kepada Anda jika Anda masih menemui Nabila secara diam-diam dan menghasutnya untuk membenci kami, khususnya membenci ibunya."


"Aku tak pernah menghasutnya," ucap Ambar melipat tangannya di dada.


"Anda jangan bohong, Bu Ambar! Nabila tak pernah berbohong padaku dan dia sudah menceritakan semua apa yang Anda katakan padanya, termasuk Anda memintanya untuk menemuinya di malam hari. Apa yang ingin Anda lakukan bersama dengan Nabila di malam hari. Anda pikir itu tindakan yang tidak melanggar hukum? Anda diam-diam memintanya keluar dari rumah di malam hari, anak seusia Nabila. Apa tujuan Anda?"


"Bukankah kamu bilang Nabila sudah menceritakan semuanya, aku rasa Anda sudah tahu jawabannya jika memang hal itu benar."


Ambar terdiam karena memang rencananya ia akan mengunjungi putranya di pagi hari dan membawa Nabila, tapi karena Nabila tak datang rencana itu pun gagal.


"Jika tujuan Anda ingin mempertemukan Nabila dengan ayah kandungnya, Anda tak usah khawatir. Aku yang akan mempertemukan mereka langsung, tapi jangan harap aku membiarkan Anda membawa Nabila, walaupun dia cucu Anda. Aku tak percaya akan keselamatan Nabila, saat kecil saja Anda bisa menyakiti Nabila dengan menculiknya, menempatkannya di tempat yang tak layak, menyekapnya seperti bukan keluarga sendiri, jadi aku rasa mungkin saja Anda juga akan melakukan hal yang sama jika kami membiarkan Anda membawa Nabila."


Ambar menatap Gantara dengan tatapan tajamnya, nafasnya memburu. Tangannya digenggam erat untuk menyalurkan semua emosinya, saat ini ia benar-benar kalah dari Gantara dari sisi manapun terutama Gantara memiliki kekuasaan dan dia hanyalah seorang petugas catering, anak yang selama ini diandalkan kini dia berada di balik jeruji penjara.


Gantara berdiri dari duduknya dan memasang kancing jasnya.


"Aku peringatkan sekali lagi, jangan pernah menemui Nabila secara diam-diam. Jika Anda ingin bertemu dengan Nabila, hubungi kami. Kami bukanlah orang jahat seperti Anda, kami akan membiarkan Anda bertemu dengan Nabila, tapi tidak sendiri, tapi bersamaku, bersama dengan Jingga atau bersama dengan keluargaku yang lainnya." Gantara mengeluarkan kartu namanya dan memberikan kepada Ambar. "Anda bisa menemui Nabila kapanpun, silahkan hubungi aku terlebih dahulu jika ingin menemuinya," ucapnya lagi, kemudian ia pun langsung keluar dari ruangan itu. Ia malas berdebat dengan Ambar.

__ADS_1


Begitu ia keluar dari ruangan itu, kepala sekolah dan juga beberapa staff sudah menunggu mereka di luar. Ia langsung menghampiri kepala sekolah.


"Jika wanita itu masih bekerja di sini, aku akan memindahkan Nabila ke sekolah lain. Aku tak ingin membahayakan putriku dan terus bertemu dengannya secara sembunyi-sembunyi," ucap Gantara membuat kepala sekolah pun mengangguk.


Gantara berlalu menuju ke kantornya, tak lupa ia berpamitan terlebih dahulu pada putrinya dan kembali mengingatkan kembali jika dia tidak boleh menemui Ambar, jika tak dalam pengawasan." Nabila pun mengangguk, walau ada rasa tak rela untuk tak bertemu dengan Ambar. Namun, ia akan menuruti apa yang dikatakan oleh ayahnya.


Ambar melihat kartu nama yang diberikan oleh Gantara, ia mengambilnya dan merobeknya hingga menjadi bagian yang sangat kecil. Ia tak akan melakukan semua itu, ia akan menemui Nabila kapanpun ia mau.


Ambar berdiri dari duduknya dan ingin keluar. Namun, kepala sekolah sudah masuk dan kembali memintanya untuk duduk, kepala sekolah memberikan sebuah amplop.


"Apa ini, Bu?" tanya Ambar yang memegang amplop yang baru saja diberikan oleh kepala sekolah padanya.


"Itu gaji kamu untuk bulan ini dan pesangon, maaf mulai hari ini kamu tidak bisa bekerja di sekolah ini lagi."


"Apakah Gantara yang memintanya?" tanya Ambar.


"Bukan hanya karena diminta oleh orang tua Nabila, tapi tindakan Anda dengan menemui Nabila secara diam-diam itu sudah melanggar peraturan sekolah dan kami tak mengizinkan akan hal itu, jadi maaf sekali lagi Anda tak bisa bekerja di sekolah ini lagi," ucap ibu kepala sekolah tersebut yang seumuran dengan Ambar.


Ambar mengambil uang tersebut dan berlalu dari sana, jika ia tak membutuhkan uang, ia tak akan mengambil uang itu. Harga dirinya terasa terinjak-injak. Namun, uangnya sudah semakin menipis, uang itu sangat berarti untuknya.


Ambar langsung keluar dari sekolah itu, sebelum keluar ia menatap ke arah kelas Nabila. Ingin rasanya ia kembali menemuinya. Namun, melihat ada guru yang mengawasinya ia pun mengurungkan niatnya dan berlalu dari sana menggunakan taksi. Ambar akhirnya memutuskan untuk menjenguk putranya, semenjak datang ia belum pernah menjenguk putranya itu, rasa rindu sudah sangat menyeruak di hatinya. Selama ini ia sangat ingin bertemu dengan putranya. Namun, ia tak tega saat melihat apa yang dialami putranya itu, tapi kali ini ia akan memberanikan diri untuk datang dan menemuinya seorang diri tanpa Nabila.

__ADS_1


__ADS_2