
Pagi hari seperti biasa, setiap sampai ke sekolah Ambar selalu menunggu Nabila dan melambaikan tangan padanya. Namun, kali ini Nabila melihat ke arah tempat di mana biasa Ambar berdiri. Neneknya itu tak ada di sana membuat Nabila terus melihat ke arah yang sama, celingak-celinguk mencari keberadaan sang nenek dan itu bisa dilihat oleh Gantara.
"Ada apa, Nak?" tanya Gantara menghampiri Nabila yang tadinya berjalan lebih dulu dan kini menghentikan langkahnya saat melihat ada Ambar di sana.
"Ayah, biasanya nenek selalu menyambut Nabila di sana, tapi nenek ke mana ya? Apa nenek marah karena semalam Nabila tak menemui nenek?"
"Enggak kok, mungkin saja dia sedang banyak pekerjaan. Dia kan di sekolah ini bekerja, Nak," jelas Gantara membuat Nabila pun mengangguk dan menyusul ayahnya, mereka berjalan bersama-sama, Gantara mengantar Nabila terlebih dahulu ke kelasnya. Tak lupa ia menitipkan kepada guru pembimbing mengatakan jika Nabila jangan sampai lepas dari pengawasannya, mau ke mana pun dia tak boleh meninggalkan Nabila sendiri, tegas Gantara membuat guru pembimbing tersebut pun mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan oleh Gantara. Ia pun berbalik setelah mengantar putrinya. Namun, ia kembali menghentikan langkahnya dan kembali menghampiri guru pembimbing yang tadinya akan masuk kembali ke kelas, sementara Nabila sudah masuk ke kelasnya dan duduk bergabung dengan teman-temannya.
"Tolong awasi Nabila, jangan sampai dia bertemu kembali dengan wanita paru baya yang bekerja di bagian catering itu. Aku sangat menantang keras jika mereka bertemu bersama dan ingat sekali lagi awasi Nabila secara penuh, aku akan menyewa satu pengawas yang akan mengawasi Nabila. Mungkin akan dimulai besok, bukannya aku tak percaya pada kalian, tapi aku hanya ingin menjaga keamanan Nabila," ucap Gantara.
Mendengar itu membuat guru tersebut pun kembali mengangguk.
__ADS_1
"Tenang saja, Pak. Itu sudah tugas kami untuk mengawasi anak-anak."
"Iya, itu tugasmu untuk mengawasi anak-anak, tapi mengapa selama beberapa hari terakhir ini kau tak mengawasi anakku dengan baik, bahkan ia sampai bertemu dengan orang yang tak seharusnya bertemu dengannya, bukankah itu sudah merupakan keteledoran."
Mendengar itu guru pembimbing tersebut pun hanya terdiam dan menunduk.
"Aku peringatkan sekali lagi, awasi Nabila seketat mungkin. Jangan sampai dia bertemu dengan siapapun yang tak berkepentingan!" tegasnya membuat guru tersebut kembali menunduk semakin dalam. Gantara kemudian menuju ke ruang kepala sekolah.
"Ayo, biar ibu temani," ucapnya membuat Nabila pun mengangguk dan berjalan bersama guru pembimbing tersebut, sama seperti trik waktu itu Ambar juga saat ini sudah menunggu di dalam kamar mandi di salah satu bilik yang ada di sana.
"Ibu guru, Ibu guru tak usah menemaniku. Aku bisa pergi sendiri," ucap Nabila. Namun, guru pembimbing tersebut menggeleng.
__ADS_1
"Ayo, Ibu temani sampai ke dalam," ucapnya kembali mengingat peringatan tegas dari Gantara membuat guru pembimbing tersebut pun masuk ke dalam kamar mandi, bahkan masuk ke dalam bilik di mana Nabila buang air kecil. Ambar yang berada di bilik lainnya mendengar kedatangan guru pembimbing tersebut bersama dengan Nabila, tentu saja ia tak berani keluar.
Begitupun Nabila, ia tak berani untuk mengatakan jika ia ingin bertemu dengan Ambar. Nabila melihat di segala sisi ruangan tersebut, termasuk ia ingin mencoba membuka bilik yang berada di samping bilik tempat ia tadi buang air kecil. Namun, ia langsung ditahan oleh guru pembimbingnya.
"Nabila, di dalam ada orang. Nggak boleh mendorongnya, ayo cepat cuci tangan dan kita kembali ke kelas, teman-teman Nabila yang lain sudah mulai belajar," ucap guru pembimbing tersebut membuat Nabila mau tak mau pun mencuci tangannya, mengeringkan kemudian menggenggam tangan ibu guru dan berjalan menuju ke kelas mereka.
Sesekali Nabila menoleh ke belakang, ia bisa melihat neneknya ada di sana dan melambaikan tangan padanya. Nabila hanya ikut melambaikan tangan dan tak bisa berbuat apa-apa untuk menemui sang nenek.
Nabila tak konsentrasi saat mengikuti pelajarannya, bayangannya terus berada pada neneknya. Sementara itu di ruang kepala sekolah, Gantara sudah menunggu keberadaan dari Ambar atau Sari yang dikenal di sekolah itu. Namun, sudah beberapa kali Sari dipanggil. Namun, tetap saja sari belum juga datang.
Tak lama kemudian Sari pun datang atau yang Gantara kenal adalah Ambar.
__ADS_1