
Malam hari Jingga mengutarakan maksudnya pada Gantara, membuat Gantara menjadi mengingat apa yang dilakukan oleh Nabila saat mengantarnya tadi. Ia melambaikan tangan pada seseorang, apakah orang yang dimaksud oleh Jingga adalah orang yang sama yang tadi membuat dia sedikit curiga dengan teman Nabila.
"Apa kamu sudah menelpon gurunya lagi? Mungkin saja siang tadi ia mengawasi Nabila saat makan siang dan tahu siapa yang bersama dengan Nabila," ucap Gantara membuat Jingga pun membenarkan apa yang dikatakan oleh suaminya. Ia pun bergegas mengambil ponsel yang ada dinakas dan menelpon guru pembimbing tersebut.
Beruntung Jingga memiliki nomor ponsel pribadinya, sehingga ia bisa meneleponnya walau jam sudah menunjukkan pukul 09.00 malam, ia sudah tak tahan lagi ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada putrinya. Sikap putrinya yang pendiam saat membahas mengenai sosok temannya itu membuat dia menjadi terdorong ingin tahu siapa teman yang dimaksudnya, semua itu terlihat jelas, jika Nabila menyembunyikan sesuatu.
"Halo, Bu. Aku ibunya Nabila, apa ibu tahu siapa yang sering ditemui Nabila saat makan siang?" tanuq Jingga pada Ibu guru Nabila langsung pada apa yang ingin ia ketahui.
"Oh iya, Bu. Maaf tadi aku lupa mengabarkan saat sudah mengetahuinya," ucap guru pembimbing tersebut membuat Jingga langsung menegakkan duduknya.
"Siapa, Bu? Apa dia anak dari sekolahan itu?" tanya Jingga yang sudah tak bisa membendung rasa penasarannya.
__ADS_1
"Oh itu adalah pegawai baru yang bekerja di bagian catering, dia wanita paruh baya. Aku sudah bicara pada wanita itu, katanya selama ini memang Nabila selalu menemuinya. Katanya Nabila kasihan padanya, petugas catering itu sudah tua dan tak punya siapa-siapa," jelas guru pembimbing tersebut.
Mendengar itu Jingga sedikit lebih tenang, pasalnya anaknya itu memanglah sangat sensitif jika mengenai hal-hal seperti itu. Terkadang ia rela turun dari mobil untuk menghampiri seseorang pengemis untuk memberikan makanannya atau meminta uang dan memberikan kepada pengemis tersebut, mungkinkah Nabila juga merasa kasihan dengan wanita paruh baya tersebut, pikir Jingga.
"Bu, maaf apakah orang itu tak berbahaya? Maksudku aku memang Nabila selalu melakukan kebaikan-kebaikan seperti itu, tapi aku takut jika orang itu memanfaatkan kebaikan putriku."
"Ibu tenang saja, dia wanita yang baik. Dia sudah bekerja di sini selama 3 bulan dan tak ada yang perlu dicemaskan, mungkin Ibu benar, jika Nabila hanya kasihan. Ibu itu juga bahkan tinggal di sekolah ini, dia tak punya keluarga dan tak punya tempat tinggal, makanya sekolah memberikan pekerjaan dan juga memberikan tempat tinggal, katanya Ibu itu dulu dia punya cucu sangat mirip dengan Nabila dan saat beristirahat di sana Nabila menghampirinya dan memberikan makanan untuknya. Sejak saat itu mereka sering bersama," jelasnya dengan detail agar Jingha bisa tenang.
Guru tersebut menjelaskan beberapa hal mengenai wanita paruh baya yang sering ditemui oleh Nabila, membuat Jingga tak punya keraguan lagi di hatinya. Ia yakin jika memang Nabila memang melakukan hal itu karena kebaikan. Namun, mengapa ia sampai berbohong, itulah yang membuat Jingga ingin tahu akan hal itu dan Jingga akan menanyakannya langsung besok pada Nabila.
"Iya, Bu. Sama-sama, maaf juga karena telah membuat ibu khawatir, kami akan lebih mengawasinya lagi dan memastikan Nabila akan baik-baik saja bersama dengan ibu paru baya tersebut," ucap guru pembimbingnya lagi kemudian mereka mematikan panggilan mereka.
__ADS_1
Jingga bernapas lega dan meletakkan kembali ponselnya di atas nakas, ia menatap ke arah Gantara.
"Kamu tak usah terlalu cemas, sekolahan itu cukup aman, tak mungkin mereka memasukkan orang-orang yang bukan sekolah di sana. Tenang saja, mungkin Nabila tak mengatakannya karena takut jika kamu sampai melarangnya untuk menemui wanita itu, kamu kan sering melarangnya untuk menemui orang-orang di jalan dan memberikan bantuan langsung pada mereka."
"Aku marah kan demi kebaikannya, kita nggak tahu orang itu adalah orang-orang yang baik atau tidak. Kita tidak mengenalnya, mungkin justru tak tahu terima kasih dan membahayakannya," jelas Jingga membuat Gantara pun hanya mengangguk dan mengusap perut buncit Jingga.
"Ya sudah, istirahatlah. Besok kita tanya kepada Nabila, sebenarnya apa yang terjadi. Biar aku yang tanya saat mengantarnya ke sekolah besok," ucap Gantara membuat Jingga pun mengangguk dan kembali merebahkan dirinya. Dengan perut buncitnya membuat ia cepat lelah saat melakukan aktivitas.
"Oh ya, Mas. Sepertinya aku setuju untuk menyewa baby sitter untuk membantuku menjaga Alif, sebentar lagi juga bayi kita lahir. Aku takutnya tak bisa menjaga mereka berdua, jika mulai dari hari ini Alif mulai diperkenalkan dengan babysitternya mungkin saat adiknya lahir nanti mereka bisa dekat dan Alif tak terlalu cemburu jika aku mengurus adiknya," ucap Jingga yang dibenarkan oleh Gantara.
"Baiklah, besok aku coba cari ke yayasan dan akan mencari orang yang benar-benar serius dan bisa dipercaya," ucapkan Gantara membuat Jingga pun mengangguk dan merasa lebih tenang.
__ADS_1
Gantara menyimpan ponselnya dan ikut berbaring di samping Jingga.
"Tidurlah," ucapnya menarik Jingga ke dalam pelukannya, Gantara mengusap perut istrinya agar istri yang sudah memberikannya kebahagiaan itu bisa tertidur dengan nyenyak.