
2 minggu kini sudah berlalu, Fika masih belum menemukan setelan jas yang dicarinya. Sepertinya orang itu benar-benar mengambil setelan jas miliknya, dia sudah menanyakan kepada semua karyawan yang di temuinya. Namun, tak ada yang mengetahuinya, bahkan ia mendapat marah dari mereka karena merasa Fila menuduh mereka, membuat Fika pun pasrah jika memang dia harus dipecat. Ia juga tak mampu membeli jas tersebut, ia sudah menanyakan di sebuah toko jas yang mirip dengan yang telah dihilangkannya itu dan harganya bahkan bisa menghabiskan setengah uang mereka, uang yang selama ini disimpan dan digunakan sehemat mungkin oleh Fika untuk biaya rumah sakit ayahnya dan juga biaya hidupnya.
Fika tak ingin sampai hal itu menjadi tanggungan keluarga, itu adalah kecerobohannya, ia akan menerima konsekuensi dari kecerobohannya, dia tak akan membuat kesalahannya juga ditanggung oleh adik dan ayahnya, ia tak akan menggunakan uang yang seharusnya mereka gunakan bersama.
"Bagaimana aku menghubungi orang itu, ya? Aku tak pernah melihatnya datang ke kantor lagi, apa orang itu bekerja di tempat lain?" gumam Fika yang tadinya ia berpikir jika Aditya bekerja di perusahaan itu sehingga mereka bisa bertemu kapan saja dan meminta maaf, tapi sudah dua minggu ini dia menunggunya. Namun, tetap saja tak pernah bertemu lagi dengan Aditya, ia tidak punya cara lain selain menemui bosnya, Gantara. Menanyakan alamat Si pemilik Jas.
Kebetulan hari ini Fika diminta untuk mengantar secangkir kopi di ruangan Gantara. Fika pun sudah mengatur kata-kata yang akan diucapkannya untuk meminta alamat Aditya, tujuannya hanya ingin meminta maaf atas jas tersebut.
Suara ketukan terdengar di balik pintu ruangan Gantara, Terdengar dari luar Gantara mengucapkan kata masuk, membuat Fika langsung merasa gugup. Ini kedua kalinya ia masuk ke ruangan itu, di mana yang pertama dia melakukan kesalahan menumpahlan kopi kali ini ia tak boleh ceroboh.
Fika pun menarik-narik nafas dan menghembuskannya dengan perlahan, dengan perlahan ia membuka pintu dan mengangguk sopan saat mata Gantara tertuju ke arahnya.
Gantara mengerutkan keningnya saat mengenali sosok Fika, ia pun memperhatikan Fika yang berjalan masuk sambil membawa secangkir kopi di nampannya.
"Ini, Pak. Kopinya," ucap Fika begitu berhasil meletakkan secangkir kopi di depan Gantara.
"Makasih," ucap Gantara yang kembali fokus pada layar laptopnya, dia sudah mengingat jika Fika adalah sosok yang pernah membuat Aditya meringis kesakitan karena miliknya hampir saja matang.
"Ada apa?" tanya Gantara saat melihat Fika bukannya pergi setelah meletakkan lopinya malah masih berdiri di tempatnya.
__ADS_1
"Maaf, Pak. Bisa aku minta alamat orang yang pernah aku...." Fika bingung harus mengatakan apa untuk menanyakan tentang Aditya, ia tak tahu siapa nama pria yang pernah disiram kopi itu.
"Alamat siapa?" tanya Gantara yang kini menghentikan aktivitasnya menatap pada layar laptopnya.
"Itu, Pak. Teman Bapak yang pernah aku siram kopi," lirih Fika takut.
"Oh Aditya, mengapa kamu minta alamat Aditya? Apa dia marah padamu?"
"Tidak, Pak. Hari itu dia memberikanku jasnya untuk aku bersihkan," jawab Fika cepat.
"Oh ... Hari ini aku ingin bertemu dengan Aditya, berikan sini jasnya, biar aku yang memberikan padanya."
"Maaf, Pak. Saya tak bermaksud membuat Bapak terkejut," jawab Fika sambil mengelap meja bosnya yang kini kotor karena semburan bosnya.
"Hilang? Maksudmu jas Aditya hilang? Kok bisa hilang?" tanya Gantara.
"Iya, Pak. Hari itu aku mencucinya di kantor dan saat aku tinggal sebentar untuk membawa kopi ke ruangan di lantai 2 dan saat aku kembali jasnya sudah tak ada. Aku sudah mencarinya kemana-mana, tapi tak ketemu, aku juga sudah menanyakan ke beberapa karyawan. Namun, tak ada yang melihat jas tersebut. Aku ingin minta maaf karena telah menghilangkan jasnya."
Mendengar itu Gantara menghela nafas, kesalahan dengan menyiram kopi pada Aditya merupakan kesalahan yang fatal, bukan masalah menyiram kopinya, tapi apa yang tersiram oleh kopi itu yang jadi masalah dan sekarang bukannya memperbaiki kesalahan, karyawan barunya itu malah menambah kesalahan baru.
__ADS_1
"Kamu itu kenapa teledor sekali, kenapa kamu mencuci jas itu di kantor dan tak menjaganya dengan baik. Kamu tahu kan di kantor ini banyak karyawan ataupun orang-orang yang berlalu lalang, kemungkinan jas itu bisa hilang mungkin saja terjadi, mengingat jas itu memang juga cukup mahal. Aditya merupakan pengusaha yang sukses pasti jas miliknya harganya sangat mahal," kesal Gantara membuat Gantara sengaja menyebut kata mahal dan itu membuat Fika semakin tertunduk karena sudah pasti dia tak bisa menggantinya.
"Maaf, Pak," ucap Fika, hanya itu yang bisa dia ucapkan saat ini.
"Kamu kan bisa membawanya ke laundry, memangnya kamu bisa mencuci jas mahal itu. Lihatkan karena keteledoranmu, bukannya jas itu bersih malah jas itu hilang. Aku tak yakin jika Aditya bisa memaafkanmu, dia bukanlah orang yang pemaaf," ucap Gantara semakin membuat Fika terlihat ketakutan.
"Aku akan minta maaf, Pak. Tolong berikan alamatnya, apapun akan aku lakukan agar bisa mendapat maaf darinya."
Mendengar itu Gantara berpikir sambil menatap Fika yang memiliki wajah yang terlihat bersih dan putih. Fika terlihat sangat cantik, semenjak kejadian Aditya tersiram kopi beberapa waktu lalu sebenarnya Gantara ingin memecatnya karena dianggap teledor dalam bekerja dan ia tak ingin hal itu terulang kembali dan ia tak butuh karyawan yang tak bisa mengerjakan pekerjaannya sendiri, membawa kopi saja ia tak bisa melakukannya dengan baik. Namun, saat melihat siapa nama orang tua yang tertera dalam informasi identitas Fika, ia seperti mengenal nama itu Hermawan, setelah menyelidikinya benar saja jika Fika adalah anak dari Hermawan Hartawan, salah satun rekam bisnisnya yang bangkrut beberapa waktu yang lalu dan ia juga tahu jika saat ini ayah Fika berada di rumah sakit dan sangat membutuhkan biaya.
"Baiklah, jam 01.00 nanti aku akan menemui Aditya. Jika kamu ingin ikut menemuinya kamu boleh ikut denganku," ucap Gantara membuat Fika pun mengangguk. Fika senang dan juga takut, ia bingung apa yang harus ia lalukan saat bertemu si pemilik jas, apa yang harus dikatakannya saat bertemu dengan Aditya nanti agar tam mendapatkan amarahnya..
"Terima kasih, Pak. Ya sudah saya permisi dulu," ucap Fika membuat Gantara pun mempersilahkan Fika keluar dari ruangannya, ia terus memperhatikan Fika yNg berjalan keluar..
"Sepertinya Fika cocok dijodohkan dengan Aditya, aku dengar anak itu anak yang baik, dia bekerja keras untuk adik dan ayahnya. Dia bisa menjadi ibu dari Nabila," ucap Gantara di mana Nabila selalu meminta ayahnya untuk mencarikan ibu baru untuknya, mencarikan istri untuk ayah Aditya. Ia kasihan lihat ayahnya itu tidur sendiri dan melakukan semuanya sendiri, ia juga kasihan melihat neneknya yang sering ditinggal oleh ayahnya di rumah seorang diri, sementara ia hanya bisa menemani neneknya di hari sabtu dan minggu saja. Jika ada seorang sosok istri yang bersama dengan ayahnya, ia pasti bisa mengurus ayah dan juga neneknya sama seperti ibu yang mengurus ayahnya.
Gantara mengambil berkas lamaran kerja Fika, ada memfotonya di sana. Gantara pun mengambil foto tersebut dan mengirimnya kepada Jingga, bukan hanya foto saja, tapi juga biodatanya Fika dan menyatakan pendapat Jingga untuk menjodohkan mereka.
"Bagaimana? Setuju tidak?" tulis Gantara dalam pesannya saat melihat pesan tersebut sudah dibaca oleh Jingga.
__ADS_1