Batas Kesabaran Seorang Istri

Batas Kesabaran Seorang Istri
Kebaikan Gantara


__ADS_3

Keesokan harinya semua bersiap untuk kembali ke negara mereka, waktu liburan sudah selesai mereka kembali dengan senyum di wajahnya khususnya Ambar. Ia sangat senang karena putranya berhasil meluluhkan hati Fika dan tak membuang waktu dan ingin menikahkan mereka secepatnya. Kabar itu juga sudah sampai ke telinga Gantara dan juga Jingga, mereka ikut senang dan akan menjemput kedatangan mereka di bandara.


Selama seminggu ini pengobatan ayah Fika terus dilakukan, bahkan dua hari setelah ia dipindahkan ia langsung menjalani operasi dan kini ia sudah menjalani pemulihan, kondisinya semakin membaik setiap harinya. Mereka sengaja tak memberitahukan akan hal itu pada Fika agar tidak mengganggu liburan mereka.


Saat ini Jingga dan Gantara sudah menunggu mereka di bandara, sebentar lagi pesawat mereka akan mendarat. Tak lama kemudian mereka pun bisa melihat rombongan Nabila itu keluar dari penerbangannya, Nabila menghampiri ibunya, wanita yang melahirkannya.


Satu minggu di luar negeri yang merupakan hari-hari yang sangat bahagia, tapi ada yang kurang karena tak ada ibunya di sampingnya.


"Nabila merindukan ibu," ucap Nabila yang sudah memeluk erat ibunya.


"Ibu juga merindukanmu, hebat kamu, Nak. Nabila berhasil membantu ayah untuk mendekati tante Fika," ucap Jingga membuat Nabila mengantuk cepat dan bangga dengan apa yang dilakukannya.


Apa meraka akan segera menika?" tanya Nabila membuat Jingga pun mengangguk, kemudian keduanya pun tertawa dan ikut bergabung dengan Aditya dan yang lainnya yang sudah sampai ke arah mereka.

__ADS_1


"Selamat ya atas hubungan kalian," ucap Gantara menyalami Aditya dan juga Fika, Fika hanya tersipu malu mendapat ucapan selamat dari bosnya.


"Maaf ya, aku memindahkan ayahmu tanpa izin darimu sebelumnya," ucap Gantara membuat Fika sangat terkejut.


"Maksudnya apa?" tanyanya.


Gantara pun menceritakan apa yang terjadi satu minggu terakhir ini, termasuk operasi ayahnya yang berhasil dilakukannya.


Mereka pun semua langsung menuju ke rumah sakit di mana ayah Fika dirawat, bukan hanya Gantara, Jingga dan Fika saja serta Nabila dan Zarah, tapi Aditya juga pergi. Ia ingin menjenguk ayah wanita yang telah dilamar itu dan juga ingin meminta restu untuk meresmikan hubungan mereka.


Sesampainya di rumah sakit, Fika langsung berlari memeluk ayahnya yang kini duduk di kursi roda dan terlihat lebih segar dari sebelumnya. Saat masih di rawat di rumah sakit tempat pertama ia mendapatkan perawatan, kondisi ayahnya sangat memperihatinkan, ayahnya bahkan tak sanggup lagi untuk duduk dan hanya mengandalkan infus agar tetap bertahan hidup. Kini Fika bisa melihat ayahnya duduk dan makan bubur dengan tangannya sendiri.


"Jangan menangis, ayah baik-baik saja." Zahra juga memeluk ayahnya merasa sangat senang.

__ADS_1


"Pak, terima kasih banyak atas bantuannya," ucap Fika pada Gantara dan juga Jingga.


"Iya, sama-sama. Kami juga ikut senang melihat ayahmu bisa sembuh. Baiklah, kami permisi dulu, takut Khalisa mencari ibunya."


"Iya, Pak. Sekali lagi terima kasih."


Gantara dan Jingga pun meninggalkan rumah sakit besama Nabila, Ambar dan juga Zahra ikut pulang. Ambar mengajak Zahra untuk ke apartemen, mereka meninggalkan Aditya dan juga Fika bersama ayahnya. Kini mereka di aparteman yqng lebih mewah. Zahra yang paham situasinya ikut ke apartemen Ambar.


"Nenek? Apakah paman Aditya akan segera menikah dengan kakakku?" tanya Zahra.


"Iya, sekarang anak nenek sedang meminta restu pada Ayahmu. Kita doakan saja Aditya mendapatkan restu dan mereka bisa menikah secepatnya. Nanti kalian tinggal di rumah kami saja ya," ucap Ambar yang membuat Zahra pun mengangguk setuju.


Aditya berbicara pada ayah Fika tentang apa yang ia inginkan. Jika ia ingin meminang Fika menjadi istrinya.

__ADS_1


__ADS_2