Batas Kesabaran Seorang Istri

Batas Kesabaran Seorang Istri
Penjagaan Gantara


__ADS_3

Ambar saat ini melihat ke arah pintu gerbang, ia yakin jika Nabila pasti akan menghampirinya. Namun, jam sudah menunjukkan pukul 10.00 malam, tapi anak itu belum juga datang.


"Apakah Nabila ketiduran ya, sehingga ia tak bisa keluar dari rumah?" gumam Ambar yang sejak tadi menjaga posisinya agar tak terlihat oleh penghuni rumah tersebut. Namun, tanpa ia sadari satpam yang juga duduk di dalam pos satpam terus saja mengawasinya dari dalam.


"Dasar! Sampai kapan kamu akan menunggu di sana nenek tua, walau sampai pagi pun kamu menunggu, kamu tak akan bisa bertemu dengan Nabila," gumam pak satpam tersebut merasa geram, jika kemauannya ia sudah mengusir Ambar dari sana. Namun, karena majikannya mengatakan untuk berpura-pura tak melihatnya, ia pun hanya melakukannya saja dan mengawasinya dari jauh.


Satpam tersebut yang terus mengawasi Ambar sakin kesal saat ia sudah sangat mengantuk, ia terkejut saat ponselnya berdering. Ia dengan cepat mengangkat saat melihat itu adalah panggilan dari Gantara.


"Halo, Pak. Apa orang itu masih ada di sana?" tanya Gantara yang sudah tak melihat Ambar dari jendela kamarnya.


"Masih, Pak. Dia masih berada di depan pintu gerbang, sepertinya dia masih menunggu non Nabila."


"Terus awasi dia ya, Pak. Jangan lengah jika dia mencoba memaksa masuk baru Bapak mengusirnya. Namun, selama dia hanya menunggu biarkan saja. Aku ingin tahu sampai kapan dia akan menunggu Nabila. Besok pagi aku akan langsung menemuinya di sekolah dan memberikannya tindakan tegas," ucap Gantara kemudian mereka pun penutup panggilannya setelah menegaskan untuk kembali mengawasi Ambar.


Gantara kembali mengerjakan pekerjaannya di ruang tengah, daripada ia hanya duduk termenung menunggu apa yang ingin dilakukan oleh Ambar. Ia lebih baik membawa laptop ke ruang tengah dan mulai mengerjakan beberapa pekerjaannya di sana, sesekali ia akan berjalan ke kamar Nabila dan menengok putrinya itu, dan memastikan apakah putrinya itu masih tidur atau sudah terbangun dan beberapa kali ia lihat Nabila semakin tertidur pulas.


Jam sudah menunjukkan pukul 01.00 malam, Ambar yang sudah yakin jika Nabila tak akan keluar memutuskan untuk pergi dari sana. Pak satpam tersebut melihat dari kejauhan jika Ambar menghentikan sebuah taxi dan berlalu dari sana, barulah satpam tersebut bernafas lega.


Setelah mengecek kembali pintu gerbang dan sudah terkunci dengan baik. Ia pun kembali ke pos satpam, dimana di pos satpam itu ada tempat beristirahat, ia pun meluruskan tubuhnya dan memejamkan mata.

__ADS_1


"Merepotkan sekali wanita itu," gumamnya yang sudah memejamkan matanya, ia berniat untuk istirahat sejenak. Namun, tiba-tiba ponselnya kembali berdering, membuat satpam tersebut langsung beranjak dari berbaringnya dan melihat ponselnya. Ia yakin jika itu adalah bosnya tanpa menatap dan melihat ke arah ponsel ia langsung mengangkatnya.


"Halo, Pak," jawabnya cepat dan benar saja orang yang menelponnya adalah Gantara.


"Bagaimana? Apakah dia masih tetap bersikeras menunggu Nabila di sana?" tanya Gantara, ia juga masih berada di ruang tamu mengerjakan beberapa pekerjaannya. Rasa kantuk kini mulai menderanya. Namun, rasa kekhawatirannya membuat dia tak masuk ke kamar untuk beristirahat, sementara Jingga sudah terlelap dalam tidurnya, usia kandungannya yang sudah semakin membesar membuat ia lebih cepat kelelahan.


"Wanita itu sudah pergi, Pak. Tadi aku melihat dia menghentikan taxi dan pergi dari sini, mungkin dia juga sudah menyerah menunggu Nabila," ucap satpam tersebut membuat Gantara hanya mengangguk.


"Ya sudah, Pak. Pastikan pintu gerbangnya terkunci dengan rapat dan Bapak boleh istirahat."


"Baik, Pak. Tentu saja," jawab satpam tersebut kemudian kembali meletakkan ponselnya di sampingnya dan kembali merebahkan diri. Ia hanya menghela nafas berat kemudian menutup mata sejenak kemudian ia pun tertidur, rasa kantuk mulai menyerangnya ia akan beristirahat sejenak, tak lupa ia menyalakan alarm untuk 30 menit ke depan, walau hanya 30 menit, tapi itu waktu yang cukup.


Gantara yang mendengar jika Ambar sudah pergi memutuskan untuk membereskan pekerjaannya, menyimpannya kembali di ruang kerjanya malam itu.


Ia yang masih cemas akan kondisi Nabila dan juga takut jika sampai ia terlena dan Nabila keluar dari rumah itu. Ia memutuskan untuk tidur di samping Nabila, tak lupa ia mengunci pintu dan menyimpan kuncinya, memastikan jendela terkunci dengan rapat.


Gantara tertidur pulas, rasa lelah tak bisa bohong, membuat tubuhnya menginginkan beristirahat.


Pagi hari Gantara membuka mata dan saat meraba di sampingnya ia sangat terkejut saat Nabila tak ada di sana.

__ADS_1


"Nabila, di mana kamu, Nak?" panggilnya, Gantara yang panik langsung memeriksa pintu, pintunya masih terkunci ia memeriksa jendela dan jendelanya juga masih terkunci. Gantara yang tak melihat Nabila mencoba memeriksa ke semua ruangan yang ada di kamar itu, ia sangat panik saat tak menemukan putrinya itu. Ia takut jika sampai Nabila keluar tanpa sepengetahuannya. Namun, ia bernafas lega saat mendengar suara gemercik air dari kamar mandi, membuat ia yakin jika putrinya itu saat ini berada di kamar mandi.


Gantara yang baru saja terbangun dari tidurnya dan dihadapkan pada situasi seperti itu, membuat ia merasa lemas, ia kembali duduk di sisi tempat tidur dan melihat ke arah kamar mandi.


Tak lama kemudian pintu kamar mandi pun terbuka dan terlihat Nabila keluar dari sana.


"Nabila, kamu membuat ayah menjadi panik. Ayah pikir kamu tak ada di kamar ini," ucapnya menghampiri putrinya yang keluar dari kamar mandi, sepertinya putrinya itu habis mandi.


"Memangnya kenapa Ayah? Nabila mau ke sekolah jadi harus mandi kan?" ucap Nabila dengan polosnya membuat Gantara pun hanya mengangguk dan membantu Nabila bersiap-siap, setelahnya mereka pun keluar dan menuju ke meja makan, di sana sudah ada Jingga yang menyiapkan makanan untuk mereka.


"Mas, kamu nggak ke kantor?" tanya Jingga yang melihat suaminya itu masih mengenakan pakaian yang semalam.


Semalam Jingga terbang di malam hari dan tak mendapati suaminya tidur di sampingnya dan saat berjalan menuju ke arah kamar Nabila, ia mencoba membukanya. Namun, ternyata kamar putrinya itu terkunci, membuat Jingga yakin jika suaminya tidur di dalam sana karena tak biasannya kamar Nabila itu dikunci. pasti suaminya takut jika sampai Nabila keluar dari kamar itu dan menemui Ambar, membuat Jingga lebih tenang dan kembali melanjutkan tidurnya.


"Hari ini aku akan ke kantor siang hari, pagi ini aku akan mengantar Nabila ke sekolah dan berbicara pada Ambar, semoga saja aku bisa bertemu dengannya pagi ini."


"Iya, Mas. Pokoknya aku nggak mau jika sampai Ambar kembali menemui Nabila," ucap Jingga berbisik karena tak mau jika Nabila mendengar pembahasan mereka.


"Ya sudah, temani anak-anak sarapan. Aku siap-siap dulu," ucap kemudian ia pun berlalu menuju ke kamarnya mengganti pakaian dengan pakaian kantornya, sementara Jingga membantu Alif dan juga Nabila untuk sarapan.

__ADS_1


Pagi ini Jingga berharap Gantara bisa berbuat tegas agar Ambar tak lagi menemui Nabila.


__ADS_2