Batas Kesabaran Seorang Istri

Batas Kesabaran Seorang Istri
Kebenaran


__ADS_3

Pukul 04.00 sore Gantara sudah pulang dari kantor, ia menghampiri Jingga yang sedang ada di ruang tamu bersama dengan Alif.


"Bagaimana dengan Nabila? Apakah dia masih uring-uringan?" tanyanya membuat Jingga pun mengangguk.


"Iya, Mas. Tadi saja dia makan siangnya di kamar, nggak mau keluar dari kamar. Aku jadi khawatir ada apa dengannya, tak biasanya Nabila bersikap seperti itu, aku jadi takut, Mas. Emangnya siapa wanita yang menemuinya di sekolah?"


"Aku juga nggak tahu, pagi tadi aku coba untuk menemuinnya, tapi orang itu tak ada di tempatnya, aku sudah meminta pihak sekolah untuk mengatur pertemuanku besok saat mengantar Nabila. Jika melihat tingkah Nabila, sepertinya orang itu bukanlah orang yang baik, aku akan memperingatkannya untuk tak menemui Nabila lagi, aku akan bertindak tegas padanya, walau tujuannya baik, tapi dengan perubahan sikap Nabila itu saja itu tak baik untuk perkembangan Nabila."


"Jadi sekarang bagaimana, Mas? Nabila tak mau keluar kamar, ia bahkan terus menangis, saat aku bertanya ada apa dengannya, dia tak menjawab."


"Ya sudah, aku mandi dulu setelahnya aku akan menemuinya dan berbicara padanya, semoga saja Nabila mau jujur pada Mas," ucap Gantara kemudian ia pun naik ke kamarnya, disusul oleh Jingga dengan perut buncitnya, sementara Alif masih di jaga oleh bibi.


Disaat Gantara mandi, Jingga juga menyiapkan pakaian untuk suaminya. Setelah menyiapkan pakaian Gantara, ia duduk di sana, di sisi tempat tidur. Jingga melamun, ia mengingat bagaimana seharian ini putrinya, mengapa putrinya begitu berubah hanya dalam beberapa waktu saja. Dulu Nabila sangat ceria, tak seperti saat ini. Jika saja kami menyadarinya sejak awal dan tak membiarkan mereka bertemu sejak awal, sepertinya sekarang Nabila sudah banyak berubah.


Gantara yang sudah selesai mandi menghampiri Jingga, Jingga membantu suaminya itu berpakaian.

__ADS_1


"Ya sudah, kamu istirahat saja. Alif biar bibi yang jaga dan Nabila serahkan padaku, kamu jangan banyak pikiran, ingat bayi itu juga membutuhkanmu, sebentar lagi dia akan lahir. Aku tak mau sampai terjadi sesuatu padanya hanya karena kamu banyak pikiran," ucap Gantara membuat Jingga pun mengangguk dan naik ke atas tempat tidur, ia memang sangat lelah. Seharian ini ia tak pernah beristirahat, bukan fisiknya yang lelah, tapi pikirannya yang terus tertuju pada perubahan sikap Nabila.


Begitu Gantara menghampiri kamar putrinya, Nabila sedang duduk bersandar di sandaran tempat tidur, ia menatap ke arah ayahnya dengan mata bengkaknya.


"Ada apa, Sayang? Kenapa Nabila bersikap seperti ini, ibu khawatir pada Nabila," ucap Gantara mengecup kepala putrinya.


"Apa hanya ibu yang khawatir, Ayah tidak?" tanyanya membuat Gantara terkejut dengan ucapan putrinya.


"Kenapa Nabila berkata seperti itu? Tentu saya, ayah juga khawatir, Nabila putri kesayangan ayah."


"Nabila dan Alif sama-sama anak ayah, ayah menyayangi kalian berdua juga Adik kalian yang ada di dalam perut ibu, ayah tak membeda-bedakan kalian. Bagi ayah kalian sama sama-sama anak yang spesial buat ayah."


"Ayah bohong, Ayah lebih menyayangi Alif karena dia anak Ayah, sedangkan Nabila bukan anak Ayah kan?"


Deg ... jantung Gantara serasa tersambar petir mendengar ucapan putri yang sangat disayanginya itu, dari mana Nabila tahu akan hal itu, selama ini mereka memutuskan untuk merahasiakannya, tak ada yang mengetahui akan hal itu dan tak ada yang berani mengungkitnya lagi. Lalu bagaimana Nabila bisa tahu.

__ADS_1


"Nabila, Nabila tahu dari mana, Nak. Mengapa Nabila mengatakan hal itu, Nabila anak ayah."


"Ayah bohong kan, Nabila ingin Ayah jujur kepada Nabila. Ayah ini Ayah kandungnya Nabila atau bukan, Ayah?"


"Walaupun ayah ini bukan ayah kandung Nabila. Namun, ayah sangat menyayangi Nabila sama seperti ayah menyayangi Alif, menyayangi bayi yang ada di perut ibu dan juga menyayangi ibu. Kalian semua adalah harta yang paling berharga untuk ayah, jadi Nabila jangan berkata seperti itu ya, itu menyakiti ayahnya."


"Ayah, Nabila juga sangat menyayangi Ayah, Nabila ingin Ayah yang menjadi ayahnya Nabila, Nabila tidak mau Ayah lain."


"Tentu saja, sampai kapanpun Nabila adalah anak ayah, sekarang Nabila katakan dari mana Nabila tahu jika ayah ini bukan ayah kandungnya Nabila?"


"Dari nenek."


"Nenek?"


"Iya, nenek mengatakan jika nenek adalah nenek kandung Nabila dan ayah bukanlah ayah kandung Nabila, tapi nama ayah kandung Nabila adalah Aditya," ucapnya membuat Gantara kini yakin jika yang ditemui Nabila adalah ibu dari Aditya, Ambar.

__ADS_1


Gantara tak tahu harus bersikap apa, ia harus berpikir atas apa yang harus dilakukannya melihat dari tingkah Nabila, sepertinya dia sudah sangat dekat dengan neneknya. Ia harus melakukan sesuatu agar Nabila menjauh darinya dengan sendirinya, bukan karena paksaan itu akan berdampak buruk padanya, apalagi sekarang dia sudah tahu jika Ambar adalah nenek kandungnya.


__ADS_2