Batas Kesabaran Seorang Istri

Batas Kesabaran Seorang Istri
Calon Bunda


__ADS_3

"Bunda?" tanya Aditya menatap kepada anaknya membuat Nabila pun mengangguk.


"Iya, Tante ini calonnya Ayah kan?" tanya Nabila dengan polosnya membuat wajah Fika langsung memerah bercampur bingun, sementara Aditya sendiri hanya melihat ke arah Gantara, Jingga dan juga Fika. Ia tak tahu mengapa anaknya tiba-tiba mengatakan hal tersebut, ia sendiri tak tahu mengapa Fika ikut bersama dengan mereka bahkan ia bertemu Fika baru sekali itupun saat Fika hampir saja membuat miliknya menjadi daging rebus.


"Jadi kapan Ayah menikahi Tanta?" tanya Nabila lagi melihat ke arah Fika, membuat mereka semua masih terdiam tak ada yang menjawab sementara Gantara sendiri yang memiliki ide itu lebih dulu memilih untuk mulai memakan makanan yang sudah dipesan oleh Jingga sebelum mereka datang.


"Nabila, kita makan dulu ya, sepertinya makanannya sudah mulai dingin," ucap Jingga mengalihkan pembicaraan mereka membuat Nabila pun mengangguk dan mulai memakan makanan yang ada di hadapannya, sepanjang mereka makan Nabila terus berbicara pada Fika menanyakan beberapa hal layaknya seorang ibu mertua yang menanyakan hal-hal penting pada calon menantunya.


Nabila seperti menyeleksi apakah Fika cocok untuk ayahnya atau tidak dan semua pertanyaan-pernyataan itu dijawab oleh Fika. Fika bingung mengapa anak itu menanyakan hal itu. Namun, ia tetap menjawabnya, mulai siapa nama orang tuanya, apa pekerjaan ayah dan ibunya, apa pekerjaannya, apakah dia bisa memasak, apakah dia bisa membersihkan rumah dan masih banyak lagi.


Sementara itu Aditya hanya menggaruk kepalanya, ia bingung sendiri dengan apa yang terjadi. Sesekali ia melirik ke arah Gentara yang terlihat menahan tawanya membuat ia mengerti jika semua ini pasti rencana Gantara. Aditya memperhatikan Jingga yang juga seperti mendukung rencana suaminya.

__ADS_1


"Apakah mereka berdua menjodohkan ku dengan anak ini?" batin Aditya yang melihat jika Fika masih seorang gadis muda, dia bisa memprediksi jika usia Fika masih sekitar 20 tahun.


Mereka pun makan dengan lahap, setelah makan Gantara mengajak Jingga untuk berjalan-jalan begitupun dengan Nabila dan kedua anaknya.


Nabila juga langsung setuku untuk ikut bersama dengan mereka, ia mengerti untuk membiarkan ayah dan calon bundanya itu bersama.


"Fika, kamu nanti pulangnya diantar Aditya ya, aku mungkin tak akan ke kantor," ucap Gantara melihat ke arah Fika, kemudian ia melihat ke arah Aditya.


"Aku titip Fika ya, nanti antar ke kantor," ucapnya membuat Aditya hanya mengangguk, Aditya masih bingun dengan situasinya dan tak tau harus berbuat apa selain mengangguk.


Samentara itu di restoran itu keheningan terjadi di antara Fika dan juga Aditya. Fika tadinya yang ingin meminta maaf mengenai jas tersebut tiba-tiba melupakan apa tujuannya menemui Aditya, pikirannya tertuju pada panggilan bunda yang disematkan oleh Nabila. Belum lagi Nabila yang mengatakan jika dia adalah calon istri dari ayahnya, semua itu membuat otaknya sulit untuk berpikir.

__ADS_1


Aditya tak kalah bingungnya, tapi jika diperhatikan Fika memang cantik jika memang Fika mau menjadi istrinya, ibunya juga sudah memintanya untuk terus menikah. Namun, untuk mencari calon istri keduanya, diam seribu bahasa tak ada yang memulai percakapan mereka.


Aditya berdeham membuat Fika yang sejak tadi menunduk pun terlonjak kaget.


"Maaf, aku tak bermaksud untuk membuatmu kaget. Kamu datang ke sini untuk menemuiku, untuk apa?" tanya Aditya membuat Fika pun baru mengingat jika ia sengaja menemuinya dengan sebuah tujuan.


"Oh iya, Pak. Sebenarnya aku meminta untuk menemui Bapak karena aku ingin minta maaf."


"Minta maaf untuk apa?"


"Maaf, Pak. Jas yang seharusnya aku bersihkan dari noda kopi justru jas itu menghilang, Pak."

__ADS_1


"Apa?"


"Maaf."


__ADS_2