BERAWAL DARI MONAS

BERAWAL DARI MONAS
SYIFA KERACUNAN


__ADS_3

Sesuai kesepakatan Syifa membantu Dimas untuk kerjasamanya dengan Rian dan hari ini adalah pertemuan mereka kembali.


" Apa kalian semua sudah siap. "


" Iya pak. "


" Kalau gitu kita berangkat sekarang. "


Baru saja mereka keluar dan hendak masuk mobil. Seorang wanita berteriak membuat mereka mengalihkan pandangan.


" Hay sayang, kamu mau pergi mana? Aku kan baru datang kok mau pergi sih. " Gina bergelayut manja di lengan Dimas.


Syifa, Anita dan Candra hanya menatap malas Gina, setiap hari mereka harus melihat kecentilan Gina.


" Ketemu klien. " ucap Dimas dingin menepis tangan Gina.


" Aku ikut yah. " ucap Gina.


" Boleh tapi loe duduk di atas aja soalnya udah penuh. " ketus Anita.


" Dih gua nggak minta jawaban loe. "


" Emang benar udah penuh, loe nggak usah ikut, udah nggak guna nyusahin lagi. " sinis Candra.


" eh loe lupa siapa gua ha!!! Lagian kalian berempat mengelilingi doang kan itu kursi belakang masih ada. "


" Gina cukup mendingan loe pulang. "


" Kalau dia ada aku nggak mau pergi. " ucap Gina menunjuk Syifa.


Gina tau Dimas menyatakan perasaannya di depan semua orang sehingga membuatnya marah dan berusaha untuk terus mendekati Dimas.


Syifa yang di tunjuk hanya diam. Gina yang terus minta untuk ikut akhirnya mereka berlima pergi daripada harus menghabiskan waktu tak berguna dengan ocehan Gina.


Mobil di bawa oleh Candra dan di sampingnya ada Anita, di kursi belakang pengemudi terdapat Dimas dan Gina dan di kursi paling belakang ada Syifa.


Dimas melihat Syifa yang berada di belakang dengan cermin yang berada di depan. Syifa yang seakan menyadari itu menatap ke depan dan pandangan keduanya bertemu lewat cermin itu.


Dimas dan Syifa terdiam dengan saling menatap satu sama lain, dan sepertinya Candra yang menyadari itu dengan jahilnya mengarahkan cermin itu ke arahnya.


Seketika pandangan keduanya teralihkan dan Candra menahan tawanya melihat keduanya.


Ddrrtt...


" Ponsel siapa itu? Candra itu punsel loe nggak? "


" Bukan. "


" Ponsel saya pak Rian nelfon. " ucap Syifa.

__ADS_1


" Kenapa nelfon ke kamu. " tanya Dimas membuat Syifa mengangkat kedua bahunya tanda tak tahu.


" Iya halo ada apa? " ucap Syifa tanpa basa basi.


" Buset dah mentang-mentang temen langsung gitu. " ucap Anita.


"....."


" Ohh bentar lagi kita sampai. Kak Rian masuk aja dulu. "


" ..... "


" Hmm iya kita ada 5. KEKASIHNYA bos ikut. " ucap Syifa menekan kata kekasih spontan Dimas menoleh menatap Syifa.


" Bagus kalau loe tau itu. Jadi jahuin kekasih gua. " sinis Gina.


" ...."


" Iya bentar lagi. harusnya bukan saya kak Rian telfon. "


"......"


" Iya ." Syifa mematikan telfon.


" Katanya mereka udah nyampe. "


Sesampainya di tempat tujuan kelimanya berjalan menuju ruangan VIP yang sudah di pesan. Di sana sudah ada Rian asisten dan sekertarisnya.


Rapat berjalan dengan lancar Dimas dan Syifa mampu menjawab segala pertanyaan yang di ajukan dari pihak Rian begitu juga sebaliknya.


" Huh akhirnya selesai. " gumam Syifa setelah mereka saling berjabat tangan.


" Baiklah silahkan nikmati makan siangnya. "


" Sayang aku mau makan itu ambilin dong. " manja Gina.


" Loe punya tangan kan. " ucap Dimas dingin.


" Syifa kamu mau makan apa. " kompak Rian dan Dimas.


Hening...


" Saya permisi, saya mau makan di luar saja. " ucap Syifa berdiri.


" Aku ikut. " kompak Rian dan Dimas.


" Nggak boleh aku mau sendiri."


"Tapi Syif..."

__ADS_1


"Jangan ada yang ikut titik. " Tegas Syifa pergi.


" Nurut aja kenapa sih. " ucap Candra mencairkan suasana karena melihat kedua makhluk di depannya masih menatap pintu berharap di panggil Syifa.


Keduanya saling menatap sekilas kemudian menurut untuk duduk.


" Cih dia itu selalu saja mencari perhatian, awas aja selama ini gua udah baik diem dengan sifatnya yang munafik. " batin Gina geram.


" Sayang aku ke toilet dulu yah. " ucap Gina tapi tidak mendapat respon apapun.


Gina keluar dari ruangan itu dan menuju tempat umum. restoran itu tidaklah terlalu ramai, Gina melihat Syifa yang sedang bermain dengan ponselnya, duduk sendirian di salah satu meja.


" Awas aja loe. " geram Gina.


Seorang pelayan mendekati Syifa dan memberikan makanan yang di pesannya sebelumnya.


" Silahkan di nikmati. " ucap pelayan.


" Makasih. "


Syifa memakan makanan yang di depannya dan Gina tersenyum puas dengan itu.


" Dalam hitungan menit liat aja bagaimana loe bisa selamat. "


" Aduh kepalaku pusing banget. " ucap Syifa yang penglihatannya mulai remang-remang.


Bruukk...


Gina tersenyum smirk melihat Syifa sudah tak sadar ia segera pergi dari sana sedangkan para pelanggan dan pelayan berkerumunan menolong Syifa.


" Ayo bawa ke rumah sakit. " ucap salah satu orang di sana.


Gina kembali dan duduk di tempatnya kembali dengan wajah bahagia. Tapi tentu saja tak ada yang peduli.


" Ya sudah kalau gitu kita permisi. " ucap Dimas setelah makanannya selesai.


Mereka semua pun keluar ruangan dan mencari keberadaan Syifa.


" Syifa kemana. "


" Coba tanya pelayan ada yang liat nggak. "


Anita mengganguk kemudian mendekati salah satu pelayan. Tak berselang lama ia segera kembali dengan perasaan panik.


" Pak pak katanya Syifa pingsan ada busa yang keluar dari mulutnya kayaknya keracunan sekarang, Syifa di bawa kerumah sakit XXX. "


" APA!! KERACUNAN. " kompak mereka kecuali Gina dan Anita.


" Kita ke sana sekarang. " Dengan cepat mereka meninggalkan restiran dan menuju rumah sakit yang di maksud.

__ADS_1


" Ada apa dengamu Syifa. " batin Dimas cemas.


__ADS_2