Batas Kesabaran Seorang Istri

Batas Kesabaran Seorang Istri
Maling Jemuran


__ADS_3

"Bagaimana, apa kamu baik-baik saja?" tanya Gantara begitu melihat Aditya keluar dari ruang gantinya yang sudah mengganti jasnya menggunakan jas miliknya.


"Apa itu karyawan baru?" tanya Aditnya mengabaikan pertanyaan Gantara uang terdengar mengejek.


"Sepertinya dia memang karyawan baru, aku juga baru melihatnya bekerja. Apa kau ingin bertemu dengannya? Meminta pertanggung kawabannya pada milikmu?" tanya Gantara yang kini menghentikan pekerjaannya.


Aditya menghela nafas, jika mungkin dia adalah Aditya yang dulu mungkin saja dia akan marah dan meminta Gantara memecatnya, mengingat sampai saat ini miliknya saja masih merasa perih karena apa yang dilakukan oleh wanita tadi. Namun, ia kembali mengingat bagaimana wanita itu memohon agar tak memecatnya dan mengatakan jika dia sangat membutuhkan pekerjaan itu. Ia tahu bagaimana sulitnya mencari pekerjaan, membuat Aditya pun hanya menggeleng.


"Lupakan saja, aku akan mengembalikan jasmu saat kita bertemu lagi," ucap Aditya kemudian ia pun pamit keluar dari ruangan itu, membuat Gantara hanya mengangguk dan masih menahan tawanya, ia kembali fokus pada laptopnya karena memang urusan mereka sudah selesai.


Aditya keluar dengan membawa sebuah paper bag yang berisi pakaian yang kotor akibat tumpahan kopi panas tadi.


Saat Aditya keluar dari ruangan Gantara dan menuju ke sebuah lift, ia menekan tombol yang akan membawanya ke lantai dasar.


Aditya langsung berjalan keluar menuju ke mobil miliknya yang berada di parkiran, tiba-tiba seorang wanita menghampirinya, wanita itu adalah Fika.

__ADS_1


"Pak, maafkan saya. Saya benar-benar tak sengaja, saya tahu Bapak pasti kesakitan, tapi saya benar-benar tidak sengaja, Pak. Mohon maafkan saya," ucap Fika membuat Aditya yang tadinya ingin masuk ke mobilnya hanya menghela nafas dan kembali menutup pintu mobilnya.


"Iya, aku maafkan. Ya sudah, kembali bekerja. Aku tau jaka kamu juga nggak sengaja kan. Lain kali jika bekerja lebih berhati-hati lagi," ucap Aditya membuat Fika pun mengangguk dan menunduk.


Aditya melihat paper bag yang ada di tangannya, kemudian ia melemparkannya kepada Fika. Fika dengan sikap menangkap paper bag tersebut dan melihat ke arah Aditya.


"Itu setelan jas milikku yang kotor karena ulahmu, bersihkan! Aku tak ingin ada noda sedikitpun pada setelan kemeja itu, jika ada saat kau mengembalikannya nanti, akan kupastikan kau tak akan bekerja di perusahaan ini," ucap Aditya kemudian masuk ke dalam mobilnya meninggalkan Fika yang terus saja menunduk meminta maaf.


Aditnya melihat Fika dari kaca spionnya. Sebuah senyum terbit di bibir, Aditya melihat wajah ketakutan dari Fika, ia sama sekali tak berniat untuk menakutinya. Ia hanya ingin agar ketika kedepannya nanti, gadis itu lebih berhati-hati dalam bekerja dan ada tanggung jawab yang harus dipegangnya.


Saat ini ayah Fika berada di rumah sakit dan dia yang dulunya merupakan gadis manja kini harus bekerja mengumpulkan uang untuk biaya rumah sakit ayahnya dan juga biaya kehidupan sehari-hari ia dan adiknya. Mereka harus meninggalkan rumah besar mereka dan harus hidup di sebuah kontrakan kecil dengan sisa uang yang mereka miliki.


"Baiklah, aku akan membersihkannya," ucap Fika melihat setelan jas Aditya yang ada tangannya, ia bergegas menuju ruangan yang berada di lantai 3 gedung tersebut di mana di sanalah ruangan para cleaning service bekerja. Fika mulai mencoba mencuci pakaian tersebut, ia sangat bersyukur tumpahan kopi itu bisa dengan mudah dibersihkannya.


"Syukurlah tak ada noda yang tersisa," gumam Fika kemudian mulai membilas pakaian yang sudah diberi sabun itu. Hari itu juga Fika menjemurnya di kantor di bagian laundry. Fika yang tak ingin kembali membuat kesalahan dengan merusak setelan jas itu, ia menunggu jas Aditya saat sedang mengeringkannya, tiba-tiba ia mendapat panggilan dan harus membawa kopi ke salah satu ruangan, membuat ia mau tak mau harus meninggalkan setelan jas yang dijemurnya itu.

__ADS_1


Fika bergegas menuju ke ruangan yang diminta oleh atasannya, membawa kopi dan kali ini ia melakukannya dengan hati-hati. Ia tak ingin kembali melakukan kesalahan yang sama seperti apa yang ia lakukan di ruangan bosnya.


Setelah memberikan kopi tersebut ia menuju ke ruangan dimana ia menjemur setelah jas Aditya, ia sedikit berlaru dan betapa kagetnya begitu ia sampai. Setelan jas itu sudah tak ada di sana.


"Ke mana setelan jas itu?" gumam Fika mencari ke segala ruangan di lantai 3. Namun, ia sama sekali tak melihat setelan jas tersebut. Ia juga menanyakan ke beberapa temannya yang ia jumpai. Namun, tak ada yang melihatnya, membuat Fika semakin panik.


"Di mana setelan jas itu, jika di setelan jas itu hilang aku pasti diminta untuk menggantinya dan sudah pasti aku akan dipecat," panik Fika.


"Fika, ada apa?" ucap seseorang saat melihat Fika yang terlihat panik.


"Tadi aku mencuci setelan jas di sana dan menjemurnya, aku hanya meninggalkannya sebentar dan setelan jas itu hilang. Apa Ibu melihatnya?" tanya Fika pada seniornya.


"Oh iya, tadi ada yang mengambilnya, tapi aku tak melihat siapa dia. Aku pikir jas itu adalah miliknya."


"Ya ampun, bagaimana ini," ucap Fika kemudian melihat sekitarnya, siapa tahu saja ada CCTV yang merekam siapa yang mengambil jas itu. Namun, setelah melihat di area tempat ia menjemur ternyata tak ada CCTV di sana membuat Fika hanya duduk di lantai meratapi nasibnya.

__ADS_1


Bagaimana ini, apa yang harus dilakukannya sekarang. Apakah dia harus mengganti setelan jas tersebut. Namun, berapa harganya ia tak tahu yang ia tahu harga setelan jas cukup mahal karena ayahnya juga dulu sering menggunakan setelan jas yang cukup mahal, dari mana ia mendapatkan uang untuk menggantinya.


__ADS_2