Batas Kesabaran Seorang Istri

Batas Kesabaran Seorang Istri
Ganti Rugi


__ADS_3

"Kamu bilang apa?"


"Maaf, Pak. Jas Bapak yang aku bersihkan hilang," lirih Fika.


Aditya hanya bisa menghela nafas mendengar apa yang baru saja dikatakan gadis berhijab yang ada di depannya itu. Fix, dia gadis yang ceroboh.


"Lalu?" tanya Aditya lagi.


"Ha?" tanya balik Fika.


"Ha, katamu. Apa yang akan kamu lakukan dengan jas ku?"


Mendengar itu Fika terdiam, dia tak tau harus berbuat apa. Jika ia punya uang tentu saja ia akan mengatakan jika dia akan menggantinya, tapi ia sedang dalam kondisi tak punya uang.


"Hmmm itu Pak, bisakah Bapak memaafkan ku?"


Aditya hanya terdiam dan menggeleng, tiba-tiba ponselnya berdering dan itu pesan dari nomor Gantara.


"Baca email yang aku kirim," tulis Gantara pada pesannya membuat Aditya langsung membuka emailnya dan melihat beberapa file yang dikirim oleh Gantara, yang berisi informasi tentang Fika. Tanpa sadar Aditya membaca dengan teliti semua yang dikirim oleh Gantara dan yang membuat ia langsung melihat ke arah Fika fakta jika Fika adalah anak pak Hermawan. Aditya pernah bekerja sama dengan orang tua Fika saat ia masih bekerja di kantor Gantara dulu.


Banyak fakta baru yang ia ketahui tentang Fika dan itu membuat Aditya lebih tertarik lagi.

__ADS_1


"Aku dan Jingga setuju jika Fika menjadi ibu tiri dari Nabila. Dia gadis yang cocok untukmu."


"Benarkah?"


"Iya, kami akan membantu kamu mendekatinya jika kamu tertarik dengannya, semua sesuai dengan yang kamu inginkan."


"Akan aku pikirkan," jawab Gantara mengakhiri pesan mereka.


Aditya menyimpan ponselnya pada saku jasnya dan melihat Fika yang terlihat masih takut karena masalah jas itu.


"Baiklah, aku akan memaafkan kamu dengan satu syarat."


"Aku akan menganggap masalah kopi itu tak pernah ada, tapi kamu harus menemaniku selama seminggu."


"Apa? Nggak mau!" tolak Fika.


"Jika tidak, kamu harus menggantinya dan harga semua itu 200 juta. Itu pun kamu harus memesannya terlebih dahulu."


"Apa tak bisa kurang?" tawar Fika. Ia tahu jika semuanya memang barang mahal, bukan hanya jasnya saja yang mahal, dasi dan kemejanya juga mahal jika semua di total memang mungkin akan mencapai 200 juta.


"Tentu saja bisa!"

__ADS_1


"Benarkah? Aku harus membayar berapapun?" tanya Fika berbinar senang, berharap ia bisa mendapatkan potongan harga.


"Kamu tak usah membayar sepeserpun, tapi kamu harus menemaniku selama seminggu hanya itu. Kamu jangan salah paham padaku, aku tak akan meminta yang macam-macam padamu. Aku akan pergi keluar negeri bersama ibu dan anakku untuk liburan selama seminggu, aku ingin kamu ikut bersama kami dan menemani Nabila. Aku dengar kamu memiliki adik yang tak beda jauh usianya dengan Nabila. Kamu juga bisa mengajaknya. Bagaimana?"


"Maksud Anda aku akan berlibur bersama keluarga Anda dan bisa mengajak adikku?"


"Iya. Tentu saja, kamu tak mungkin kan meninggalkan adikmu dan setauku ini adalah liburan sekolah dan bertepatan dengan ulang tahun Nabila. Aku hanya ingin membuat Nabila bahagia begitupun dengan ibu ku. Aku takut tak bisa membagi waktu untuk mereka berdua saat disana jika hanya aku yang bersama mereka."


Fika pun mengangguk setuju. "Tapi, Pak. Bagaimana dengan pekerjaan ku?"


"Masalah itu urusanku pada atasan mu. Jadi bagaimana? Apa kamu akan ikut?"


"Tentu, Pak."


"Baiklah, kita pergi 3 hari lagi."


"Baik, Pak."


"Berikan nomor ponsel mu agar aku bisa menghubungi mu dengan mudah."


Mereka pun saling bertukar nomor ponsel dan akan pergi berlibur bersama tiga hari lagi.

__ADS_1


__ADS_2