
"Kamu ingin kakakku menikah dengan ayahmu?"
"Iya, jika ayahku dan kakakmu menikah kita juga bisa berteman, kita bisa berteman dan sekolah di sekolah yang sama."
Mendengar itu Zahra terdiam, walaupun selama ini ia hanya diam, tapi dalam hati ia merasa sangat syok. Ia yang dulu memiliki segalanya kini harus terbiasa hidup serba kekurangan dan harus melihat ayahnya di rumah sakit terbaring dengan kondisi yang setiap harinya membuat ia takut, jika ayahnya akan meninggalkan ia kapan saja. Zahra juga harus pindah dari sekolah elit ke sekolah biasa, yang jauh dari kata mewah.
Zahra melihat ke arah ayah Nabila, ia bisa melihat jika dia adalah orang baik, terbukti mereka mengajak mereka berlibur bersama dan membayar semua biayanya.
Zahra menarik garis senyumnya dan mengangguk menatap Nabila.
"Kita kerja sama ya. Kita buat kakakmu mau menjadi istri ayahku. Ok?"
__ADS_1
"Baik, aku setuju. Ok."
Sementara itu, sepulang dari Bandara, Gantara dan Jingga menjenguk Hermawan. Gantara bisa melihat kondisi rekan bisnisnya itu cukup memprihatinkan.
"Pak, aku ingin membantu pengobatan Bapak, aku akan mengirim Bapak ke ahli jantung terbaik di negara ini, aku harap Bapak tak menolak," ucap Gantara di mana Hermawan hanya dirawat di sebuah rumah sakit kecil, dokter sudah memintanya untuk merujuknya ke rumah sakit besar. Namun, karena tak punya biaya Hermawan menolak dan melarang dokter tersebut untuk mengatakan hal itu kepada putrinya, ia sudah pasrah jika memang ajal menjemputnya, ia tak ingin kepergiannya justru membawa beban untuk kedua putrinya. Sudah cukup mereka kesulitan untuk menanggung biaya hidup mereka sehari-hari, ia tak ingin jika Fika semakin terbebani dengan kondisinya yang belum tentu bisa pulih kembali.
"Tapi, kami tak punya biaya," ucap Hermawan hanya menjawab Gantara dengan sangat lemah.
Mendengar itu, Hermawan pun mengangguk setuju, ia juga ingin sembuh dan bersama dengan kedua anaknya, membahagiakan mereka dan tak hanya menjadi beban mereka. Hermawan tau jika anak-anaknya saat ini tengah keluar negeri, mereka sebelum pergi sudah meminta izin. Ia sangat bahagia bisa melihat mereka bisa berlibur.
Hari itu juga Gantara langsung memindahkan ayah dari Fika dan Zahra menuju ke rumah sakit yang lebih besar dan mendapat penanganan terbaik disana, ia juga di tangani langsung oleh dokter ahli jantung.
__ADS_1
Saat Hermawan tengah mendapat perawatan dari dokter, Fika kini baru saja mendarat di negara yang mereka tuju. Mereka yang merasa lelah memutuskan untuk langsung mencari hotel. Mereka memesan tiga kamar hotel.
Aditya sendiri, Nabila bersama dengan neneknya dan Fika bersama dengan Zahra.
Malam ini mereka semua memilih untuk beristirahat di kamar mereka masing-masing, bahkan makan malam mereka meminta untuk di antara ke kamar. Semua memilih untuk beristirahat dan melanjutkan menikmati negara itu besok pagi.
"Nenek, aku dan Zahra akan mengatur beberapa rencana agar ayah dan tante Fika bersama di negeri ini, tapi kami perlu bantuan Nenek."
"Tentu saja, apa yang harus nenek lakukan?" tanya Ambar bersemangat.
Nabila pun mulai menceritakan apa saja hasil diskusinya antara ia dan Zahra, misi utamanya adalah membuat mereka dekat.
__ADS_1
Mendengar semua misi itu membuat Ambar ikut bersemangat dan akan menciba membantu.