
" Apa kau ini suka berpikiran begitu pada laki-laki yang dekat denganmu."
" Maksud saya nggak begitu pak, hanya saya pernah membaca novel dan hal ini sama terus di novel itu wanitanya di apa-apain ikh bapak nggak kayak gitukan. " ucap Syifa khawatir tapi tampak begitu menggemaskan.
Dimas berdiri dan mendekat membuat Syifa ikut berdiri dan mundur.
" Pak jangan buat aneh-aneh ya pak, saya itu masih suci bahkan kecuali Ayah tidak ada lagi laki-laki yang pernah menciumku. " ucap Syifa masih dengan wajah khawatirnya, sedangkan Dimas saat ini sedang menahan tawanya.
Syifa sudah sampai di dinding membuatnya tak bisa mundur lagi.
Dimas menyandarkan kedua telapak tangannya di tembok belakang Syifa. Membuat Syifa bertambah ketakutan.
" Pa-pak jangan gini dong. " ucap Syifa gemetaran, membuat Dimas tak tega mengerjainya lagi dan sudah tak tahan tawanya.
" Hahaha. " Tawa Dimas pecah.
" Syifa muka kamu itu lucu banget sih, ikh pengen cubit... kamu juga tenang aja aku nggak akan berbuat sebelum menikah, lagian kamu berfikiran gitu kan jadi muncul kejahilanku hehehe otak kamu kayaknya udah kotor, udah mesum... " ucap Dimas terkekeh membuat Syifa memerah.
" Bukan gitu pak, tapi ya jaga diri. " ucap Syifa membela diri membuat Dimas tambah gemas sehingga Dimas mencubit kedua pipi Syifa.
" Augh pak... "
" Kau itu menggemaskan. " ucap Dimas mengusap kasar rambut Syifa
" Aish pak kan berantakan. "
__ADS_1
" hehe sudahlah aku pergi dulu. kalau sama kamu mulu bisa-bisa pipi kamu itu nggak kebentuk lagi, aku pergi dulu yah. "
" Iya pak. "
Syifa menatap kepergian Dimas yang semakin menjauh. Bahkan saat punggungnya sudah tak terlihat lagi Syifa masih setia di tempatnya dengan senyumannya.
" Pak Dimas dia membuatku gila. " ucap Syifa akhirnya masuk kamar.
Jam sudah menunjukkan pukul 07.30 Syifa segera meninggalkan apartementnya dan bergegas ke kantor tempatnya bekerja.
Kantor dan apartemen yang memang berdekatan membuat Syifa cukup berjalan kaki hingga sampai di kantornya.
Di depan kantor sudah banyak para karyawan yang berdiri tapi terlihat di sana hanya ada kerumunan perempuan. Sedangkan karyawan pria yang baru datang di perbolehkan langsung masuk.
" Syifaa.... " teriak seseorang yang begitu familiar.
" Anita. "
" Syifa kau sudah datang ayo cepat kemari. " Anita menarik tangan Syifa melewati kerumunan para karyawan di sana.
Mereka saat ini sudah berada di depan barisan kerumunan itu.
Mata dan mulut Syifa terbuka lebar melihat spanduk yang di pengang dua orang pria yang menggunakan pakaian serba hitam.
Spanduk yang bertuliskan 'Karyawan wanita baru boleh masuk setelah minta maaf dengan tulus kepada kedua sekertaris orang penting di perusahaan ini beserta dengan kedua bosnya itu.' selain tulisan itu terdapat pula di samping kedua sisi kanan spanduk ada foto Syifa dan Dimas dan di sisi kiri ada Anita dan Candra.
__ADS_1
" Ini... "
" Katanya pak Dimas mendengar kejadian kemarin. "
" Ha?!! Aduh pak Dimas kenapa harus begini sih. " ucap Syifa mengusap wajahnya kasar.
Tak lama keluarlah Candra dan Dimas.
" Anita Syifa kemari. " ucap Candra membuat Anita dan Syifa menurut.
" Kalian semua coba ulangi ucapan kalian kemarin sore. " ucap Dimas dengan wajah dinginnya.
Semua karyawan wanita itu diam dan menunduk tak ada sekatah patah pun yang keluar dari mulut mereka.
" Kenapa kalian diam saja bukannya kemarin kalian mencemooh mereka. " ucap Candra.
Belum dapat jawaban.
" Kenapa kalian diam saja. " gertak Dimas.
" Kami minta maaf pak. " ucap mereka mulai ketakutan.
BERSAMBUNG
JANGAN LUPA MEMBERI DUKUNGAN DENGAN CARA LIKE COMENT AND VOTE.
__ADS_1