Batas Kesabaran Seorang Istri

Batas Kesabaran Seorang Istri
Doa Ibu


__ADS_3

Setelah mendapatkan uang satu miliar, Aditya bekerja lebih keras walau ia harus mengorbankan waktunya untuk bersama dengan Nabila, karena harus keluar kota untuk melancarkan bisnis yqng baru ia rintis, mencari rekan bisnis yang ingin bekerja sama dengannya.


Malam ini Aditya pulang larut malam, ia sengaja pulang karena Nabila menginap di rumah mereka saat ini.


Jingga akhirnya memutuskan untuk berbagi dengan Aditya, di mana sabtu dan minggu merupakan hari Nabila bersama dengan mereka.


"Ayah, Ayah sudah pulang?" tanya Nabila menghampiri ayahnya yang baru saja datang, ia memeluk ayahnya dengan sangat erat. Nabila yang tau ayahnya akan pulang sengaja menunggu dan menahan kantuknya.


"Nabila kangen Ayah," ucapnya membuat Aditya juga membalas pelukan erat sang anak.


"Ayah juga sangat kangen Mabila. O ya, ayah punya sesuatu untuk putri cantik ayah," ucap Aditya yang membawa 2 paper bag, satu diberikan kepada ibunya berisi makanan untuk mereka, makanan kesukaan Nabila dan satu lagi berisi mainan.


"Wah, Nabila suka," ucap Nabila melompat kegirangan mendapat mainan yang diinginkannya. Ia memang sudah lama meminta hal itu dibelikan oleh ayahnya. Namun, Aditya yang terlalu sibuk membuat ia selalu lupa dan hari ini ia sengaja menyempatkan diri untuk ke toko mainan, membeli mainan tersebut.


Aditya menemani putrinya itu bermain di ruang tengah, sementara Ambar masuk ke dapur dan memindahkan kue tersebut ke dalam piring. Ia duduk bersama dengan mereka, melihat anak dan cucunya itu bermain di lantai sedangkan ia sendiri duduk di sofa. Kebahagiaan menyeruak di hati Ambar, rasa syukur terus dipanjatkan atas kebahagiaan yang diberikan pada putranya, jika memang sudah waktunya ajal menjemput ia sudah ikhlas, ia sudah bisa melihat putranya bahagia bersama dengan cucunya, itu merupakan kebahagiaan terindah di kehidupannya. Ia tak ingin memiliki kehidupan yang mewah seperti yang selama ini ia inginkan, cukup melihat putranya bahagia itu sudah lebih dari cukup.


Setelah bermain, malam itu Aditya tidur bersama dengan Nabila. Tidurnya sangat pulas, ia sangat lelah kesana kemari mencari investor dan juga rekan bisnis yang mau bekerjasama dengannya, hal itu sangat sulit. Karena ia memiliki catatan yang pernah masuk ke dalam penjara dan dikenal merupakan kasus penggelapan uang, tak ada yang percaya padanya untuk bekerja sama. Namun, itu tak membuat ia putus asa.


Sudah dua bulan ini ia terus ke sana kemari. Namun, satupun tak ada yang mau bekerja sama dengannya, menawarkan kerjasama dari perusahaan satu ke perusahaan lainnya.

__ADS_1


Pagi hari setelah sarapan, Aditya mengantar Nabila ke sekolah dan siang nanti Nabila akan dijemput oleh supir dan langsung menuju ke kediaman Jingga.


Setelah mengantar Nabila ke sekolah, Aditya kembali ke rumahnya, begitu sampai di rumah ia duduk di sofa yang ada di ruang tamu. Ia mengusap wajahnya dengan kasar dan menghela nafas, ia sangat lelah dan putus asa, usahanya beberapa bulan ini seakan tak ada hasil.


Ambar bisa melihat kegelisahan di wajah putranya, ia pun menghampirinya.


"Ada apa, Nak?" tanya Ambar mengusap punggung Aditya yang masih merunduk dengan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Terlihat jelas wajah frustasinya.


"Aku hanya sedikit lelah dan membutuhkan istirahat saja, Bu," ucap Aditya memijat tengkuknya yang terasa pegal. Ambar melakukan hal yang sama, ia memijatkan putranya dan meminta putranya untuk duduk di bawah agar bisa memijatnya dengan baik.


Aditya hanya menuruti apa yang ibunya katakan, menikmati pijatan ibunya yang memang sedikit meringankan bebannya. Aditya tak menceritakan apa yang dialaminya, ia tak menceritakan uang satu miliar yang diberikan oleh Gantara sebagai modal usaha, karena hal itu hanya akan menambah beban pikiran ibunya dan Aditya tak ingin sampai hal itu terjadi. Jika mereka tak bisa mengembalikan uang tersebut pasti ibunya akan memikirkannya. Cukup, biar dia saja yang memikirkan semuanya.


"Apapun usahamu ibu yakin suatu saat nanti kamu akan berhasil, Nak. Yang jelas kamu harus melakukannya dengan ikhlas, tulus dan bekerja keras dan ingat ada Nabila yang membutuhkanmu. Walau ia sudah memiliki segalanya dari ayah tirinya dari keluarga Jingga. Namun, tetap saja kamu adalah Ayah kandungnya, kamu harus memberikan yang terbaik untuknya. Kamu pasti bisa memberikan yang terbaik untuk putrimu jadi jangan pernah menyerah ya, Nak," ucap Ambar memberikan semangat kepada putranya, membuat Aditya pun mengangguk, kata-kata ibunya itu membakar semangatnya yang tadi sempat putus asa dan ingin menyerah.


"Di setiap sujud ibu ada doa terselip agar kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan, karena doa ibu selalu untukmu dan juga Nabila, ibu berdoakan semoga secepatnya semua usaha kamu akan mendapatkan hasil," ucap Ambar.


Doa ibu merupakan doa yang paling mujarab, doa yang paling cepat ijabah oleh Allah, baru saja Ambar mengatakan hal tersebut sebuah deringan telepon terdengar. Sebuah panggilan masuk di ponsel Aditya.


Aditya yang melihat ada yang meneleponnya dengan sigap langsung mengangkatnya dan itu adalah salah satu investor yang pernah ditawarinya kerjasama dan masih memikirkan apakah dia ingin menerima atau tidak kerja sama tersebut.

__ADS_1


"Bu, aku angkat telepon dulu," ucap Aditya kemudian masuk ke dalam kamarnya.


"Halo, Pak," jawab Aditya mengangkat.


"Halo, Pak Aditya. Aku sudah memikirkan secara matang tentang tawaran yang Bapak berikan dan aku setuju jika Bapak juga setuju, kita lakukan tanda tangan secepat, mungkin dalam dua hari ini aku harus ke luar negeri, jadi sebisa mungkin kita lakukan secepatnya," ucap orang tersebut membuatnya merasa sangat senang.


"Baik, Pak. Tentu saja, aku akan ke kantor Bapak sekarang juga untuk melakukan tanda tangan," ucap Aditya bersemangat.


"Baik, Pak. Kami tunggu!"


Aditnya kembali menjelaskan rencana kerja mereka, kemudian setelah membahas beberapa yang mengenai kontrak kerjasama mereka nantinya, akhirnya Aditya pun mematikan panggilannya. Ia dengan cepat membuat surat kontrak yang sesuai dengan yang diinginkan oleh investor tersebut. Walaupun dalam hal ini mereka mendapat keuntungan seimbang yang seharusnya dalam bisnis dan Aditya harusnya mendapatkan lebih banyak. Namun, saat ini Aditya tidak memikirkan itu, mendapatkan investor saja sudah membuatnya merasa sangat bersyukur dengan latar belakang yang dimilikinya sebagai seorang mantan narapidana.


Sekarang bukan hanya keuntungan yang dia carinya dulu, tapi ingin membangun kepercayaan untuk investor lain.


Setelah menutup panggilannya dan menyelesaikan semua berkas tersebut, Aditya langsung kembali menghampiri ibunya yang sedang sibuk di dapur.


"Ibu, terima kasih atas doanya, aku akan pergi ke kantor untuk melakukan tanda tangan. Doakan ya, Bu. Semoga hari ini berjalan dengan lancar," ucap Aditya kembali meminta doa ibunya, membuat ibunya pun mengangguk dan mendoakan semoga tandatangannya juga hari ini lancar.


Aditya berjalan keluar menuju ke pintu utama, sebelum keluar ia melihat ibunya yang terlihat membersihkan seluruh ruangan dan memasak untuknya. Dia masih mengingat dengan jelas keluhan ibunya yang merasa lelah mengerjakan semua itu. Namun, ia tak bisa berbuat apa-apa.

__ADS_1


"Terima kasih, Bu. Atas segalanya. Terima kasih akan doanya, doakan aku semoga bisa berhasil dan bisa membuat ibu bahagia dan beristirahat dari semua pekerjaan rumah ini dan bisa menikmati hari tua ibu," gumam Aditya berlalu meninggalkan apartemennya menuju ke kantor investor yang baru saja menghubunginya itu.


Sesampainya di sana, dengan lancar mereka melakukan tanda tangan dan menjabat tangan investor tersebut, menandakan jika kerjasama mereka akan dimulai.


__ADS_2