
Candra pun masuk ke dalam kantor dan terlihat gaduh dengan bisikan para karyawan sedangkan Dimas di bantu karyawan lain untuk berdiri.
" Dim loe kenapa? Syifa kenapa? "
Dimas tidak menjawab setelah berdiri dia kembali di dudukkan di bangku tunggu.
Dimas tau keadaanya tidak akan sanggup mengejar Syifa, ia menghungi seseorang.
" Cari Syifa dan pastikan dia baik-baik saja. " ucap Dimas pada seseorang di ponselnya kemudian mematikannya.
" Candra bantuin gua ke atas. " ucap Dimas tanpa peduli tatapan dan bisikan karyawannya fikirannya hanya tertuju pada Syifa.
" Dim ada apa sebenarnya. "
" Gua bodoh. Gua bodoh. " ucap Dimas memukuli dirinya sendiri.
" Loe tenang, cerita pelan-pelan. "
" Syifa marah sama gua, dia benci sama gua. Hiks hiks gua brengsek gua bodoh. " ucap Dimas menangis dengan menyembunyikan wajahnya di balik lipatan tangannya.
" Ya udah loe nangis aja dulu, buang unek unek loe semua. "
" Ini pertama kalinya Dimas nangis karena marahnya perempuan. Dulu dia yang selalu buat perempuan nangis yang tergila-gila dengannya di malu-maluin lah, di marahin lah, sampai mereka nangis dan berhenti ngejar loe, eh giliran suka cewek loe kan yang di buat nangis dapat karma loe Dim... " batin Candra yang berada antara sedih dan ingin menertawai sahabatnya itu.
Sementara itu Syifa tidak langsung ke apartementnya dia menuju tempat yang di sukainya tempat yang lumayan ramai tapi selalu ntah kenapa membuat hatinya damai.
Ya tempat yang selalu di kunjunginya monas, menatap bagunan yang menjulang tinggi ke langit membuatnya terlihat indah di matanya.
__ADS_1
Setelah merasa puas menatap bangunan itu dia segera pergi dari sana dan menuju ke taman tak jauh dari tempat itu.
Berkeliling ke sana kemari mencari tempat yang sepi.
Di tempat sepi yang hanya ada beberapa orang yang lalu lalang, Syifa berjalan dengan menenteng sepatu high heels nya yang hak sebelah kanan patah.
" Hiks hiks gua nggak nyangka Pak Dimas bisa seperti itu, perlakuannya selama ini buat gua nyaman tapi tadi dia benar-benar buat gua takut hiks hiks.. gua benci gua benci. " ucap Syifa kini duduk di tanah dekat pohon dan bersandar di batang pohon besar itu.
" Dia itu emang brengsek kenapa gua nggak sadar di balik kebaikannya pasti ada maunya."
Setelah merasa cukup lama hari juga sudah mulai petang Syifa pulang tanpa menggunakan alas kaki.
Sampai di apartement Syifa membersihkan diri karena merasa lelah Syifa tertidur dengan menggunakan kimono handuk.
Di tempat Dimas.
" Kak kenapa nggak makan? "
" Hmm nggak nafsu. "
" Sayang ada masalah yah,cerita sama Mamah. "
Dimas menatap Mamanya kemudian menggeleng.
" Papa dengar dari cerita karyawan kamu berantem sama sekertaris kamu. Apa itu bener?"
" Iya."
__ADS_1
" Kakak apain calon kakak ipar?!!" tanya Diana melototi kakaknya itu
" Diana dia bukan calon istri kakakmu. "
" Tapi Diana maunya kak Syifa yang jadi kakak ipar Diana. " ucap Diana tetap kekeh pada pendiriannya. " Jadi kak Dimas apai?"
Dimas tak menjawab dia malah pergi meninggalkan keluarganya tanpa makan malam.
" Yak!!! kak Dimas."
Dimas masuk dan mengunci pintu kamarnya ia terus kepikiran Syifa, ia takut Syifa kenapa-napa, ia begitu terluka melihat Syifa menangis ketakutan melihatnya. Ketakutan,kebencian sangat jelas tersorot di mata Syifa padanya.
" Maafin aku Syifa, maaf... "
Keesokan harinya...
Pagi ini Syifa sengaja bermalas-malasan ia akan ke kantor setelah jam makan siang.
Syifa yang biasanya selalu bergerak cepat kini bisa bersantai ia menatap dirinya di pantulan cermin.
Dengan baju yang menampilkan pundak dan leher putihnya ia melihat beberapa tanda merah hasil karya Dimas.
" Memalukan sekali kemarin dia sempat menarik bajuku ternyata dan membuatnya di sana. Leher gua untung kemarin tersembunyi dengan rambut kalau dia buatnya di depan aishh gua malu banget. " ucap Syifa mengingat kejadian kemarin.
" Dia udah ngambil ciuman pertama gua, malah pake ciuman kasar lagi sampai berdarah lagi dasar brengsek. "
Syifa mengambil foundation sesuai warna kulitnya dan menutupi bekas gigitan Dimas.
__ADS_1
Selesai dengan itu Syifa memilih untuk menonton tv menghilangkan rasa jenuh.