Batas Kesabaran Seorang Istri

Batas Kesabaran Seorang Istri
Ke khawatiran Nabila


__ADS_3

Hari yang mereka nanti pun tiba, acara hari aqiqahan baby Khalisa. Semua berjalan dengan penuh hikmat, pengajian sedang berlangsung juga tamu-tamu undangan sudah berdatangan.


Nabila berdiri di samping ibunya, ia melihat di sekelilingnya, acara sudah dimulai, tapi neneknya belum juga datang. Ia pun menghampiri Mita, nenek dari ibunya itu.


"Nenek, kenapa nenek dari Ambar belum datang?" tanyanya masih melihat ke kiri dan ke kanan mencari sosok yang sejak tadi ditunggu. Ada rasa kasihan di hati Nabila pada nenek dari ayah kandungnya itu, mengingat saat ini neneknya itu hanya tinggal sendiri dan ingat pesan ayahnya untuk sekali-kali menjenguknya.


"Mungkin dia ada kesibukan makanya terlambat, tunggu saja nanti dia akan pasti datang. Nabila kan sudah mengundangnya dan mengatakan jika dia harus datang, nenek Nabila pasti akan datang, tunggu saja ya, Nak," ucap Mita membuat Nabila pun mengangguk. Ia terus duduk di kursi yang berdekatan dengan jalan masuk agar jika neneknya datang ia bisa langsung melihat dan menyambutnya.


Acara terus berlangsung dan Khalisa kini telah bergabung dengan yang lainnya dan mulai melakukan acara memotong rambut dan juga memperkenalkannya kepada semua tamu-tamu yang datang.


Nabila yang lelah menunggu akhirnya memilih untuk bergabung dengan keluarganya yang lainnya, melihat adiknya yang begitu menggemaskan itu. Hingga acara selesai pun Ambar tetap juga tak datang membuat Nabila hanya bisa menghela nafas, ia menghampiri ibunya yang sudah berada di dalam kamar.


"Bu, kenapa nenek tidak datang? Nabila kan sudah mengundangnya," tanya Nabila.


"Ibu juga tidak tahu, Nak. Coba kamu minta ayah untuk menelponnya, mungkin saja ia nggak bisa datang karena ada hal lain, biar nenek sendiri yang menjelaskannya pada Nabila," ucap Jingga walau Jingga masih merasa sakit hati dengan mantan ibu mertuanya itu, tapi di depan anaknya ia berusaha untuk bersikap baik dan melupakan semua apa yang terjadi di masa lalunya, ia tak ingin Nabila membenci neneknya.

__ADS_1


Nabila pun mengangguk dan berjalan menuju ke arah ayahnya yang sedang berdiri di balkon kamar sambil menelpon seseorang.


Nabila terus menunggu sampai ayahnya itu selesai menelpon, begitu Gantara berbalik ia melihat Nabilah yang berdiri di belakangnya.


"Nabilah, ada apa, Nak?" tanya Gantara membuat Nabila pun mengungkapkan apa yang ingin dikatakannya. Bagaimana dia merasa khawatir karena neneknya tak datang, ia ingin tahu apa alasannya.


"Baiklah, sebentar ayah telepon dulu," ucap Gantara menelpon nomor ponsel Ambar yang ia ketahui, ia tak ingin putrinya itu terus merasa cemas karena Ambar yang tak datang. Gantara juga sudah tahu dari ibu mertuanya jika mereka sudah mengundang Ambar untuk datang ke acara aqiqahan putri mereka dan Gantara sama sekali tak masalah akan hal itu.


Beberapa kali Gantara menelpon. Namun, Ambar tak juga mengangkat panggilannya walau panggilannya itu terhubung, membuatnya ikut khawatir.


"Halo, Bu. Saya ingin bertanya mengenai ibu Ambar, kami mengundangnya ke acara, tapi dia tak datang. Aku juga coba menghubunginya, tapi tak diangkat padahal panggilanku terhubung dengan ponselnya, bisa tolong cek ke apartemennya," ucap Gantara begitu panggilannya terhubung dengan tetangga dari Ambar.


"Baik, Pak. Saya akan coba mengeceknya," ucap tetangga tersebut kemudian menghampiri apartemen Ambar, ia menekan tombolnya berulang-ulang. Namun, sama saja tak ada yang membuka pintu, membuat tetangga tersebut pun memanggil keamanan di apartemen itu dan dengan kunci cadangan mereka membuka kamar Ambar, takut jika terjadi sesuatu pada wanita paruh baya itu dan benar saja begitu mereka membuka pintu Ambar terlihat berbaring di lantai dengan memegang sebuah tas dan penampilannya yang sudah rapi. Sepertinya wanita tua itu ingin pergi. Namun, entah apa yang terjadi padanya hingga ia tak sadarkan diri dan berbaring di lantai depan pintu


"Ayo, Pak. Kita angkat ke kamarnya dulu aku," ucap tetangga tersebut kemudian bersama dengan petugas keamanan tersebut mengangkat Ambar ke atas tempat tidur, setelah memperbaiki posisinya dan mencoba membangunkan Ambar dengan memberi wewangian akhirnya Ambar pun tersadar. Namun, tetap saja ia masih kurang sehat, tubuhnya terasa panas.

__ADS_1


"Air, aku haus," ucap Ambar membuat tetangga tersebut yang juga seumuran dengannya langsung mengambilkan air dan membantu Ambar untuk minum.


"Terima kasih," ucap Ambar kemudian kembali menutup matanya membuat tetangga tersebut tak punya pilihan lain selain menelpon Gantara dan melaporkan apa yang terjadi pada mantan mertua istrinya itu.


Gantara yang mendengar jika Ambar sedang sakit langsung menghubungi dokter keluarganya, meminta untuk datang ke apartemen Ambar dan memeriksa kondisinya. Sementara itu Nabila terus menunggu ayahnya yang sedang menelpon Ambar, ia tahu jika ayahnya saat ini sedang mencari tahu keberadaan Ambar.


"Bagaimana, Ayah?" tanya Nabila saat ayahnya mematikan telepon.


"Nenek nggak bisa datang karena nenek sakit, sekarang nenek sedang diperiksa oleh dokter," ucap Gantara yang menarik Nabila untuk duduk di sampingnya.


"Nenek sedang sakit? Kasihan sekali nenek, dia sakit seorang diri di apartemennya tak ada yang menemani. Ayah, bolehkan Nabila menemaninya sampai nenek sembuh?" pinta Nabila dengan raut wajah memohon membuat Gantara melihat ke arah Jingga, walau bagaimanapun izin dari Jingga lah yang menentukan apakah Nabila boleh ke rumah Ambar atau tidak, tentu saja ia akan menginap jika ingin menjaga Ambar yang sedang sakit.


"Ayah, bolehkah Nabila pergi dan menginap sampai nenek sembuh?" pinta Nabila lagi membuat Gantara hanya menghela nafas.


"Baiklah, boleh. Tapi, Nabila tak pergi sendiri, Nabila akan ditemani oleh baby sitter yang selama ini menjaga Alif dan juga satu pembantu lainnya."

__ADS_1


"Iya, ayah," Nabila memeluk ayahnya merasa senang. Gantara mengangguk melihat Jingga yang melihat kearahnya, memberikan isyarat kika sua akan baik-baik saja.


__ADS_2